
"Emily! Kau sudah bebas?"
Emily berdecak dengan rahang yang mulai mengetat. Deretan giginya bahkan hampir beradu karena amarah yang kian memuncak. "Apa kabar bibi Catalina. Apa kau merindukan ku?"
Catalina menatap keponakannya dengan ekspresi yang sangat aneh, mulut dan mata wanita tua itu terbuka lebar dengan tangan yang bergetar. "Tidak mungkin."
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bibi Catalina, dan kedatanganku hari ini adalah untuk menanyakan ketidakmungkinana yang kau buat menjadi mungkin." Tatapan Emily begitu dingin, tidak ada yang tahu betapa marahnya dia sekarang, bahkan ingin sekali melahan habis tubuh wanita tua yang berdiri di hadapnya.
"A--apa mksudmu Emily. Bibi tidak mengerti."
Emily tertawa hambar. Langkah gadis itu maju satu demi satu sambil melihat seluruh sisi ruangan utama milik bibi Catalina. "Rumahmu sungguh mewah, berbeda dengan waktu terakhir aku dan kedua orang tuaku berkunjung."
"Yah, aku mengubahnya sedikit," jawab Catalina gugup.
"Sedikit?" Emily sontak tertawa keras. "Apa kau merubahnya dengan uang hasil menjual rumahku? Berapa banyak yang sudah kau habiskan, apa semuanya?" ucap Emily penuh penekanan juga emosi.
__ADS_1
"Gadis kecil yang malang, apa maksudmu dengan ua-- akgh!"
Tangan kecil itu mencekik keras pada leher Catalina. "Jangan pura-pura seakan kau tidak melakukan kesalahan, kau benar-benar wanita mengerikan yang tidak punya hati! Kenapa kau menjual rumah itu, kenapa!!"
"E-Emily, lepaskan. Apa yang kau lakukan," ujar Catalina terbata. Tenggorokan wanita itu tercekat hingga susah untuk berkata.
"Bagaimana bisa kau menjual harta peninggalan orang tuaku, itu adalah harta satu-satu yang ku miliki. Apa belum cukup ayahku memberi semua kekayaannya padamu? Apa hidupmu masih belum cukup dengan semua itu hingga kau harus mengambil milikku?" Tangan Emily terlepas dari leher Catalina di ikuti dengan deraian air mata yang jatuh membasahi pipi gadis belia itu. "Kembalikan rumahku! Kembalikan!"
Catalina berdiri tegak setelah terhempas hingga terjatuh ke lantai. Ia menetralkan kembali napasnya. "Rumahmu? Itu rumah saudaraku, aku berhak menjualnya. Lagipula, bukankah kau sudah hidup senang bersama keluarga Romario, bahkan setelah kau mencelakai anaknya dia masih berbelas kasih padamu." Catalina melirik ke luar jendela. Di bawah sana, ia melihat supir pribadi keluarga Mugel. "Tenyata, kau masih bersama keluarga menyebalkan itu," batin Catalina.
Emily berdecak tawa dengan air mata yang kembali jatuh. Wanita tua yang dia anggap bibinya, yang selalu dia hormati, yang dia anggap sebagai ibu kandungnya, tega menelantarkannya karena takut dia akan harta yang ayahnya berikan di ambil kembali. Demi kekayaan yang tidak abadi, Catalina menjadi seseorang yang mengerikan.
"Itu adalah milikku, ayahku memberikannya padaku dan kau tahu itu. Bahkan semua surat tertulis atas namaku. Lalu bagaimana bisa kau memalsukan semuanya da menjualnya kepada pria itu. Apa kau tidak memiliki hati? Aku ini anak dari saudaramu. Teganya kau melakukan semua ini padaku bibi Catalina." Emily berteriak dengan keras hingga mengundang beberapa orang berdatangan di depan rumah bibi Catalina.
"Pelankan suaramu Emily, apa kau ingin semua orang mengira aku adalah wanita yang jahat yang tega menelantarkan keponakannya sendiri?"
__ADS_1
"Lalu apa aku harus menjunjungmu dengan semua yang sudah kau lakukan ini?" tanya Emily dengan nada kasar. "Mungkin aku bisa bisa terima jika kau tidak ingin merawatku dan membiarkan Keluarga Mugel mengambil alih hak asuhku, tetapi aku tidak akan diam jika kau menjual rumahku. Kembalikan, atau aku akan membuat kau menyesal karena sudah merampasnya dariku."
"Ha-ha-ha-ha! Emily ... Emily. Kau terlalu pintar bicara Sayang. Rumah itu sudah terjual, tidak ada yang bisa bibi lakukan selain memaksamu untuk merelakannya. Kembalilah, aku sedikit sibuk. Tidak ada waktu melayani anak kecil sepertimu."
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau membatalkan surat jual beli itu. Itu adalah rumahku, kembalikan padaku, batalkan perjanjian jual beli itu sekarang juga."
"Memangnya kau bisa apa jika ibuku tidak ngin membatalkannya." Penelope, gadis berwajah penuh dengan bekas operasi itu muncul dari arah pintu. Dengan helss tajamnya ia menapak mendekati Emily. "Hallo Gadis pembawa sial, sedang apa kau di rumahku. Apa kau membutuhkan roti dan selimut untuk bisa bertahan hidup?"
*
*
♡
Gays Giveaway masih ada yah. Buat 2 orang pemenang masing-masing akan dapat pulsa 50K. Bakal aku umumin tgl 30 nanti. Aku bakal ambil 2 top fans 1 mingguan dan 1 bulanan, di Novel aku yang judulnya Rine And Shine. Buruan kasi vote dan dukungan kalian di sana. jangan lupa like dan komentar sebanyak² nya juga Tekan Fav. agar tiap up selalu ada notif.. 🥰😘💜
__ADS_1