
"Kenapa mengingat wanita itu membuatku merasa tidak nyaman. Apa karena sekarang karena adanya Emily?"
Leon menatap wajahnya pada kaca setinggi tubuhnya yang ia taru di dalam ruangan. Sungguh, ketampanannya tiada dua. Namun, kenapa kekasihnya malah memilih orang lain dari pada dirinya. Dan sekarang, ketika dia sudah memiliki orang lain dan sedang berusaha membuka hati, tiba-tiba saja dia mengatakan ingin bertemu.
"Kenapa baru sekarang. Lalu ke mana saja kau saat aku membutuhkan mu."
Leon berujar dengan wajah sedih. Namun, setelah beberapa saat merenungi, tiba-tiba saja sesuatu terlintas di pikirannya. Leon mengerutkan kening dan mulai berfikir aneh-aneh.
"Jangan-jangan, ini adalah permainan ibuku. Oh Tuhan Mom! Jangan lagi."
Leon terduduk lemas di kursi kebesarannya. Memikirkan bagaimana dulu ibunya sangat membuat dia frustasi dengan terus menerus memaksanya berkencan dengan wanita-wanita pilihannya. Dan itu membuat Leon tertekan hingga banyak waktu ia abaikan untuk Cessy. Selalu dan selalu ketika dia ingin berkencan dengan kekasihnya, Saina selalu memaksanya untuk menemui wanita-wanita yang ia suruh untuk berusaha mengambil hatinya.
Mungkin itu penyebab keretakan hubungannya dengan Cessy. Wanita itu memilih untuk berselingkuh di banding harus terus-menerus menunggu hingga Leon ada wakru untuk mengencaninya. Membayangkan semua itu membuat kepala Leon menjadi pening. Di tambah lagi memikirkan bagimana caranya agar Emily mau memafkannya.
"Aaargg...!"
Leon memekik seperti orang yang sedang menahan kesakitan. Tanpa sengaja ia melempari jam kecil yang ada di atas mejanya hingga membuat suara yang keras.
__ADS_1
"Kenapa? Bunyi apa itu?" Robbin yang berada tepat di depan ruangan Leon merasa kaget dan berlari masuk ke dalam ruangan Leon tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Robbin masuk dan menoleh melihat wajah suram lelaki itu. "Apa kau baik-baik saja Tuan Leon?"
Robbin bertanya untuk memastikan keadaan atasannya. Itu karena dia belum melihat jam kecil yang di buang Leon tadi. Namun, saat langkah kakinya maju, ujung sepatunya tidak sengaja menginjak jam kecil itu.
"Astaga! Apa ini?" teriak Robbin langsung menunduk untum memungut barang rongsokkan itu, ia melirik ke arah tuannya sejenak.
Menyadari tatapan itu, Leon langsung berucap. "Apa?"
"Apa suara keras tadi berasal dari ini?"
Robbin menggelengkan kepalanya. "Jika kau tidak menyukainya, harusnya yang kau buang adalah orang yang memberikan ini Tuan. Bukan barang yang di berikan. Ini benda mati, untuk apa kau menyakitinya."
"Apa kau ingin di pecat?"
"Ya tidak begitu juga Tuan. Maaf jika aku lancang, tapi aku hanya mengatakan yang sejujurnya."
__ADS_1
Leon menahan Emosi dengn menghela napas panjang. "Di mana Jane? Apa dia masih ads di kantor?"
"Iya Tuan, kenapa? Apa anda ingin aku memanggilnya?"
"Untuk apa?" bentak Leon.
Robbin menatap atasannya dengan bingung. "Bukankah barusan anda menanyakannya?"
"Keluarlah!"
"Memanggil Jane?"
"Oh Tuhan Robbin." Leon mengepalkan kedua tangannya ingin sekali meremas kepala sekertarisnya itu. "Kau kebanyakan berbicara dengan Emily hingga sifat bodohnya itu berpindah padamu."
"Apa?"
"Sudahlah! Pergilah dan cari tahu di mana wanita itu berada. Semakin lama kau di sini, semakin membuatku kesal."
__ADS_1
"Tapi Tuan..." Perkataan Robbin tertahan karena Leon sedang menatapnya dari tempat duduknya. "Baiklah, aku pergi." Pria setengah wanita itu langsung melangkah keluar dari ruangan Leon. Padahal, ia masih ingin bertanya kepada pria dingin itu kenapa masih mencari Cessy jika Nona Emily ada.