Rine And Shine

Rine And Shine
9. Is not my dream.


__ADS_3

2 tahun berlalu ...




Sudah 3 tahun berlalu, Emily masih harus menunggu 4 tahun lagi agar bisa bebas. Ini sudah cukup lama, tapi kenapa Leon belum juga sadar, pria itu di vonis mengalami lumpuh di sekujur tubuhnya dan hanya bisa terbaring kaku di tempat tidurnya. Meski tubuh Leon tidak memakai alat bantu. Namun, ia tetap terlihat baik-baik saja. Dokter mengatakan jika Leon butuh pemicu agar cepat kembali sadar. Namun, entah apa alat pemicunya, apakah obat manusia atau apa tidak ada yang tahu.


Di saat gadis kecil itu hendak menutup mata, mengistirahatakan sesak di dada, sejenak ia mendengar langkah kaki mendekat. Emily terjaga menunggu kabar dari sang penjaga, ini sudah cukup larut tentu saja bukan makanan yang membawa mereka datang.


"Nona Emily, ada yang menunggumu di luar."


"Siapa?"

__ADS_1


"Kau akan tahu jika sudah melihatnya."


Penjaga penjara tidak banyak bicara, dia hanya menyuruh Emily agar diam dan mengikuti perintahnya. Emily berganti pakaian dengan baju yang terakhir ia kenakan saat masuk penjara. Setelah selesai ia di bawa keluar, seseorang yang di maksud bahkan sama sekali tidak ia kenal. Emily semakin merasa takut saat ia di bawa masuk ke dalam mobil.


"Siapa kalian? Kemana kalian akan membawaku?"


"Nona tenang saja, kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya menjalankan perintah."


"Siapa? Siapa yang memeritahkan kalian untuk membawaku." Emily bertanya berulang kali, di bawah dalam keadaan tidak tahu apa-apa membuat ia merasa seperti akan di musnakan. Saat sampai, Emily di bawa di sebuah ruangan yang sama sekali tidak ia kenal. Entah di mana orang-orang ini membawanya dan pada siapa Emily sama sekali tidak tahu. Saat sedang keras berfikir, tiba-tiba suara tua yang begitu berat terdengar. Sekali mendengar saja Emily tahu siapa yang datang menyapanya.


"Emily ...."


"Daddy!!"

__ADS_1


Gadis itu berlari kecil menyambut kedatang Rimario, memeluk pria tua itu dengan kerinduan yang sangat mendalam. "Daddy, ternyata kau yang menyelamatkanku. Gracias, gracias Daddy. Aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan, itu akan menjadi balas budi padamu."


"Kalau begitu apa kau mau menikah dengan Leon?"


"Le-leon? Apa dia sudah sadar?"


Romario menggeleng pelan, dari raut wajah sedihnya Emily tahu jika saudara angkatnya itu pasti belum sadar. Emily menundukkan kepala, ia takut jika ini hanya jebakan yang akan membuat kehidupannya berakhir. Emily sejenak melirik ke arah Romario. Pria tua berambut setengah putih itu menatqpnya pilu.


"Aku tahu permintaan ini tidak tepat, tapi maukah kau menikah dengan Leon dan membantu mejaganya? Hanya kau satu-satunya harapanku Emily, Daddy--"


Sebelum kalimat terakhir Romario ucapan Emily karena merasa ini juga adalah tanggung jawabnya, langsung menjawab. "Aku bersedia."


"Emily! Sayang ... kau tidak bercanda bukan, kau benar-benar bersedia menikah dengan Leon, dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu, kau masih bersedia?"

__ADS_1


Emily menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi. "Si, aku bersedia. Leon seperti sekarang ini juga adalah karena ingin menyelamatkanku, tidak dan juga, tidak sopan jika aku menolak permintaan orang tuaku bukan. Daddy satu-satunya orang yang mempercayaiku, anggap saja ini adalah balas budiku padamu."


"Tapi tidak harus dengan ini, Daddy meminta mu tapi tidak ingin memaksa. Tidak ada yang berada di sisi Leon saat ini, bahkan kekasihnya yang dia banggakan tidak ingin kembali karena mendengar berita kelumpuhannya." Romario membuang napas kasar. "Leon butuh seseorang sepertimu untuk merawatnya Emily."


__ADS_2