Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 37


__ADS_3

"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan tadi, apa kau ingin kembali ke penjara? Seharusnya kau berdiam di tempatmu."


"Aku hanya ingin mereka tahu jika aku tidak selemah yang mereka kira."


"Jadi mereka menjual rumahmu?"


Emily menunduk lemas dengan pertanyaan itu.


"Kenapa kau tidak mengatakannya kepada Daddy sejak awal. Jika bukan karena aku, kau tidak bisa mendapatkan rumahmu kembali."


Sekelebat dia mengangkat wajah dengan kasar. "Apa maksudmu?"


Leon menyeringai dengan menaikkan sudut bibirnya. "Lain kali, kau harus mengatakan jika kau sedang dalam kesulitan, tidak ada orang jahat yang akan tinggal serumah apalagi tidur di atas satu ranjang." Leon membuang sertifikat rumah yang baru saja dia ambil kembali dari Catalina dan berlalu pergi setelah mengatakan kalimat singkat itu.


Emily dengan ragu-ragu mengambilnya dan melihatnya. Ternyata itu surat rumah miliknya, rasa haru dan bahagia menyelimutinya karena rumah itu sudah kembali lagi menjadi miliknya. Dan yang mencengangkan, ternyata surat yang Emily miliki adalah palsu. Jadi, saat ayahnya masih hidup Catalina menukar surat-surat itu dan memuat salinannya. "Apa dia berniat mencuri semua harta milik Ayah dari sebelum mereka meninggal? Oh God! ini tidak dapat di percaya, Bibiku adalah pembunuh berdarah dingin." Emily merinding membayangkan wajah Polos Bibinya saat mengatakan dia menyayanginya. Itu hanya sandiwara saja.


"Apa dia mendatangi Bibi ku dan mengambil ini? Dia memberikannya begitu saja?" tanya Emily pada dirinya sendiri karena merasa penasaran bagaimana bisa Leon melakukannya dalam waktu beberapa jam. Ia menyimpan semua pertanyaan itu dan akan mengungkapkannya saat Leon kembali lagi dari ruang kerja. Rona bahagia tidak lepas dari wajah gadis itu, sungguh ini adalah hal mustahil yang tidak berani ia hayalkan. Leon membantunya tanpa dia meminta.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu dan Leon belum kembali, membuat Emily menunggu dengan sedikit gelisah.


"Kenapa dia sangat lama."


Emily menunggu Leon untuk bertanya. Namun, sepertinya pria itu sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Emily sedikit merasa gugup dengan keadaan kamar yang tiba-tiba menjadi sangat dingin dan menyeramkan. Seperti merasa dejavu, akhirnya Emily memutuskan untuk keluar. Namun, Saat Emily ingin melangkah, seketika bayangan itu lewat dan lampu kamar menjadi mati. Tubuh Emily terdorong ke pintu dengan sangat kasar oleh tangan yang tiba-tiba berada di lehernya.


"Jadi, sekarang kau sudah bisa mengandalkan suami cacatmu itu?"


"Le-lepaskan!"


Emily berusaha melepas cengkeraman di lehernya. Namun, tekanan pria itu sangat kuat hingga ia tidak bisa meregangkan tangannya. "Lepaskan, apa kau ingin membunuhku."


"Sangat mudah untuk melakukannya, tetapi membunuhmu sebelum menikmati mu itu akan sangat merugi"


Mendengar itu Emily langsung naik pitam. Dia menggigit tangan pria itu hingga cengkeraman di lehernya terlepas.


"Aaah!" Beraninya kau menggigitku.

__ADS_1


"Menikmati?" Emily mengulangi kalimat pria asing itu yang membuatnya geram. "Kau pikir kau siapa. Tiba-tiba kau datang menggangguku dan mengatakan akan menikmatiku?" Emily dengan kasar penampar pria itu. "Kau atau siapa pun tidak berhak atas diriku, aku bukan barang yang bisa kalian atur sesuka hati kalian. Memangnya siapa kalian."


Emily berteriak dengan keras hingga memancing suara langkah kaki dari luar kamar. Berfikir jika itu Leon, Emily mendorong tubuh pria hingga menabrak ujung meja kaca yang ada di dalam kamar. Entah dia terluka atau tidak. Namun tanpa berbicara, ia menatap dingin ke arah Emily dan dengan cepat pria itu menghilang dan meninggalkan Emily yang sedang bersiap jika saja yang datang adalah Leon.


"Pierda! Ini aku Joya. Apa anda baik-baik saja. Aku mendengar suara teriakanmu."


Napas legah keluar dari dalam mulut Emily. Ternyata itu adalah Joya, pendengarannya selalu saja peka terhadap apa yang terjadi di dalam kamar. Emily beranjak melangkah untuk membuka pintu.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit bermimpi."


Joya melirik ruangan kamar tidur yang sangat gelap. "Nona, seharusnya anda menyalakan lampu. Kamar ini terlalu gelap, jika mungkin lampunya terlalu terang anda bisa menyalakan lilin aroma yang biasa di gunakan tuan muda untuk menerangi kamar saat tidur."


"Si, kembalilah tidur. Aku baik-baik saja."


Joya mengerti, gadis kecil itu menunduk memberi hormat sebelum meninggalkan Emily.


Emily sedikit gugup, dia takut jika menyalakan lampu akan memperlihatkan kekacauan di dalam kamar yang di buat pria itu. Untuk itu dia sengaja membiarkan lampu mati saat membuka pintu tadi. Setelah Joya sudah terlihat menjauh, Emily menutup pintu dengan cepat lalu menyalakan lampu dan melihat bagian meja kaca yang di tabrak pria tadi. Ternyata benar, pria itu terluka, karena lantai di bawah mejanya menyisahkan beberapa tetes darah. Dengan cepat Emily membersihkan itu agar Leon tidak melihatnya. Ia kembali ke pembaringan setelah kondisi kamar kembali seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2