
Robbin memandang ekspresi Emily yang tidak tenang, kemudian dengan nada lembut bertanya padanya.
"Ada apa?"
Emily menggeleng pelan memberi kode bahwa tidak ada apa-apa.
"Kau baik-baik saja Nona Emily?"
"Si, aku baik-baik saja," ujarnya seraya mengangkat wajah dan memberikan senyum tipis kepada Robbin. "Ini baru beberapa menit setelah kejadian tadi, mungkin setiap hari akan ada kejadian seperti tadi selama aku masih bekerja di sini. Jadi tentu saja aku harus terus baik-baik saja."
Robbin berdecak tawa. "Kau adalah istri Tuan Leon, jika mereka tahu, mana mungkin ada yang berani memperlakukan mu seperti tadi lagi."
Gadis yang sedang terlihat layu itu membalas ucapan sekretaris pribadi suaminya dengan tertawa. "Andai saja bisa seperti itu," ujarnya seraya kembali melihat bajunya yang basah.
__ADS_1
Robbin menyadari ketidaknyamanan Emily dengan pakaiannya. Pria gemulai itu menatapnya dengan sangat kasihan.
"Jika kau merasa tidak nyaman kau bisa mengganti bajumu itu. Aku bisa menyuruh seseorang untuk membelikan yang baru untukmu."
Emily menggelengkan kepala, sedikit ada kehangatan di hati wanita berambut panjang itu. Ia benar-benar tersentuh dengan kebaikan Robbin. Padahal, awal ia bertemu Robbin, pria itu sudah memberikan tugas yang berat untuknya. Ia bahkan sempat berfikir jika Robbin tidak menyukainya. Namun, sekarang dia malah sangat baik padanya. Mungkin karena Robbin sudah tahu jika Emily adalah istri dari bosnya.
"Ayolah Nona, kau akan masuk angin nanti. Dan lagi jika Bos datang dan melihat keadaanmu seperti ini dia bisa marah besar. Dia akan mengatakan jika aku menyiksa mu."
"Tidak apa-apa Robbin. Setelah beberapa saat baju ini akan kering. Lagipula kenapa Leon harus memarahi mu?"
"Kau adalah istrinya Nona, tentu saja ia akan khawatir ketika melihat mu seperti ini."
"Itu mustahil. Nyatanya dia bahkan tidak memperlakukanku dengan baik saat menjadi orang lain di kantor ini. Ku pikir, setidaknya dia akan menghargai ku sebagai patner kerjanya."
__ADS_1
Mata lelaki itu meredup dengan ekspresi yang rumit "Oh Tuhan! Kenapa kau sangat keras kepala sekali Nona.Kau tidak tahu kalau Tuan Leon itu sangat mengkhawatirkan mu."
"Kau yakin?"
"Tentu sa__" Mata Robbin membulat, suaranya tercekat hingga tidak melanjutkan ucapannya. Buru-buru ia menutup mulutnya menyadari jika baru saja ia membongkar rahasia bosnya. "Oh Tuhan, bagaimana ini. Apa yang sudah kau katakan Robbin?" gumam Robbin di dalam hati.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menutup mulut?" tanya Emily dengan tatapan penasaran.
"Tidak ada, aku hanya sedikit bersendawa tadi," ucap Robbin berkelit. Untung istri bosnya ini masih polos dan lugu, jadi dia tidak terlau menyadari apa yang sedang terjadi.
"Owh..." Wanita itu mengangguk-agung kecil dengan senyum yang terus melekat pada bibir tipisnya memberi tanda bahwa ia mengerti dengan ucapan Robbin. Padahal sebenarnya, ia sudah menyadari arah ucapan pria di depannya ini.
Mungkin Leon yang sudah mengaturnya untuk semua yang terjadi hari ini. Pria itu, entah sebenarnya dosa apa yang Emily lakukan kepadanya hingga dia sangat membenci dirinya. Dari pura-pura menjadi kak yang baik lalu menjadi suami yang pura-pura peduli, namun kenyataannya setiap apa yang terjadi pada Emily selalu saja ada hubungannya dengan dia.
__ADS_1