
Beberapa hari sudah berlalu. Namun, ketegangan antara Emily dan Lion masih saja terjadi. Emily masih saja marah sekaligus kecewa dengan perlakuan pria bermanik hitam pekat itu padanya, terlebih karena dia telah di tipu mentah-mentah oleh oleh Lion.
Emily selalu menatap sinis ke arah Leon, entah sampai kapan ini akan berakhir dia pun tidak tahu. Karena kejadian itu benar-benar sudah merubah penilaiannya terhadap pewaris saru-satunya keluarga Mugel itu. Terlebih untuk keluarga besarnya.
Gadis yatim piatu itu berfikir jika semua kejadian yang terjadi adalah drama yang sengaja mereka ciptakan untuk membuatnya tetap menetap di Mansion megah ini. Alih-alih karena perjodohan konyol ini, melainkan jebakkan yang membuat dia terpaksa harus menerima semua ini seperti orang bodoh.
Dan pagi ini seperti biasa Emily akan lebih awal bangun dan membersihkan tubuh. Sudah beberapa hari ini ia merubah kebiasan paginya. Sebelum perang antara dia dan Lion di mulai. Ia selalu menyiapkan pakaian yang akan di gunakan Lion ke kantor sebelum menuju ruang makan untuk sarapan. Tetapi sekarang ia selalu buru-buru turun ke dapur meski hanya sekedar melihat-lihat Joya mengerjakan tugasnya. Dan itu ia lakukan beberapa hari ini untuk menghindari bertemu dengan Leon.
"Sudah ku katakan padamu Nona. Anda tidak boleh berada di sini. Tuan muda akan marah jika tahu kau berada di dapur," ujar Joya dengan wajah kesal saat melihat majikannya sudah menempel pada meja saji di ruang dapur.
Joya bukannya marah tapi hanya sedikit kesal karena sudah beberapa hari ini dia sering di tegur Leon karena membiarkan Emily berada di dapur. Padahal majikan wanitanya itu pun tidak melakukan apa-apa, hanya melihat-lihat saja. Namun, tetap saja dia adalah Nyonya muda, bagaimana bisa dia berada di dapur tempat para pembantu bekerja.
"Apa kau tidak suka?" tanya Emily dengan tersenyum tipis ke arah Joya.
Wajah Joya tampak datar menatap majikan kesayangannya. "Tentu saja tidak Nona. Tetapi ini adalah area terlarangmu, kau bisa berada di sini hanya beberapa menit saja ketika mengawasi kami. Tidak untuk seharian. Kau membuat kami canggung dan tidak fokus bekerja," ketus Joya.
__ADS_1
"Biarkan aku di sini sampai waktu sarapan nanti. Aku janji, kau tidak akan di tegur lagi."
Joya membalikkan badan dengan kedua mata melotot. "Dari mana anda tahu aku di tegur?"
Emily mengedikkan bahu, wajah cantiknya terlihat begitu manis saat ia menolak dengan lembut untuk pergi. "Sudahlah, cepat kerjakan bagianmu. Sebentar lagi semua anggota keluarga akan keluar dari kamar. Kau akan di marahi nenek sihir itu jika terlambat menyajikan sarapan." Ia membawa lembut tubuh Joya ke pantri untuk menyelesaikan sajian terakhir.
"Biasanya anda tidak pernah berlama-lama di sini, ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Joya karena merasa ada yang aneh dengan majikan wanitanya.
"Tidak ada."
"Aku tidak ingin mebicarakan apapun Joya."
"Biasanya kau tidak pernah menolak untuk bercerita."
"Bocah tengil. Lanjutlah bekerja, waktunya sang menantu bodoh ini ke meja sarapan?" ujar Emily dengn sedikit mengelitik pinggang Joya untuk menggodanya.
__ADS_1
"Dia mengatakan dirinya bodoh? Ada apa? Apa mereka bertengkar lagi? Hufff." Joya menarik napas berat. Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Dia sangt menyayangi Emily seperti saudara perempuannya sediri. Maka dari itu dia selau ingin membantunya meski resikonya adalah di buang dari pekerjaannya.
"Semoga Tuhan selalu melindungimu Nona Emily."
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay gays maaf untuk up yang cukup lama. Aku benar-benar minta maaf. Banyak hal yang membuatku istirahat dalam waktu lama ini, namun tetap saja kalian sangat kuu rindukan. Tetap dukung karyaku yah. Jangan lupa like san koment biar aku makin semangat untuk rajin up.. ❤️
__ADS_1