Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 26


__ADS_3

Penelope shock dan terpuruk melihat Emily yang tertawa mengejek padanya. Gigi putih yang rapi itu mengertak menahan kebencian terhadap saudara sepupunya itu. Catalina juga tidak terima jika putrinya di perlakukan seperti itu, di anggap tidak memiliki apa-apa oleh Emily. Namun, mengingat siapa keluarga yang berada di belakang Emily membuat wanita tua itu ragu untuk melawan.


"Kenapa Ibu harus memberikan gadis pembawa sial itu uang, seharusnya ibu memberikannya padaku."


"Sudahlah, lagi pula kita masih punya lebih banyak setelah menjual rumahnya."


Penelope mencibir. "Wanita itu benar-benar keterlaluan, dia pikir dia siapa? Beraninya merobek cek berisi uang di hadapanku."


"Apa Ibu serius sudah menjual rumahnya, atau hanya menggunakan trik agar dia percaya jika rumahnya sudah tidak ada."


Catalina menyunggingkan seringai licik. "Apapun alasannya, rumah itu akan aku jual. Dan gadis bodoh itu, dia harus mendapatkan ganjaran karena telah mempermalukanku hari ini."


Penelope membuang napas panjang. "Terserah kau saja ibu, aku lelah. Aku ingin istirahat sebentar."


"Dasar anak pemalas. Jangan menggunakan alasan kerjamu untuk bermalas-malasan. Kau harus berusaha lebih kerasa agar bisa mengalahkan Emily."


"Ibu!" Penelope mengerutu untuk ibunya. "Kenapa lau membandingkan gadis aneh itu denganku, apa kau tidak lihat betapa modisnya diriku ini, semua barang milikku adalah merek ternama. Dan Emily, dia seperti seorang pelayan. Pakaiannya bahkan tidak terlihat mewah dariku."

__ADS_1


"Ya ... ya ... ya. Aku tahu. Pergilah, kau membuat kepalau sakit." Catalina mengusir anaknya dengan barang-barang setumpuk yang baru saja dia bawa pulang. "Dia hanyalah pegawai biasa, bahkan gajinya tidak cukup untuk membeli sebuah tas mahal. Tapi lihatlah, dia menghabiskan semua uangku dengan barang-barang mewah itu."


Wanita tua itu terlihat sedikit kesal, di tambah lagi ia memikirkan tentang ancaman Emily. Jika Romario sadar jika Penelope bekerja di perusahaannya, mungkin saja gadis boros itu akan di pecat. "Benar-benar menyebalkan."


****


Emily kembali ke Mansion keluarga Mugel sesuai dengan janjinya. Sebelum matahari terbit gadis itu sudah harus berada di Mansion. Seperti biasa, dia akan melakukan pekerjaannya merawat Leon, mulai dari membersihkan tubuhnya, lalu memijatnya sejenak. Saat memijat, biasanya Emily akan bercerita tentang apa saja yang ia lakukan seharian ini.


Saat sedang seriusnya bercerita, tubuh mungilnya merasakan hawa tidak enak di sekitarnya, seketika semua lampu kamar mati dan ruangan besar itu menjadi gelap pekat. Tangan hangat dan tatapan dingin itu pun melintas di hadapannya.


"Selamat malam Nona Emily, apa kau merindukan ku?"


"Ini hari terakhir kesepakatan kita, apa kau lupa. Sudah ku katakan aku akan kembali."


Emily menarik napas dapam-dalam lalu membuangnya pelan. "Menjauh dariku."


"Kenapa? Kau takut dia akan bangun dan memergoki kita sedang bermesraan."

__ADS_1


Sambil mengatakan itu tangannya meraba ke seluruh area tubuh Emily. Gadis itu mencoba meronta. Namun, pria itu dengan cepat menguncinya hingga ia tidak bisa bergerak. "Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan."


"Aku menunggu jawabanmu Emily."


Emily merasakan hembusan napas pria itu, sangat dekat hingga gadis itu sedikit bergidik karena ketakutan. "Berhenti menggangguku, aku tidak akan menyepakati apapun denganmu. Siapa kau? Aku bahkan tidak mengenalmu, kau datang seperti hantu."


Pria itu marah hingga dengan kasar menarik Emily membuat gadis itu terjatuh dan di tindih dari atasnya. "Kau tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu. Bahkan lebih dari yang kau bayangkan."


"Lepaskan!" Emily, sekuat tenaga melonggarkan tangan dari dekapan pria itu agar bisa meraih Leon. Sungguh tragis, dia meminta pertolongan dari pria yang sedang koma. "Please ...," gumam Emily pelan.


Cukup lama berusaha meraih Leon, akhirnga tekanan akhirnya meregang dan pria itu melepaskannya.


"Aku akan kembali dan menagih jawabanmu lagi Emily."


Setelah mengatakan itu, pria asing itu melangkah meninggalkan Emily dan melompat cepat menghilang di balik tinggi balkon kamarnya. Dengan pelan-pelan Emily bangkit, duduk dan kembali mengatur napasnya tanpa menyadari lengan bajunya yang sobek. Emily merasa takut, tubuh kecil itu gemetar membayangkan hal terburuk yang akan terjadi malam ini.


Emily bergeser mendekat kepada Leon. Membenamkan kepalanya di balik lengan kaku itu dan menangis di sana. "Bisakah kau cepat bangun? Tidak apa jika kau tidak menginginkanku, tidak apa jika kau mengucapkan kata-kata kasar padaku, tidak apa jika kau menganggapku adalah orang asing. Bangunlah Leon, Aku merindukanmu."

__ADS_1


Perlahan, hembusan angin malam dan dinginnya udara membuat mata Emily berat dan akhirnya tertidur.


__ADS_2