Rine And Shine

Rine And Shine
14. Awal kehidupan baru.


__ADS_3

Setelah selesai melakukan tugas membersihkan Leon, Emily keluar dari kamar tuan mudah koma itu. Ia benar-benar malu menghadapi pria berotot indah itu. Meskipun Leon sama sekali tidak sadarkan diri, tetap saja dia adalah seorang lelaki dan Emily adalah wanita yang normal. Ketika Emily baru saja akan keluar, ia kaget karena mendapati Romario yang sedang menunggunya di depan pintu.


"Daddy?"


"Hari ini pertama kalinya kau mengurus Leon, bagaimana, apa lancar?"


"Ini memalukan."


"Ahahaha." Romario tertawa kecil. Jelas saja Emily akan malu, pria yang ia layani sekarang dulu adalah saudara angkatnya. "Kenapa? Bukankah kalian sekarang adalah suami istri."


Emily mengangguk, tetapi tiba-tiba dia kembali mengingat tubuh Leon yang baru saja ia bersihkan. Sangat tampan dan penuh godaan. "Meski begitu, seharusnya Daddy yang melakukannya. Jika Leon sadar dan dia tahu aku melakukan itu padanya. Dia pasti akan memarahiku."


"Itu bukan masalah, kau akan terbiasa dengannya. Daddy yakin ketika Leon sadar, dia juga akan menerima mu dengan baik."

__ADS_1


"Ya, aku mengerti."


"Oh yah." Tiba-tiba saja Romario mengingat sesuatu. "Buku nikahmu dengan Leon, Daddy sudah menyuruh Joya untuk meletakannya di kamarmu, dia juga sedang membereskan barang-barang mu untuk di pindahkan ke kamar ini."


Emily menggelengkan kepalanya keras. "Maksud Daddy aku dan Leon akan tinggal sekamar?"


"Si. Apa kau keberatan?"


Emily menunduk lemas, ia pikir hanya akan memandikan dan menjaga Leon saja ternyata dia dan pria dingin itu harus tidur sekamar dan tentu saja akan seranjang. Emily membatin membayangkan jika tiba-tiba saja Leon bangun dan mengusirnya. "Oh Tuhan, ini benar-benar bencana besar," gumamnya pelan. Nyaris tidak terdengar oleh Romario.


"Huh!" Gadis itu terhentak kaget dari lamunannya menatap bingung kepada Romario.


"Kau baik-baik saja Sayang?"

__ADS_1


"Si-si Daddy."


Romario mengacak asar rambut Emily, biasanya ia akan melakukan jika gadis itu sedang bermanja. "Terima kasih Emily, kau sudah banyak menderita. Namun, masih mau membantu kami. Romario sangat senang dan semakin bangga dengan kepribadian Emily. Gadis kecil ini memang selalu terlihat tenang dan ceria. "Hari ini kau harus mempelajari cara memijat, apa kau sudah tahu."


Emily mengerutkan kening. "Memijat?"


"Oh, itu dia." Romario menyambut kedatangan tukang pijat yang di tugaskan khusus untuk merawat oto tubuh Leon. "Dia akan mengajarimu memijat, masuklah."


"Si." Emily mengangguk, mengikuti apa yang di perintahkan Romario. Menolak juga tidak ada gunanya, lebih baik dia fokuskan diri untuk menyembuhkan Leon. Mungkin saja, ketika pria itu bangun ia di nyatakan tidak bersalah dan bisa bebas pergi jauh dari tempat ini.


Saat tukang pijat melihat kedatangan Emily, ia langsung mempersilahkan gadis itu untuk duduk di sampingnya, memperhatikan apa yang ia lakukan. Emily duduk bersama, menyaksikan bagaiman cara wanita itu memijat Leon, ia mengamati otot-otot Leon yang di pijat dengan gerakan sangat lincah. Sungguh luar biasa ia melakukannya, meski tubuh Leon sudah 2 tahun koma. Namun, otot-ototnya masih terlihat segar dan baik-baik saja.


"Apa pijatan ini sungguh berguna?" Emily bertanya karena sangat penasaran.

__ADS_1


"Si, Nona. Aku sudah melakukannya selama dua tahun ini kepada Tuan muda, dan sampai sekarang otot tubuhnya masih terlihat segar dan baik-baik saja. Namun, entah kenapa Tuan mudah belum juga bangun. Padahal, sudah banyak trik pijat yang aku gunakan padanya. Itu selalu berhasil ketika aku melakukannya untuk orang lain."


"Mungkin saja dia belum ingin bangun," ujar Emily datar, tanpa senyum dan terasa dingin.


__ADS_2