Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 16


__ADS_3

Emily terbangun saat matahari pagi menyapa wajahnya. Pagi yang cukup cerah di musim dingin. Perlahan ia membuka mata, menatap lurus pada pria tampan dengan wajah sedikit pucat di depannya. Hangatnya tubuh Leon membuat ia ingin kembali melanjutkan tidurnya. Saat hendak duduk, Emily baru sadar jika sekarang ia berada di dalam pelukan Leon.


"Aaaah!"


Emily meronta dan segera bangun. Wajahnya terasa panas, dan pipinya pun mulai merona karena malu. Meski Leon adalah orang yang sedang koma, tetapi dia adalah seorang pria dewasa dan begitupun dengan Emily. Berada dalam pelukan seorang pria, bagaimana ia tidak merasa malu.


Emily menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Setelah selesai ia mengganti bajunya dan beranjak keluar. Sebelum menutup pintu Emily kembali menoleh pada tubuh pria yang terbaring kaku di sana. Ada beberapa keraguan di benaknya. Bagaimana bisa ia berada di dalam pelukan Leon, ia menyadari betul cara tidurnya. Tidak pernah sekalipun ia bergerak memeluk pria itu saat tidur semalam. Dan lagi, saat melepaskan diri, ia merasa tekanan lengan Leon sangat kuat pada pinggangnya.

__ADS_1


"Apakah itu hanya pikiranku saja?" Emily mendesah. Mungkin karena terlalu gugup ia merasa seperti Leon tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Huh .... sudahlah Emily, bangun dari tidurmu. Itu hanya perasaanmu saja. Bagaimana bisa ia sadar dan memelukmu seperti itu." Gadis itu menggelengkan kepala. Mungkin karena keinginan agar Leon cepat sadar membawanya berhalusinasi. Orang yang sudah koma selama 2 tahun bagaimana bisa tiba-tiba sadar, hanya dalam jangka waktu satu malam.


*****


Hari-hari berlalu, Emily melakukan semua tugas untuk merawat Leon dengan sangat baik. Latihan memijatnya juga sudah cukup lumayan hingga dia tidak perlu terus belajar lagi. Setiap harinya Emily selalu berada di sisi Leon, entah membacakan buku, bercerita hal-hal lucu atau kadang ia sering menangis di depan pria itu.

__ADS_1


"Hidupku sangat membosankan. Lihatlah aku bahkan memiliki suami yang koma."


Emily membuang napas kasar. Ia menghempaskan tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur. Sangat kasar, sengaja ia lakukan untuk membuat Leon merespon. Namun, usahanya selalu gagal. Kali ini ia tidak segera menyerah, dengan latihan pijat yang sudah terampil, Emily kembali duduk dan memainkan jemari kecilnya pada bagian kaki Leon, lalu naik hingga menyusuri seluruh bagian tubuh pria itu. Ia sengaja sedikit kasar dan keras. Namun, Leon sama sekali tidak merespon.


"Kau menghancurkan harapanku, awalnya ku pikir kau benar-benar sudah sembuh. Tapi ternyata, sepertinya aku terlalu berhalusinasi."


Emily kembali membaringkan tubuhnya. Gadis itu mendesah berulang kali, membuang kekecewaan di dalam hatinya yang semakin hari semakin menumpuk. "Kapan kau akan bangun, ini sudah beberapa bulan, dan sama sekali tidak ada kemajuan apapun darimu. Apa kau ingin kita seperti ini seumur hidup," pekik Emily dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


Berbaring di tempat tidur yang nyaman, makan makanan yang enak, di kelilingi oleh segala hal yang mewah tidak membuat Emily betah. Ia masih terus memikirkan bagaimana siksaan yang ia alami karena salah paham hingga membawa ia masuk penjara.


"Bangunlah Leon, bangunlah. Apa kau tidak kasihan dengan hidupku yang menyedihkan ini."


__ADS_2