
Emily terbangun di pagi hari dengan ranjang kosong di sampingnya, wajah kagetnya mencari ke seluruh sisi kamar. Namun, sepertinya Leon tidak kembali semalam. Kamar masih sama seperti sebelum ia tertidur semalam dan tidak ada tanda-tanda jika Leon kembali untuk tidur.
"Apa dia bekerja hingga pagi? Kenapa dia tidak kembali."
Emily beringsut dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia turun dan hendak ke ruang kerja Leon untuk menanyakan apakah dia akan ke kantor di hari libur seperti ini atau tidak. Namun, dari jauh Melisa menahan langkahnya.
"Nona, Tuan mudah sudah ke kantor 1 jam yang lalu."
"Apa! 1 jam yang lalu?"
"Si," jawab Melisa dengan langkah mendekat.
"Tapi, bukankah ini hari minggu? Lagipula masih terlalu pagi, kenapa dia sudah berangkat. Apa dia sudah sarapan?"
"Si, Nona. Tuan Muda buru-buru karena akan bertemu klien penting pagi ini. Ia hanya menitipkan pesan jika anda tidak perlu menunggunya, karena hari ini dia akan kembali sangat larut."
"Mencurigakan, kenapa dia harus pergi se-pagi ini dan pulang sangat larut? Apa ada yang dia sembunyikan dariku?" Emily mematung di depan pintu dengan bergumam di dalam hati.
__ADS_1
"Si aku mengerti Melisa. Terima kasih sudah memberitahuku."
"Apa kau ingin sarapan dengan sesuatu yang manis hari ini, wajahmu tampak muram Senorita."
Emily tersenyum kecil. "Kau memang yang selalu mengerti diriku sejak dulu Melisa, aku akan sarapan di kamarku, bisakah itu di antarkan ke kamarku nanti?"
"Si. Aku akan membuatkan Magdalena dan Empanada kesukaanmu dan menyuruh Joya mengantarkannya ke kamarmu nanti."
"Si, terima Kasih Melisa."
"Pergi dan istirahatlah, kau tampak kusut." Melisa mengelus tangan mulus milik Emily dengan lembut. Gadis itu memang selalu ia anggap seperti adiknya sendiri. Sejak ia datang ke keluarga Mugel, dia selalu sendirian dan terus mengurung diri di kamarnya, hanya Melisa yang selalu berkomunikasi dengannya. Hingga akhirnya keduanya menjadi sangat dekat.
Lamunan Emily buyar saat terdengar suara ketukan pintu. Ternyata Joya datang membawa makanan yang di buatkan Melisa. Dengan senyum manisnya Emily menyambut kedatangan sahabat kecilnya itu.
"Pierda, apa kau baik-baik saja?" tanya Joya sembari merapikan makanan di atas meja untuk Emily.
Emily tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, hanya ingin sarapan di kamar."
__ADS_1
"Aku pikir kau sakit atau mungkin sedang merajuk kepada tuan muda. Makanya tidak ingin sarapan di bawah," ujar Joya dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
Melihat Joya yang membahas Leon, membuat rasa ingin bertanya kepada pelayannya itu tiba-tiba muncul. "Joya. Apa aku boleh bertanya?"
"Si, Senorita. tanyakanlah," jawab Joya dengan polos.
"Apa pagi ini Tuan muda terlihat aneh? Maksudku mungkin saja dia bertingkah di luar kebiasaanya."
Joya sedikit mengerutkan wajahnya dengan ekspresi seperti sedang mengingat-ingat. "Aku tidak yakin dengan yang ku lihat, tapi wajah Tuan mudah pagi ini terlihat pucat. Mungkin karena dia baru sembuh dan harus bekerja hingga pagi. Yah mungkin seperti itu," ujar Joya meyakinkan bahwa tidak ada yang aneh dari tuan mudanya. Hanya hal wajah yang di alami seseorang yang baru saja sembuh dari koma.
Emily berfikir lama tentang apa yang di katakan Joya, banyak lagi yang ingin ia tanyakan kepada pelayan kecil itu. Namun, akan sangat tidak baik jika Joya keceplosan dan mengatakan apa yang dia tanyakan kepada orang lain. Apalagi Joya adalah anak dari pelayan Ibu mertuanya.
"Kau bisa pergi. Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku," ujar Emily dengen tersenyum kecil.
"Kau bisa menanyakan apapun kepadaku Nona. Dan aku akan menjaga untuk tidak mwngatakannya kepada orang lain. Ini adalah rahasia kita," bisik Joya dengan gerakan mengunci mulut.
"Anak pintar." Emily menepuk pundak Joya dengan manis. "Pergila, jangan sampai kau di omeli oleh Melisa karena berleha-lehan di sini."
__ADS_1
Joya berdecak dengan wajah muram lalu menunduk dan keluar dari kamar meninggalkan majikannya. Seperti kata Emily, dia harus bergegas melanjutkan pekerjaannya kalau tidak ingin di marahi oleh Melisa.