
Banyak berfikir membuat tubuh Emily lelah, ia tertidur hingga matahari masuk berganti dengan sinar bulan yang terang masuk melewati balkon kamarnya. Sejak insiden tadi pagi, Emily sama sekali tidak beranjak dari kamar, bahkan gadis itu melewatkan makan siangnya. Namun, sepertinya semua pelayan di rumah ini tidak menyukainya. Sejak ia tertidur, tidak ada satupun orang yang datang membangunkannya untuk makan siang ataupun menyuruhnya membersihkan tubuh Leon seperti biasa.
"Aku sangat lapar." Emily beranjak dengan lemas dari pembaringan dan melangkah pelan menuju pintu. Namun, saat hendak membukanya, pintu itu tidak bisa terbuka. "Apa yang terjadi, kenapa pintunya tidak bisa terbuka?" Emily mencoba memainkan gagang pintunya berulang kali.
"Joya! Joya! Melisa! Apa ada orang di luar? Tolong buka pintunya!" Emily panik, wanita bermanik cokelat itu menggedor-gedor pintu meneriaki siapa pun yang ada di luar sana untuk meminta tolong.
"Pierda!"
"Joya?" Emily memasang kupingnya di pintu. "Joya! Apa itu kau?"
"Si, Pierda."
"Tolong! Buka pintunya, aku sangat lapar. Tidak ada apapun di sini yang bisa aku makan," isak Emily di balik pintu. Rasa sakit kini berkecambuk di dalam batinnya, ia merasa sekan berada kembali di penjara.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa menolongmu Pierda. Nyonya Saina mengambil kuncinya. Sudah 2 jam aku berdiri sambil memegang makan malam mu di sini."
"Why? Apa yang terjadi. Bukankah dia mengatakan tidak akan menghukumku?"
"Aku tidak tahu Nona, pelayan Nyonya besar melarang kami membukakan pintu. Maafkan aku tidak bisa menolongmu. Kau pasti sangat lapar, sedari siang kau tidak makan."
Emily menutup matanya sejenak. Menelan ludah sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya ia jatuh dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Nona! Nona! Kau baik-baik saja?" Kini Berbalik Joya yang merasa cemas. "Oh Tuhan! Kapan Tuan besar akan pulang, Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya." Joya berlari meninggalkan Emily yang sudah pingsan di balik pintu, untuk mencari pertolongan.
*****
Hawa hangat menyeruak menutupi tubuh Emily yang dingin dan lemas. tenggorokan keringnya gang sudah basah membuat mata wanita itu bergerak dan perlahan terbuka. Saat Emily bergerak untuk duduk, pelan fokusnya teralihkan dengan tatapan dingin dari manik mata yang sangat ia kenal.
"Aaah!!"
Karena kaget, Emily mendorong tubuh pria itu dengan keras. "Apa yang kau lakukan di sini. Bagaimana bisa kau masuk?"
Pria bermata dingin itu kembali mendekat, dari kegelapan Emily melihat jika dia tersenyum.
"Jika aku tidak datang, mungkin kau akan mati." Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan hingga bertatap langsung dengan Emily. Namun, tetap saja, di ruang segelap ini apa yang bisa Emily lihat. "Seharusnya kau berterima kasih bukan meneriakiku seperti itu.
"Siapa kau? Kenapa kau terus menggangguku."
Emily sangat ingin tahu siapa pria yang sudah merubah semua ini. Awalnya semua baik-baik saja, Romario sangat memuji ketrampilannya dalam merawat Leon, dan Saina, dia bahkan sama sekali tidak mengusiknya beberapa bulan ini. Emily bahkan sempat berharap bisa keluar dari penjara emas ini dan melihat dunia luar dengan bebas. Lalu kenapa tiba-tiba semua jadi berubah saat pria ini muncul. Dunia impiannya runtuh seketika dalam satu malam.
"Kenapa kau diam saja! Katakan siapa kau? Jangan terus mempermainkanku seperti ini. Jika kau berani nyalakan lampunya dan perlihatkan wajahmu padaku," Isak Emily pada pria itu.
Rasanya ia ingin mencabi-cabik wajahnya agar hancur. Sudah cukup penderitaan yang ia alami, dia tidak mau mengulangnya lagi. Tangan kecil itu meraba-raba mencari tubuh Leon, malam ini dia harus melindunginya. Pria itu tidak boleh melukainya lagi.
__ADS_1
Menyadari gerakan Emily, pria itu tertawa pelan. "Tenanglah, Nona Emily. Malam ini aku tidak akan menyentuh suami cacatmu itu."
Mata Emily melebar. "Jadi kau yang melukai Leon? Dasar bajingan! Kau membuat diriku dalam masalah. Apa kau berencana membunuhku pelan-pelan melalui dia."
Pria itu tertawa pelan. "Jadi wanita tua itu menghukum mu? Pantas saja kau sangat tidak bertenaga dan ringan saat ku gendong tadi. Untung saja aku memberikan minum padamu, jika tidak kau mungkin sudah mati di bawah pintu."
"Memberikan air?" Mata Emily menjelajah mencari jejak air yang ia maksud. Seingatnya hanya ada cangkir besar berisi air milik Leon dan tidak ada gelas ataupun sesuatu yang bisa di gunakan untuk minum.
"Tidak usah mencari, karena aku memberikannya lewat mulutku."
"What?" Emily menegakkan kepalanya menatap dengan bola mata terbuka lebar. "Mu-mulut?" Dengan gerakan cepat Emily menyeka mulutnya berulang kali, bibir tipis itu sampai memerah karena terus ia melakukannya dengan keras.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan. Bibirmu akan sakit."
"Lepaskan! Jangan menyentuhku." Emily menepis tangan dingin yang sudah menyentuhnya.
"Kau terlalu banyak menyela hari ini." Pria dingin itu mendekat lebih dekat padanya. "Bagaimana kalau kau meninggalkan pria yang sudah mati dan pergi bersamaku memulai hidup yang kau inginkan."
Plak
Tamparan keras Emily berikan kepada pria itu. Wajahnya bahkan terlihat berpindah ke kiri saking kerasnya tamparan. "Jangan bermimpi."
__ADS_1