
"Sepertinya rambut ku sudah kering."
Emily tahu jika rambutnya masih basah. Ia hanya sekedar basa basi agar Leon bisa berhenti mengeringkan rambutnya. Sangat malu rasanya kalau seperti ini, apalagi hubungan nya dengan Leon baru saja membaik beberapa hari ini.
"Sedikit lagi. Ini masih basah."
"Kalau begitu biar aku saja," ujar Emily.
Ia meraih pengering rambut dari tangan Leon. Namun, pria itu menepis dengan menahan tangan nya agar tidak menyentuh pengering rambutnya.
"Hati-hati Emily, ini panas. Tangan mu bisa melepuh."
Kalimat barusan itu membuat Emily semakin merasa canggung. Lagi-lagi Leon memberi perhatian yang membuat gadis berambut panjang itu menjadi terus salah tingkah. Memikirkan bagaimana pria itu berdiri di belakangnya sambil menyentu tiap helai rambutnya, bahkan ia merasa sedikit bergetar tatkala tanpa sengaja tangan Leon menyentuh lehernya.
Dalam hati wanita itu berharap, semoga Leon tidak menyadari jika ia sangat tidak nyaman dengan posisi seperti ini.
"Ada apa?"
__ADS_1
Emily mengerutkan kening tidak mengerti.
"Apa kau merasa tidak nyaman dengan ini?"
Emily terkejut. Baru beberapa menit yang lalu ia memikirkan hal ini, sekarang sudah tertangkap basah. Itu karena baru saja Leon kembali tidak sengaja menyentu telinganya dan ia langsung melakukan gerakan seperti ingin menyekanya tapi di lakukan dengan bahunya bukan tangan. Seperti ingin menyentuhnya, tetapi karena malu ia refleks menggerakan bahu untuk menyentuh kupingnya. Bayangkan saja, gerakan seperti itu memang sangat canggung.
"Ti-tidak."
"Apa canggung?"
Emily tidak tahu harus menjawab apa, karena semua yang di tanyakan Leon sedang ia alami sekarang. Gadis bermanik hitam itu Berfikir sejenak kemudian menjawab.
"Aku juga."
Keduanya tidak sengaja secara bersamaan menatap cermin pada meja rias. Seketika itu mereka tertawa bersama-sama. Sungguh lucu. Bahkan sudah beberapa tahun kebersamaan mereka, baru kali ini Leon tertawa lepas bersamanya.
"Ini sudah kering."
__ADS_1
"Ah baiklah. Terima kasih. Aku harus mengganti pakaian." Emily merapikan rambutnya lalu dengan malu-malu melangkah menuju ruang ganti. Sedari tadi ia hanya memakai bathrobe.
"Aku juga harus mandi." Tanpa ada rasa malu Leon membuka kaos dalam miliknya. Padahal saat itu, posisi Emily belum masuk ke ruang ganti.
Sebelumnya Emily meninggalkan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut di dekat meja riasnya. Namun, saat ia berbalik ingin mengambilnya. Dada berotot dengan garis kotak yang cukup terlihat itu tiba-tiba muncul di depannya.
Meskipun dulu, saat Leon koma dia sudah pernah melihat bahkan menyentuhnya. Namun, kali ini dalam suasana yang berbeda. Dulu Leon tidak sadarkan diri, tetapi sekarang pria itu dengan sadar melakukannya. Penampilannya lebih baik dari pada ketika dia terbaring di tempat tidur.
"Astaga! Maaf, aku tidak sengaja." Wajah Emily yang merah tertunduk malu.
Melihat Emily yang menunduk dengan wajah merah, Leon menyunggingkan senyum tipis. Tujuannya agar rasa canggung antara keduanya bisa hilang, malah membuat istrinya menjadi malu dan semakin merasa canggung.
"Mulai hari ini, matamu harus terbiasa dengan tubuhku."
Setelah mengatakan itu, Leon melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Emily yang berdiri kaku.
"Apa maksudnya tadi? Apa setiap hari dia akan membuka bajunya di hadapan ku atau dia akan..." Emily menjeda kalimatnya, ia malah memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan membuka baju, namun sangat sensitif.
__ADS_1
"Oh tidak! No! Tidak mungkin dia akan melakukannya." Buru-buru ia melangkah menuju ruang ganti. Membuang jauh-jauh pikirannya tentang hal sensitif itu. Ia takut jika itu benar-benar terjadi dan dia pun belum siap untuk melakukannya.