
"Maaf Pierda, tugas anda untuk melayani segala kebutuhan Tuan mudah di mulai dari hari ini."
Emily bangun dari pembaringan dan menuju kamar Leon. Langkah kaki mungil itu berjalan mengikuti Joya. Malam ini mereka masih berada di Mansion utama karena Romario belum menyetujui pemindahan mereka ke Mansion Selatan. Dia khawatir jika Saina merencanakan sesuatu untuk Emily.
"Apa yang harus aku lakukan padanya," ujar Emily menatap pria yang tertidur kaku di depannya.
Joya tersenyum, dengan raut wajah malu-malu pelayan wanita yang umurnya sama dengan Emily menjelaskan apa yang harus ia lakukan. Sekarang statusnya adalah istri dari Tuan mudah Leon, maka dia yang harus melakukan semuanya.
"Apa!!" Emily mundur, menjauh dari tempat tidur dimana Leon terbaring. "Apa kau tidak salah! Untuk apa aku membuka semua bajunya, aku tidak mau," tolak gadis bermanik cokelat itu.
Joya baru saja memberi instruksi untuk memandikan Leon, tentu saja itu sangat musthil bagi Emily. Bagaimanapun juga, Leon adalah seorang pria dan Emily adalah wanita. Mana mungkin dia memandikannya.
"Tapi Nona, anda adalah istri Tuan muda Leon. Bukankah seharusnya memang anda yang memandikannya." Joya mengatakannya dengan tatapan mata yang sungguh-sungguh.
"No! No me obligues. ( Tidak! Jangan memaksa ku.)"
__ADS_1
"Tapi Nona, Tuan muda Leon harus mandi. Jika Sra Saina tahu kau akan terkena masalah."
"Kalau begitu panggil orang yang biasa melakukannya, katakan jika aku tidak bisa." Emily menolak keras, bagaimanapun itu.
" Pierda.. Apa kau menyuruhku untuk memanggil Señor Romario? Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku."
Emily membulatkan mata, bukan karena wajah memelas Joya yang terlihat sangat aneh. Melainkan karena gadis itu terkejut. Ia mengira jika ada pelayan khusus yang di tugaskan melakukan itu pada Leon.
"Daddy!"
Emily membuka mata dan mulutnya secara bersamaan. "Oh God! Lalu di mana dia?"
"Dia di hukum dengan sangat berat lalu di buang entah ke mana. Aku tidak tahu karena setelah kejadian itu, tidak ada yang berani membahasnya."
"Oh God!" Tubuh Emily merinding memikirkan kemana wanita itu di asingkan. Ternyata, Saina lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. "Baiklah, keluarlah, aku akan melakukannya."
__ADS_1
Raut wajah Joya berubah berseri. "Si. Jika Nona membutukan sesuatu, aku berada di depan pintu."
"Aku mengerti," jawab Emily malas.
Emily menatap pria yang terbaring di depan matanya, biar bagaimanpun Leon adalah pria yang dia sukai. Bagaimana bisa sekarang ia melakukan semua ini, Meskipun mereka adalah sepasang suami istri. Namun, membuka semua baju dan menyentuh tubuhnya adalah sesuatu yang aneh. Dan bagi Emily itu memalukan.
"Oh astaga." Emily memejamkan mata, saat jemarinya mulai membuka kemeja yang Leon kenakan. Perlahan ia menanggalkan pakaian pria bermata hitam itu hingga tak tertinggal sehelai apapun.
Napas nya memburu, ia meraba dan menarik cepat selimut untuk menutupi sebagian tubuh Leon. Menghadapi tubuh seorang pria sangatlah memalukan. Apalagi Emily pernah menyukai pria di depannya ini. Seumur hidupnya dia juga belum pernah menyentuh tubuh pria mana pun, bahkan bersama kekasih pun tidak pernah melakukan sejauh ini.
Emily memandangi otot Leon yang sangat menggoda, dada berkotak pria itu membuat Emily menelan ludahnya berkali-kali. Meskipun Leon koma. Namun, mereka merawat tubuhnya dengan baik, dia sama seperti orang normal. Hanya saja terlihat sedikit kurus dan pucat.
"Wajah menyebalkanmu itu masih terlihat meskipun kau terbujur kaku."
Emily menghela napas kasar, Ia teringat akan pesan Joya. Bahkan Leon harus benar-benar di bersihkan karena Saina akan datang dan memeriksanya. Dengan memalingkan wajah.
__ADS_1
Emily mulai membersihkan tubuh Leon, satu persatu tiap sisi ia bersihkan hingga ia merasa benar-benar cukup. Dengan gerakan cepat ia memakaikan pakaian Leon, karena tergesah-gesah dan canggung, Emily bahkan tidak sadar jika Leon merespon dengan menggerakkan sedikit jemari yang tadinya sangat kaku.