
"Emily..."
Suara pria itu terdemgar seperti sedang memohon.
"Aku tidak bisa Leon, mereka sedang menunggu ku. Dan lagi, sedang apa kau di sini? Mommy Saina akan marah jika tiba-tiba kau menghilang dari acara seperti ini."
"Aku tidak peduli."
"Kembalilah ke acara Leon. Ku mohon, jangan mempersulit keadaan ku."
"Apa kau sedang memohon agar aku membiarkan kau pergi berpesta bersama Robbin?"
Emily menatap pria itu sekilas dengan sedikit senyuman. "Oh Astaga Leon, apa kau cemburu kepada pria gemulai itu?"
"Biar bagaimana pun, aku tidak akan mengijinkan mu untuk pergi."
Emily menggelengkan kepala melihat kelakuan Leon yang seperti anak kecil. Padahal usianya sudah cukup dewasa. "Leon aku mohon jangan seperti ini."
"Sudah ku katakan aku tidak peduli. Pokonya kau harus tetap di sini. Aku akan menghubungi Robbin untuk membatalkan pesta itu."
"Jangan lakukan itu."
__ADS_1
"Kalau begitu tetaplah di sini."
Emily menarik napasnya dengan wajah kesal. Entah apa keinginan keluarga ini. yang satu melarangnya, yang satu menginginkannya dan yang satu lagi tidak mau tahu.
"Lalu apa aku harus di kamar? Dan ketika bosan aku bisa berjalan ke balkon terus menyaksikan bagaimana kau bercanda dengan gadis-gadis itu? Mereka sangat terlihat cantik dan pas jika berada di sampingmu. Lalu aku? Aku hanya melihat dari kejauhan sambil mengenakan pajama tidurku."
"Kau bisa berdandan jika kau mau, gunakan gaun yang kau sukai."
Ucapan Leon membuat Emily diam tak bergeming. Kata-kata sungguh tidak masuk akal. Untuk apa dia berdandan juga memakai gaun mewah jika hanya melihat dari jarak jau.
"Aku tidak bisa Leon, aku harus segera pergi."
"Lalu bagaimama denganku?"
Sontak ucapan Emily membuat Leon menatap tajam. "Baiklah. Jika itu yang kau mau, aku akan melakukannya."
Leon melangkah pergi, kembali ke pesta dengan wajah gusar. Ia menenguk minuman dengan sangat rakus lalu mendekati gadis-gadis yang sempat ia acuhkan tadi.
Ia menyapa dengan mencium pipi seorang gadis yang sedari tadi terus berusaha mencuri perhatiannya. Pria itu sengaja melakukannya, ia menuruti semua yang di katakan istrinya tadi, karena ia tahu jika pasti Emily sedang memperhatikannya dari atas balkon.
Namun, saat akan melihat kebenaran itu, wajah gadis yang ia harapkan akan melihat kelakuannya itu tidak ada di sana.
__ADS_1
Deretan gigi Leon saling beradu. "Jadi kau lebih memilih untuk pergi."
Kecewa karena Emily seperti tidak memperdulikanny, Leon mendorong tubuh gadis yang sedang berada di dalam pelukannya, meraih sebotol minuman lalu melangkah pergi dengan kemarahan.
Tetapi, pria itu ternyata salah. Emily sebenarnya menyaksikan bagaimana Leon mencium pipi gadis itu. Namun, sebelum pria itu berbalik untuk melihat, Emily sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.
"Hallo Robbin."
"Kau di mana? Kenapa belum sampai juga."
"Maaf aku tidak bisa datang. Aku tidak bisa meninggalkannya. Kau tahu bukan, hari ini adalah ulang tahunnya."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mencari alasan yang tepat agar yang lain tidak curiga."
"Terima kasih Robbin."
"Huh! Dasar kau gadis pembuat masalah."
Emily tersenyum lalu menutup panggilannya. Gadis itu lalu melepaskan hilss mahal di kakinya, membuang mini pack hitam dengan tali emas itu begitu saja di lantai lalu menghempaskn diri ke atas tempat tidurnya dengan kasar.
"Harusnya tadi, aku tidak mengatakan seperti itu padanya."
__ADS_1
Emily membenamkan kepala pada bantal lalu memejamkan matanya sejenak. "Aku sangat merindukan kalian, Ma, pa," ucapnya dengan suara yang begitu lirih.