Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 19


__ADS_3

Emily mendesah kasar, kembali mengingat kejadian semalam. Mungkin saja pria itu sengaja meninggalkan jejak agar dirinya di marahi oleh Saina. "Tidak mungkin, kita bahkan tidak saling mengenal meski dia tahu siapa namaku."


Emily beranggapan jika keluarga Mugel ada pengusaha besar di Madrid, ada banyak orang yang menjadi musuh keluarga Mugel, pria semalm mungkin adalah salah satu musuh Daddy Romario, tapi yang membuat aneh. Bagaimana bisa dia keluar masuk dengan aman di dalam Mansion ini. Dengan penjagaan dan Cctv yang berada di mana-mana.


"Ah sudahlah, kepala ku sakit memikirkan semua ini."


Emily melangkah mendekati balkon, di mana saat semalam pria aneh itu mungkin naik melewati area ini. Cukup tinggi dan menyeramkan, jika seseorang jatuh dari atas tempat ia berdiri maka tulang-tulangnya pasti akan patah. "Apa aku harus mengatakan kejadian semalam kepada Daddy?"


Emily segera menemui Romario. Namun, tiba-tiba ia mengurungkan langkah, jika dia mengatakan tentang bagaimana pria itu menyentuhnya Daddy dan tante Saina akan bertanya bagiamana dia mengenal pria itu. Bahkan melihat raut wajahnya saja tidak, lalu bagaimana bisa dia menjawab.


"Tidak ... Tidak ... Tidak. Aku tidak boleh gegabah, jika mereka tahu maka tamatlah riwayatku, pria itu juga tidak akan segan untuk melukaiku. Dia juga tahu siapa namaku, entah dari mana asal pria itu. Benar-benar aneh."


"Siapa yang aneh?"

__ADS_1


Emily terhentak kaget saat tiba-tiba seseorang muncul dan berdiri tepat di belakangnya. Dan suara itu sangat ia kenal.


"Tante Saina!"


"Siapa yang kau katakan pria aneh, apa putraku?"


Bibir Emily bergetar beberapa saat, entah alasan apa yang harus ia katakan kepada wanita jahat di depannya ini. "Bu-bukan itu maksudku Tante, Leon sama sekali tidak aneh, justru akulah orang aneh itu."


"Apa maksudmu?"


"Sudah ku duga kau sengaja melakukannya," teriak Saina lantang. Kedua tangan wanita itu mengepal, lalu dengan langkah tegas ia mendekati Emliy.


"Saina!" Romaria menarik tangan Saina yang hendak mencekik Emily. "Apa yang kau lakukan. Sudsh ku katakan berhenti mengasarinya."

__ADS_1


"Daddy, aku tahu aku salah. Selanjutnya aku akan merawat Leon dengan baik, dan tidak akan membiarkan Leon terluka sedikitpun. Aku janji."


Mata Saina memerah mendengar itu, sekarang amarah memuncak bagaikan singa kelaparan yang ingin sekali menerkam Emily dan menggerogoti seluruh tubuhnya hingga habis. "Mulai sekarang, kau tidak akan di beri makanan jika tidak bekerja. Itu adalah hukumanmu."


"Saina ayolah, dia sudah menyesalinya. Lagi pula dia tidak sengaja melakukannya. Dan itu hanya goresan kecil saja. Bagaimana dia bisa merawat Leon dengan baik jika dia tidak makan, apalagi harus bekerja. Bagaimana dengan tugasnya mengurus Leon."


Saina tampak berfikir, yang di katakan Romario memang benar. Bukankah gadis itu di bawa keluar untuk merawat Leon putranya. "Baiklah, aku ganti hukumanmu. Kau harus merawat semua bunga-bungaku, jika ada satu tangkai saja yang layu atau mati, hukumanmu akan aku tambahkan."


"Tapi Saina, bagaimana bisa dia bolak balik Mansion mu. Sedangkan setiap pagi dia juga harus merawat Leon?"


"Arrrrrggh. Pria tua ini. Kenapa kau begitu memanjakan anak sialan ini. Ya sudah biarkan saja dia. Aku muak denganmu."


Saina melangkah pergi dari kamar Leon dengan wajah yang kesal. Saat itu pula seorang pelayan me dekat lalu berbisik panjang padanya. "Apa kau yakin?" tanya Saina memastikan.

__ADS_1


"Si, Aku yakin. Nyonya jangan khawatir, aku akan melakukan tugasku dengan baik."


__ADS_2