
"Daddy lihat kau akhir-akhir ini sangat murung," ujar Romario memecah kesunyian pada makan malam mereka.
"Aku?" tanya Emily.
"Yah, apa kalian ada masalah?"
"Tidak Daddy, kami baik-baik saja," sela Emily dengan cepat.
Romario sedikit tidak yakin dengan jawaban menantunya. Biasanya Leon memang selalu diam dan dengan cepat menyelesaikan makannnya lalu pergi, tapi kali ini anak laki-laki satu-satunya itu tampak lambat dalam menghabiskan makannnya. Begitupun dengan Emily, ia tampak tidak ceria dan seperti terburu-buru agar cepat menyelesaikan makan malamnya. Padahal biasanya wanita itu akan selalu bertanya tentang setiap menu makanan yang di sajikan di atas meja.
"Bagaimana kalau kau bekerja, itu bisa bisa menghilangkan rasa bosanmu karena terus berada di mansion."
"Bekerja?"
"Si, kau bisa bekerja di perusahaan bersama Leon?"
"Jangan konyol, dia bisa apa? Hanya bisa merepotkan orang lain saja nantinya," potong Saina dengan tatapan sinis ke arah Emily. Masih saja, wanita dengan gaya makeup glamour itu tidak menyukai menantunya, apalagi harus melihat ia berada di dekat anaknya setiap saat.
"Lebih baik aku di rumah saja," jawab Emily menolak dengan sopan.
__ADS_1
"Jika kau menyukai pekerjaan, maka lakukanlah."
Suara Leon tiba-tiba membuat semua orang menatap kaget. Tidak biasanya dia akan merespon sesuatu yang berhubungan dengan Emily. Sepertinya dia benar-benar ingin menebus semua kesalahannya kepada istrinya itu.
"Leon?" Saina terlihat kaget mendengar respon anaknya tentang ini. "Apa kau serius sayang. Ibu khawatir wanita bodoh ini akan mengganggu pekerjaanmu.
"Yah benar. Aku khawatir tidak bisa melakukannya dan malah membuat kekacauan. Lagi pula Tuan muda tidak menyukaiku, aku takut dia akan marah jika terus melihatku di sekitarnya."
Emily mengatakan itu sambil menatap ke arah Leon. Sekarang setiap melihat pria itu, ia sudah tidak lagi merasa takut atau khawatir. Ia justru merasa lebih baik secara fisik dan mental. Terlebih, ia tidak ingin hidup di bawah tekanan keluarga Mugel.
Penolakan Emily tadi tentu saja tidak di masukan ke dalam hati, karena ia tahu jika Emily sedang menyindirnya.
Romario sangat senang mendengar ucapan Leon. Ini artinya mereka memang tidak ada masalah, mungkin hanya perasaannya saja.
"Baiklah, jadi bagaimana jika kau menjadi asisten pribadinya Leon. Jangan biarkan dia bekerja dengan wanita-wanita seksi itu. Ibumu sangat tidak peka, kenapa dia menaru sekretaris yang penampilannya seperti kekurangan bahan untuk mu. Mereka seperti pelayan di club malam."
Saina melotot ke arah Suaminya. "Lalu kau pikir sudah baik menaruh anak kampungan ini menjadi asisten pribadi anak ku? Tidak! Aku tidak akan mengijinkannya."
"Berhenti mengatur, ini perusahaanku kau tidak bisa seenaknya. Para wanita itu hanya datang dan memamerkan tubuh mereka. Pekerjaan mereka tidak ada yang beres, hanya mengandalakan penampilan."
__ADS_1
"Tidak! Pokonya tidak. Aku tidak setuju jika Emily menjadi asisten pribadi Leon."
"Ini sudah menjadi keputusanku, menantuku akan menjadi asisten pribadi suaminya." Romario mengalihkan pandangannya ke arah Emily. "Kau setuju bukan?"
"Daddy, aku khawatir tidak akan bisa."
"Ada Leon, dia akan membantu. Nanti juga kau akan terbiasa."
"Oh God! Aku tidak percaya dengan ini, kalian berdua seperti sedang di sihir olehnya." Saina merasa kesal ia membanting sendok di piringnya dan mengehentikan makan malamnnya lalu melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Emily Emily melihat ini sedikit tidak berdaya, ia harus mengakui jika pria tua di depannya sama persis dengan Leon. Dua pria ini membuatnya semakin sakit kepala. Namun, jika dia menolak tawaran ini lagi, Daddy akan merasa tersinggung dan Saina akan merasa ia berkuasa ats segala keputusan di dalam rumah ini. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah membuat Saina tidak berani seenaknya kepada dia dan daddy Romario bisa memberi kepercayaaan kepadanya.
Keutungan lainnya adalah, ia mungkin bisa mengumpulkan uang dari hasil pekerjaan ini dan kemudian mencari jalan agar terbebas dari keluarga ini. Untuk itu ia akhirnya menyetujuinya.
"Baiklah. Aku akan mencobanya."
"Yah baguslah kalau begitu. Kau bisa memulainya besok pagi."
Emily mengangguk dengan pelan. Pria tua itu baru beranjak pergi dengan wajah puas setelah Emily menyetuji semua yang di katakannya. Sedangkan Leon, Dia hanya berwajah datar tanpa ekspresi apa-apa. Dia seperti sedang menjadi tuli dan pura-pura bodoh.
__ADS_1