
"Masuklah! Aku akan mengantarmu."
Langkah kaki Emily langsung terhenti menatap Leon dengan tajam. Mata itu, sangat dingin seakan ingin menelannya hidup-hidup. "Kau ingin mengantarku?"
"Ya, apa kau tuli. Aku baru saja mengatakannya bukan."
Banyak hal yang tidak bisa di mengerti oleh Emily dari Leon, jika ia ingin mengantarnya bukankah harusnya dia berkata lembut dan bukan sekasar ini. Sungguh aneh pria di depannya ini, Ingin sekali ia menolak. Namun, sepertinya akan ada bencana, maka dari itu Emily mengiayakan dan membiarkan Leon mengantarnya ke kampus pagi ini.
Mobil milik Leon melajut dngan kecepatan di bawah rata-rata, pagi ini cukup lengah karena masih terlalu pagi. Leon sedikit melirik bingung kepada Emily, untuk apa wanita itu ke kampus sepagi ini. Bahkan cukup pagi untuk seorang pekerja keras sepertinya.
"Menyetirlah dengan baik, kau akan jatuh cinta kepadaku jika terus mencuri-curi pandang seperti itu."
__ADS_1
Pria itu tertawa keras dan langsung mencubit pipi Emily dengan gemas. "Mana mungkin dengan mencuri pandang akan langsung jatuh cinta." Sadar dengan tatapan Emily yang terlihat aneh membuat Leon menarik tangannya. Ia berdehem mengalihkan pandangannya. Lagi-lagi ia bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Emily bergedik acuh dan masa bodoh dengan sikap Leon yang selalu seperti biasa. "Sepertinya pria ini memiliki kepribadian ganda," gumam Emily di dalam hati.
••••
"Tunggu!" pekik Emily tiba-tiba saat mobil Leon melewati sebuah toko buku tua. "Bisakah kau berhenti sebantar, aku harus mencari sesuatu di sana?"
"Baiklah!" Leon mengurangi kecepatannya dan meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Tidak jauh dari tempat parkirnya memang ada sebuah toko buku yang terlihat sudah sangat tua. "Pergilah, aku akan menunggumu di sini."
Namun, begitu Emily memasuki toko, netra Leon menangkap sesuatu yang seharusnya di bawah oleh gadis itu. Emily ternyata melupakan dompetnya. "Dasar ceroboh, lalu bagaimana dia bisa membayar di dalam sana."
__ADS_1
Berniat mengatarnya, Leon malah melihat sosok anggun itu membuka pintu toko dan melangkah mendekati mobil. Karena sudah terlanjur memegang dompet dengan warna soft pink itu, Leon memutuskan untuk kekuar dari mobil dan memberikannya.
Emily tersenyum dari jauh ke arah Leon, sangat manis sampai-sampai membuat degup jantung pria berjas itu tiba-tiba memompa dengan cepat. Leon menghela napas pelan, mentralkan perasaannya menyingkirkan rasa aneh yang tiba-tiba muncul. "Dompetmu, kau meninggalkannya." Leon tersenyum samar, lalu mengangkat tangan menyerahkan dompet kepada Emily.
Sambil mengambil dompet Emily melirik wajah Leon, tidak tampak wajah seorang pahlawan di sana. Hanya wajah suram dan menjengkelkan. Yah, memang hanya sebuah dompet, tapi bisakah dia tersenyum dengan wajah yang ikhlas karena telah menolong memberikan dompetnya. Ini yang terlihat seakan terpaksa. "Terima kasih," ujar Emly langsung membalikkan badan melangkah untuk kembali masuk lagi ke dalam toko.
Leon tertawa hambar, ia pun berbalik hendak masuk kedalam mobil. Namun, manik hitam itu menangkap sebuah sepeda yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Emily. Meski itu adalah jalur pengendara sepeda. Namun, melaju dengan kecepatan seperti itu sangat membahayakan.
Leon panik, jarak antara sepeda itu dan Emily sudah begitu dekat. Tanpa ragu lagi, dengan gerakan secepat mungkin, ia berlari untuk membuat Emily terhindar dari kecelakaan. Akan tetapi.
Dinnnn !!
__ADS_1
Bruuk ...
"Aaaaa!!" Emily terjatuh lemas dengan tatapan kosong ke arah Leon, sedetik setelahnya wanita berambut panjang itu pingsan dan tidak sadarkan diri.