Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 23


__ADS_3

Setelah Selesai berjiarah, Emily meminta supir pribadi Romario untuk mengantarkannya berkunjung ke tempat dimana seharusnya dia di sana. Emily berdiri tempat di depan rumah bibi Catalina. Wanita setengah abad itu adalah kakak perempuan dari Olvier ayahnya Emily. Namun, karena satu dan hal, hak asuh Emily jatuh kepada Romario. Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan bibinya, terakhir mereka saling menyapa saat di pengadilan dulu.


Saat itu Emily harus menahan amarahnya, bibi satu-satunya itu mengambil seluruh harta dan mengalihkan semua hutang mereka kepada keluarganya. Mereka bahkan menyita semua dengan alasan keinginan dari pengadilan. Namun, faktanya itu beralih tangan kepada Catalina. Sungguh ironis sekali, saat itu dia harus bertahan mati-matian untuk bisa mendapatkan hak atas rumah peninggalan orang tuanya. Emily memejamkan mata sejenak mengingat penderitaan yang ia alami dulu.


"Apa aku harus masuk?" Emily mendesah kasar. "Ah sudahlah." Gadis belia itu melangkah menjauh dari depan pintu gerbang bibi Catalin dan kembali masuk ke dalam mobil. "Maaf Paman, apa kau bisa mengantarku ke suatu tempat?"


"Si, Nona."


Mobil kembali melaju meninggalkan rumah Bibi Catalina, Emily lebih memilih menjauh dari pada harus berurusan dengan para manusia-manusia serakah itu. Bibinya Catalina memiliki seorang putri yang bergaya hidup hedon sama seperti ibunya. Mereka bisa menghabiskan berjuta-juta uang hanya agar terlihat mewah. Dan bagi Emily itu memalukan karena merampas hak milik orang lain untuk memenuhi gaya hidup mereka.


Tidak butuh waktu lama, mobil Emily kini berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar beton yang mengililinginya. Rumah dengan struktur bangunan ala prancis itu masih terlihat kokoh, Ada satu pohon Mapel yang tubuh di samping rumahnya. Mata gadis itu sedikit menyipit, sudah beberapa tahun ini dia tidak berkunjung, tetapi rumah itu tampak bersih dan rapi. Saat gadis berambut panjang itu mendekati pintu, tiba-tiba sosok seorang pria keluar dari dalam rumahnya. Emily sontak kaget dan langsung mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Siapa kau?"


"Maaf Senorita, seharusnya aku yang bertanya. Siapa anda, kenapa bisa berada di depan rumahku?"


Manik biru itu membulat. "Rumahmu?"


"Si, ini rumahku. Apa kau sedang mencari seseorang?"


Emily menggeleng dengan tubuh yang limbung. "Tidak mungkin, ini adalah rumahku, semua surat-surat rumah ini tertulis atas namamu, mana mungkin ada yang berani menjualnya, bahkan surat tanahnya ada padaku."


"Siapa? Siapa orang yang sudah menjual rumah ini padamu?

__ADS_1


"Nyonya Catalina," jawab pria yang umurnya hampir sama dengan Emily. Sejenak pria itu tersenyum. "Sebenarnya, dia mengatakan jika rumah ini adalah kenangan saudaranya, awalnya dia tidak ingin menjualnya tetapi karena takut rumah ini tidak terurus dia terpaksa menjualnya padaku. Dan aku sangat menyukai rumah ini."


"Catalina ...." Tangan Emily bergetar dengan kepalan. "Beraninya kau menjual rumahku tanpa bertanya padaku, apa kau memalsukan surat-surat rumah ini untuk bisa menjualnya?" isakkan di dalam hati Emily begitu terasa sakit.


Tanpa menunggu lama, Emily berlari kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas kembali ke rumah bibinya. Setelah sampai, wanita berkulit putih cerah itu berlari keluar mobil tanpa menutup pintu. Emily bahkan tidak menekan bel melainkan mengedor-ngedor pintu dengan kedua tangannya.


"Bibi Catalina, buka pintunya!"


"Siapa yang berteriak dengan tidak sopan di luar sana, apa dia tidak tahu jika bel di rumah kami masih berfungsi."


Catalina turun dengan langkah cepat karena kesal dengan suara pintu yang terus berbunyi kasar. Namun, saat membuka pintu. Ekspresi kesal Catalina berubah menjadi beku dengan mata yang membulat sempurna.

__ADS_1


"Emily! Kau sudah bebas?"


Emily berdecak dengan rahang yang mulai mengetat. Deretan giginya bahkan hampir beradu karena amarah yang kian memuncak. "Apa kabar bibi Catalina. Apa kau merindukan ku?"


__ADS_2