
Emily, untuk pertama kalinya ia merasa legah. Pasalnya, baru kali ini ia mau berbagi segala hal tentang hubungannya dengan sang direktur. Meski di rumah dia sering kali bercerita kepada Joya. Namun, tidak sama halnya saat ia berbagi cerita itu dengan Robbin.
Respon Joya dan Robbbin atas ceritanya sangatlah berbeda. Jika di depannya adalah Joya, maka gadis itu akan mengatakan kepada Emily jika dia harus kuat, sabar, tetap renda hati dan jangan mempercayai apapun terkecuali kau melihatnya langsung. Sedangkan Robbin, pria setengah anggun itu selalu mengatakan hal-hal keras. Seperti, cara untuk melawan, untuk menarik perhatian jangan lemah harus tegas dan tidak boleh cepat memberi maaf.
Yah, semua kalimat-kalimat itu selalu membuat motifasi, tetapi kadang-kadang membuat wanita berambut panjang itu tidak bisa mengendalikan emosinya, terutama saat sedang memikirkan tentang hubungan hambarnya dengan Leon. Kadang ia merasa ingin menjambak karena terpancing Emosi. Apalagi memikirkan sikap Leon pada waktu itu padanya, dia memperlakukannya seperti wanita buangan.
Namun, setelah tahu cerita sebenarnya dan juga sedikit penjelasan dari Leon, Emily mulai mengerti. Hanya saja saat ini gengsi untuk memaafkan suaminya lebih besar, ini tentang jarga dirinya. Jika Leon benar-benar merasa menyesal, pastinya dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan maaf dari Emily. Namun, jika dia hanya berpura-pura. Lebih baik dia bersedia untuk melepaskan Emily. Gadia yatim piatu itu tidak ingin perasaannya di mainkan hanya karena sebuah wasiat.
"Apa yang kau pikirkan, Nona Emily?"
"Tidak ada."
"Jangan berbohong. Raut wajah mu menunjukkan ada banyak hal di sini." Robbin menyentuh kepala Emily.
__ADS_1
Di saat waktu yang bersamaan saat Robbin memegang kepala Emily, Leon muncul dan mengejutkan kedua orang itu.
"Apa yang kalian lakukan?"
Lelaki setengah wanita itu sedikit kaget, ia berbalik dan melihat ke arah sumber suara dan mendapati jika itu adalah suara atasannya. "Aku sedang mengajari istrimu untuk menjadi wanita tegas dan bahagia."
Kening Leon berkerut. "Jangan mengajari hal aneh padanya. Dia sudah cukup aneh bagiku, jangan menambah apapun lagi."
Leon menatap sejenak ke arah Robbin. Memang benar, Beberapa hari ini Emily bekerja dengan sangat baik. Semua pekerjaannya terlihat rapi dan juga sesuai yang di perintahkan olehnya. Membuat Leon susah untuk mendapatkan cela atas kesalahan gadis itu.
"Ada apa Tuan Leon? Apa kau sedang mencurigai ku mengajari hal-hal tidak baik pada istrimu?"
"Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu, lanjutkan pekerjaan kalian dan jangan menganggu ku."
__ADS_1
Leon sedikit melirik ke arah Istrinya lalu melangkah tegas menuju singasananya. Ketika ia mulai akan menyalakan laptopnya, fokus pria itu teralihkan dengan beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya itu. Bukan karena berkas yang tersusun rapi tapi di sela-sela berkas ada sesuatu yang asing.
Pria itu mendekatkan pandangannya fokus pada beberapa kertas tipis yang mungkin sengaja Emily tinggalkan di sana.
"Apa ini?" Tangan Leon terangkat ingin menyentuh kertas kecil itu namun segera di tepos oleh Emily.
"Jangan di lepas. Itu hanya kertas pembatas, aku menaruhnya di sana agar kau mudah saat mencari halaman yang akan kau tanda tangani."
"Kau sendiri yang membuatnya?'
Gadis itu mengangguk malu. "Yah."
Ada sedikit rasa legah di dalam hati Leon. Ia pikir Emily akan merasa bosan dan tidak menyukai pekerjaannya.Ternyata perkiraannya itu salah, Emily adalah pribadi yang tapi dan juga cekatan. Semua urusan soal kantor di tangani oleh wanita itu dengan baik.Tampaknya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Emily terbuka lebar.
__ADS_1