Rine And Shine

Rine And Shine
Bab 56


__ADS_3

Leon membulatkan mata terkejut saat kembali dari rapat dan mendapati seorang wanita tengah tertidur di lantai tepat di samping tumpukan kertas dengan kaki kosong. Ujung kakinya terlihat merah dan tentu karena udara di luar memang sedikit dingin.


Ia melangkah pelan mendekati Emily yang tertidur pulas. Melihat bagaimana tumpukan kertas itu tersusun rapi ia sangat yakin jika wanita di depannya ini sudah berkerja keras menyusunnya dari semenjak ia pergi. Lalu matanya beralih mencari sesuatu. Namun, ia tidak menemukannya.


"Apa yang terjadi di sini?"


Leon menghampiri meja kebesarannya meraih gagang telepon dan menghubungi seseorang. "ke ruanganku sekarang."


Beberapa menit berlalu dan sesoerang terdengar mengetuk pintu ruangannya. Lalu terlihat sosok yang ia cari tadi muncul di balik pintu yang terbuka. Dan tanpa basa basi terlebih dahulu Leon langsung mencecarnya.


"Apa ini?" ujarnya pelan dengan hati-hati agar suaranya tidak mengganggu tidurnya Emily.


"Maaf aku tidak mengerti Tuan."


"Pelankan suaramu. Lihat itu." ia menunjuk ke arah Emily.


"Oh Tuhan." Robbin pura-pura terlihat kaget. Padahl ia tahu jika wanita itu memang sudah tertidur sebelum ia meninggalkan ruangan untuk makan siang tadi. "Akan ku bangunkan dia."


"Hei!" Leon dengan cepat menahan gerakan robbin. "Apa yang akan kau lakukan?" ujarnya dengan wajah cukup serius.


"Tentu saja membangunkannya Tuan."

__ADS_1


"Apa kau gila!"


"Maaf."


Leon terlihat sedikit kesal. "Apa kau yang menyuruhnya membereskan kertas-kertas itu? Bukankah sudah ku katakan untuk membuangnya. Kenapa kau malah menyuruh untuk merapikannya kembali."


"Maaf tapi bukankah bos yang menyuruhku memberikannya pekerjaan yang membosankan, karena itu aku suruh saja dia merapikan kertas-kertas itu."


"Oh astaga Robbin! Kau benar-benar tidak punya otak. Aku memang menyuruhmu tadi, tapi bukan berarti dia harus mengerjakan pekerjaan yang seharunya tidak ada."


"Tapi hanya itu yang ku rasa membosankan. Menyusun kembali kertas-kertas itu butuh waktu lama dan mungkin karena kecapean dia tertidur," jelas Robbin. Ia pun bingung kenapa dia harus di marahi padahal ini adalah ide darinya.


"Sudahlah bereskan kertas-kertas itu dan singkirkan sejauh mungkin."


"Ikuti saja yang ku katakan atau kau akan membuat perang ink semakin memanas."


"Perang?" tanya Robbin semakin tidak mengerti.


"Berhenti bertanya dan lakukan saja tugsmu. Kau membuarku semakin pusing."


Leon menghampiri Emily yang masih tertidur di lantai, merapikan bajunha lalu membelai rambut yang menutup wajahnya dengan lembut. "Dia pasti sangat kelelahan hinga tertidur sepulas ini."

__ADS_1


Ia merangkul dan mengangkat tubuh istrinya kemudian dengan pelan membawanya ke sofa agar tertidur dengan baik. Dan Robbin yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Leon terlihat semakin bingung demgan semua itu. Ia menganalisis apa yang terjadi di ruangan ini. Namun, malah keraguan yang menghampirinya. Hingga membuat ia harus terpaksa bertanya kepada atasannya.


"Tuan."


"Ada apa lagi."


Ia memberi kode dengan menatap Emily lalu kembali menatap Leon.


"Kenapa? Kau penasaran kenapa aku melakukan ini semua?"


"Si."


Leon menghembuskan napas berat, lalu mengangkat muka menatap Robbin "Dia istriku."


"Apa?"


Robbin begitu kaget hingva tak mampu berkata-kata lagi. Hanya menatap saling tukar antara Leon dan Emily dengan mulut yang masih terbuka.


"Jangan katakan apapun atau sebarkan apapun. Ingat, hanya kau yang tahu Emily adalah istriku. Jika berita ini tersebar maka kau akan aku pecat," ancam Leon pada Robbin. Ia sangat mengenal tangan kanannya itu. Lelaki setengah wanita ini, tidak ada gosip yang bisa ia lewatkan.


"Lalu kenapa kau menyuruhku untuk mengerjainya."

__ADS_1


"Aku hanya ingin sedikit menggodanya. Tapi kau malah membuat ini berantakan." Leon menatap sinis ke arah Robbin. "Lihat saja nanti ketika dia bangun."


__ADS_2