
Emily menghentikan langkah kakinya di taman kecil yang ada di sekitar rumah megah milik keluarga Mugel. Di tempat ini biasanya dia akan menumpahkan segala keresahan dan rasa gundanya, bersama Joya, pelayan kecil yang selalu memberi rasa nyaman padanya. Namun, kali ini dia harus manumpakan air mata tanpa joya. Kali ini, dia ingin sendiri. Udara bahkan masih terasa membekukan tubuhnya karena masih terlalu pagi dia berada di taman.
"Apa dia pikir ini menyenangkan?" Emily menyeka air matanya lalu menghembuskan napas berat dengan dada yang terasa sesak. Gadis malang itu berusaha kuat dengan apa yang baru saja terjadi. Tidak akan ada yang bisa menolongnya sekarang, hanya kekuatan dari dirinya sendiri yang bisa membuat dia bertahan menjalani ini semua. Satu yang ia yakini saat ini bahwa, tidak ada yang bisa di percaya dari orang-orang yang ada di keluarga Mugel. Bahkan dia menyesal karena sempat ingin mempercayai Leon.
Dalam kesedihannya tiba-tiba terdengar suara derap langka berat. Yah, siapa lagi. Dia adala si biang kerok pembuat masalah. Leon. Pria dengan payama Navi itu melangkah mendekati Emily dengan langkah ragu-ragu. Sedikit canggung karena sudah membohongi Emily selama ini. Namun, ia harus menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada Emily. Biar bagaimanapun Emily sama sekali tidak bersalah dalam hal ini.
"Emily, Aku-"
Dengan ekspresi kaget, Emily yang sedang termenung refleks melangkah mundur. "Menjauh dariku," ujar Emily dengan wajah datar tanpa melihat ke arah Leon.
"Aku hanya ingin menjelaskan jika-" Suara Leon tercekat lagi saat Emily dengan kasar kembali memotong ucapannya.
"Aku bilang menjauh dariku. Apa kau tidak mendengarnya Tuan Leon mugel."
__ADS_1
"Emily, aku mohon dengarkan penjelaskanku. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tahu ini tidak benar, baiklah, aku mengaku salah. maafkan aku."
Dengan wajah gusar Emily berbalik menatap Leon. "Segampang itu kau meminta maaf atas semua yang sudah terjadi padaku. Apa kau waras! Kau mempermainkanku Leon. Aku seakan tidak begitu berharganya di matamu. Apa tidak ada sedikit rasa kasihanmu padaku saat kau berubah menjdi orang jahat dan memperlakukanku seperti itu?"
Air mata Emily kembali menetes. Selangkah ia majukan untuk lebih mendekati Leon. Kali ini sungguh tidak ada jarak di antara keduanya. "Apa kau tahu, aku pernah ingin berterima kasih sepenuh hati padamu karena mau menolongku saat bibi Catalina dan Penelope mendatangiku. Saat itu aku berharap akan ada keajaiban yang membuatmu menyukaiku."
Leon menelan ludah kasar. Hembusan napas Emily membuat ia sedikit merasa gugup. "Aku tahu, itu salah. Maafkan aku."
Mendengar Leon yang tiba-tiba meminta maaf membuat Emily berdecak dengan senyum miring. "Apa kau melakukan ini agar kekasihmu merasa kasihan dan mau kembali lagi padamu?"
"Sungguh menjijikan. Kau membuat aku sebagai umpan agar kekasihmu mendatangimu. Kau sangat egois."
"Emily tunggu." Tangan kanan Leon menahan satu tangan Emily agar tidak beranjak darinya. "Aku mohon rahasiakan ini, jika Daddy mengetahuinya, ini tidak akan baik."
__ADS_1
"Aku lelah dan ingin istirahat." Dengan kasar gadis malang itu menepis tangan Leon yang menahannya. Dan dengan cepat berlalu meninggalkan Leon menuju kamar.
Leon sedikit legah karena Emily tidak memberontak, setidaknya Ini tidak akan sampai di telingah ayahnya. Entah alasan apa yang harus dia katakan kepada romario. Semua rencana besarnya gagal total karena Emily menangkap basah dirinya. Dia bahlan harus berpura-pura mengalah agar ini tidak menjdi lebih buruk.
"Sial! Benar-benar sial!"
.
.
.
.
__ADS_1
Hay ... apa kabar? Kangen nggak sama aku. maaf baru bisa up lagi. Hayoo, ramein lagi cerita Emily dan Leon. Dan terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu hingga cerita ini up lagi.. Jangan lupa like dan tinggalkan komentar kalian di bawah yah. Love you.. 🥰