
Emily menenggelamkan kepalanya pada bantal, ia hanya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Umpatan yang ia keluarkan sepanjang langkahnya tadi seakan membuat dia lelah. Masa lalu yang terlalu sakit itu, dia tidak ingin mengingatnya lagi.
Emily tertawa sejenak. Membalikkan badan menatap langit-langit kamarnya. "Anggap saja, kalau aku sedang membalas kebaikan keluarga Mugel karena telah menerimaku." Kalimat itu ia katakan dengan nada suara yang begitu dingin
Setelah dia masuk penjara, semua orang menyalahkannya. Melirik dengan penuh kebencian kepadanya. Seakan-akan dia telah melukai seluruh Madrid. Romario yang menganggap dia adalah putrinya sendiri bahkan tidak bisa mengeluarkan dia dari penjara gelap itu. Pria tua itu malah mendatanginya dan memaksanya untuk membuat perjanjian biar bisa terbebas dari sana.
Menikahi orang yang dia celakai. Wah, Tuhan memang sangat tidak adil padanya. Mengambil kedua orang tuanya dengan begitu mengerikan, kemudian membuat dia harus terlunta-lunta di jalanan karena rumah tempat ia tinggal harus di rampas orang yang dia percaya. Setelah itu, ketika dia berfikir ada orang baik yang mau menampungnya, mereka malah membuatnya seperti budak.
Ia harus mengikuti alur cerita yang mereka ciptakan untuk hidupnya. Sungguh luar biasa kehidupan ini, dia seperti sebuah boneka yang tidak lagi memiliki nyawa. Hanya mengikuti keinginan sang pemiliknya. Berayun ke situ, berlari kemari, dan menepi di sudut ruang hingga ia di gunakan kembali.
Emily mengangkat kepalanya, wajahnya menjadi muram. Matanya beralih ke jendela di mana sepasang burung sedang beraduh kasih. Hanya hitungan detik. Namun, membuat hatinya bergetar.
"Andai saja, alur hidupku seperti sepasang burung itu." Sekali saja, ia ingin di cintai tanpa ada paksaan atau kesepakatan.
__ADS_1
Leon adalah pria dingin yang tak semudah itu membuatnya tersentuh. Dia adalah pria baik, yah pria baik jika di jadikan seorang teman. Namun, dingin dan kaku jika untuk menjadi pasangnnya. Sangat sulit menaklukan hati pria bermata hitam pekat itu. Memikirkannya saja membuat gdis berambut panjang itu mendapatkan kesedihan.
Nasi sudah menjadi bubur. Emily harus menerima kenyataan jika statusnya sekarang adalah Nyonya muda keluarga Mugel. Dia berjanji pada dirinya, akan memulai perannya dengan sangat baik. Agar mereka yang mempermainkannya bisa melihat sehebat dan setangguh apa dirinya.
Dalam lamunannya Emily tidak menyadari jika seseorang tengah menunggunya di balik pintu.
Joya, gadis muda si pembiat masalah itu, sudah mengetuk pintu hampir setengan jam dengan nampan berisi camilan dan secangkir teh.
"Nona, apa kau di dalam?"
Dengan sigap Joya membuka pintu dan melangkah mendekati majikannya yang sediit terlihat kusut. Meski begitu, kecantikannya tidak memudar. Emily tetap terlihat anggun dan menawan seperti biasanya.
"Apa Nyonya ketiduran?"
__ADS_1
Emily menggeleng. "Kita hanya berdua Joya, kau boleh memanggil namaku seperti layaknya seorang teman," ujar Emily sedikit merapikan selimut membiarkan Joya untuk duduk di depannya.
Joya tertawa kecil. "Kau benar. Kita adalah teman jika hanya berdua."
"Apa yang lau bawah?"
"Camilan dan secangkir teh mawar. Kau pasti menyukainya."
"Dari mana kau tahu aku suka teh mawar?"
"Ku pikir kau butuh sesuatu yang menenangkan. Karena kau suka dengan bunga mawar, maka dari itu aku membuatkan teh ini untukmu. Minumlah selagi hangat."
"Si." Gadis itu tersenyum simpul menatap pelayan pribadinya. Hanya Joya yang sangat mengerti dengan keadaannya. "Terima kasih Joya. Kau sunggu perhatian."
__ADS_1
"Tidak usah sungkan Nona. Aku hanya Melakukan tugasku. Dan kau beruntung memiliki Tuan muda yang memperhatikanmu."
Tangannya bergetar halus. Emily meletakkan kembali gelas berisi teh kesukaanya itu. "Tuan muda?"