
Saat ini hanya tersisa Emily dan Leon di kamar. Keterdiaman Leon membuat Emily enggan memulai perbincangan. Apalagi tatapan pria itu padanya seperti tidak menyukainya.
"Sedang apa kau di situ? Pergilah! aku ingin istirahat."
"Tapi aku--"
"Aku bilang pergi, tinggalkan aku sendiri."
Emily menatap datar dan kesal karena dirinya di usir begitu saja. "Dia kembali seperti Leon yang sebenarnya. Tetap menyebalkan," batin Emily.
Gadis itu kemudian keluar dan memutuskan mencari Joya, hanya gadis pelayan itu yang mengerti dengan perasaannya. Saat ini, dia butuh orang untuk menguatkannya. Beban di hati dan banyaknya masalah membuat seluruh tubuhnya terasa sangat lelah. Kepalanya terus saja berfikir, jika Leon sudah sadar, lalu bagaimana dengan pria itu, apa dia akan terus mengganggu Emily setiap malam atau kah dia akan berhenti karena keadaan yang sudah berubah.
"Aku bisa gila," gerutunya.
Tidak memiliki teman membuat Emily susah untuk menentukan keputusan mana yang harus dia ambil, setidaknya ada yang melarangnya jangan melakukan ini atau ada yang menyemangatinya harus sekuat apa. Namun, yang dia miliki sekarang di dekatnya adalah seorang pelayan yang terkadang sangat dungu.
__ADS_1
"Joya, apa aku bisa bertanya padamu?"
"Si Pierda."
Emily membuang napas pelan. Ia tidak yakin jawaban Joya akan menenangkannya tetapi setidaknya, dia bisa sedikit melepas beban dengan bertanya kepada seorang teman. "Jika kau berada di posisiku sekarang, apa yang akan kau lakukan. Tetap menjalani semua ini, atau lebih baik melarikan diri?"
Seketika Joya menaruh gelas yang ada di tangannya. "Nona muda, apa yang kau katakan. Kenapa kau ingin lari, bukankah keluarga Mugel sangat menyayangimu."
Emily bersandar dengan wajah cemberut. "Hanya Daddy, Leon bahkan membenciku, apalagi ibunya."
Emily berdecak tawa. "Apa kau tahu, sejak dulu dia tidak menyukaiku. Aku dan dia selalu saja bertengkar. Banyak hal yang membuat kita tidak cocok. Terakhir kali, kami bertengkar karena Daddy memaksanya untuk menikahiku."
Joya tertawa mendengar betapa lucunya hubungan Kedua majikannya itu.
"Nona muda, ada banyak hal bahagia yang lahir dari ketidak cocokan. Bahkan banyak pasangan yang sampai sekarang masih bertahan itu lahir dari pertengkaran yang terus menerus."
__ADS_1
Joya menyeduh teh untuk Emily dan memberikannya. "Jika kau yakin dia adalah jodohmu, maka bertahanlah, tetapi jika tidak kau bisa melupakannya dan menjalani hidup yang baru. Jangan terus membebani pikiranmu dengan hal-hal yang belum tentu akan terjadi."
Emily di buat tergagap dengan cara Joya menanggapi pertanyannya. Dia benar-benar tidak menyangkah, beban hidup akan membuat orang menjadi lebih dewasa.
"Aku sangat takjub dengan cara berfikirmu, tetapi aku dan Leon memiliki kepribadian yang sangat jauh dari kata romantis. Jadi aku sangat yakin jika dia bukanlah jodohku."
"Bukankah kau belum mencobanya, lalu bagaimana bisa kau tahu jika dia bukan jodohmu."
Emily menunduk berfikir sejenak, yang di katakan Joya memang benar. Dia sama sekali belum mencobanya, lalu bagaimana bisa dia tahu.
"Aku pernah sangat menyukainya dulu. Namun, dia menolaknya tanpa tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Dia mengatakan jika tidak akan pernah menyukaiku, bahkan untuk menjadikanku sebagai adiknya itu mustahil." Emily mengangkat wajahnya menatap Joya dengan pendar mata yang berkilau. "Apa aku harus tetap bertahan di dekat orang yang sama sekali tidak menginginkanku?"
"Nona, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa sedih." Wajah sedih Emily membuat Joya merasa sangat bersalah.
"Katakan padaku Joya. Apa yang harus aku lakukan. Apa aku tetap harus mencobanya?"
__ADS_1
Joya tidak menjawab, pelayan wanita itu meraih tubuh majikannya dan memeluknya. Dan Emily, tangisannya pun pecah, ia membalas pelukan Joya dengan erat. Menumpahkan semua kesedihannya di dalam pelukan pelayan itu.