
"Ku dengar Tuan mudamu itu sudah sadar. Ternyata dia orang yang telah merampas sertifikat tanah milik ibuku dan memberikannya kepada istri jeleknya ini."
"itu milik ku."
"Yea, kau bisa mengatakan itu sekarang. Tapi kenyataannya sertifikat yang ada padamu adalah palsu bukan. Dan suamimu telah merampas surat aslinya dari ibuku."
"Jadi untuk itu kau datang padaku?"
Penelope menaikkan satu alisnya. "Aku penasaran, seberapa hebatkah Suamimu itu hingga mampu membuat ibuku itu tidak berkutik."
Emily menyunggingkan senyuman licik "Hentikan omong kosong mu ini dan keluarlah sekarang juga dari kamarku."
"Kenapa? Apa aku tidak bole berada di dalam kamar Saudaraku sendiri," ujar Penelope seperti menantang Emily untuk terus berdebat.
"Saudara? Apa kau lupa. Kita sudah memutuskan hubungan itu cukup lama. Lagi pula sekarang aku sudah berkeluarga dan sangat tidak pantas kau masuk tanpa ijin seperti ini." Emily mengucapkan kata-kata itu dengan begitu tegas dan tanpa ragu.
Namun, sepertinya itu tidak berpengaruh untuk Penelope. Gadis itu tertawa keras mendengar ucapan saudara sepupunya. "Suamimu bahkan tidak menganggapmu, lalu untuk apa kau merasa risih jika ada wanita lain yang masuk di kamar ini."
__ADS_1
"Cukup! Dan keluarlah sekarang juga!"
Penelope semakin tertawa keras. "Pria yang kau anggap suami itu memiliki wanita lain yang dia cintai. Apa kau tidak tahu? Owh..." Ia melangkah dengan anggun mendekati telinga saudaranya. "Atau mungkin kau tahu tapi pura-pura mengabaikannya agar tetap hidup dalam kemawahan keluarga Mugel."
Emily melirik dengan sangat tajam. "Itu bukan urusanmu. Dan Jika kau sudah selesai maka keluarlah. Pelayanku akan mengantarmu sampai di depan pintu gerbang Mansion. Dan ingat jangan pernah kembali ke sini lagi."
"Apa kau takut? Wajahmu terlihat pucat."
"Joya!"
"Aku di sini Nona."
"Antarkan dia keluar. Dan pastikan orang gila ini tidak bertemu dengan siapapun di rumah ini. Antarkan dia sampai di depan pintu mobilnya."
"Si, Nona."
Joya dengan sigap melakukan perintah Emily untuk mengeluarkan Penelope dari dalam kamarnya. Namun, sebelum ia menyentuhnya Penelope sudah memberikan peringatan.
__ADS_1
"Berhenti di situ. Jangan coba-coba menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Dasar pembantu sialan. Apa kau tidak malu mendaptkan perintah dari si miskin ini. Dia tidak pantas menjadi nyonya di rumah ini. Dia pantas menjadi babu seperti kalian."
"Maaf nona. Silahkan keluar. Kau hanya mengganggu ketenangan majikanku. Sia-sia saja usaha Tuan muda untuk menyenangkan Nona jika kau terus seperti ini. Jadi keluarlah, sebelum Tuan muda kembali," gumam Joya dengan wajah kesal. Tentu saja ia tidak akan membiarkan siapapun menykiti Emily.
Penelope menghentakkan kakinya dengan keras. "Atas dasar apa pelayan rendahan sepertimu menasehatiku huh? Bahkan wanita yang pernah di penjara ini pun tidak pantas menasehatiku." Dia melirik ke arah Emily dengan tatapan jahat.
"Perhatikan ucapanmu Penelope, jangan sampai kau menyesal nantinya."
Kali ini Emily mengatakan dengan begitu tegas dan tajam hingga benar-benar membuat Penelope menutup mulutnya. Gertakan Emily memang tidak ada apa-apanya bagi Penelope. Namun, mengingat siapa orang di balik dirinya membuat Penelope mengurungkan niatnya untuk lebih menghina saudaranya itu.
"Berikan Sertifikat itu dan aku akan pergi." Sambil mengatakan itu, ia berpidah dan duduk pada sofa berwarna abu-abu yang ada di belakangnya.
"Kau tidak waras. Datang tanpa di undnag dsn memaksa untuk meminta yang bukan milikmu. "
Emily sudah sangat tidak bisa menahan diri untuk membalasnya. Ia Melangkah cepat menarik Penelope berdiri lalu menatapnya dengan napas menggebu-gebu. Penelope adalah orang yang tidak akan puas jika keinginannya tidak terpenuhi. Jika terus membiarkan dia di sini, maka akan semakin sulit menyeretnya keluar. Maka dari itu, ia harus melakukannya sendiri. Namun, sebelum ia menyeretnya, sesosok yang sangat tidak ia harapkan muncul dari arah pintu.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?"
__ADS_1