
Malam semakin larut dan Emily pun semakin terbawa alur kesedihannya membuat matanya terus terjaga. Tempat tidur Leon yang begitu nyaman bahkan tidak bisa membuat Emily menutup mata. Dalam kegelapan dan kegundaan hatinya. Tiba-tiba saja sekelebat sentuhan hangat mengurung dirinya.
"Aaaahh!" Emily terbangun sambil menjerit keras berjuang melepaskan diri. "Siapa ini! Lepaskan aku!"
Emily tanpa sadar menggumamkan nama Leon, ia mengira jika yang mendekap erat tubuhnya saat ini adalah Leon yang sudah bangun dari tidurnya. Akan tetapi saat tangannya meraba, tidak sengaja ia menyentuh tubuh hangat yang tertidur di sampingan. "Leon? Dia ...."
Mata cokelat itu melebar dengan tubuh yang gemetar. Jika Leon masih terbaring di sampingnya, lalu siapa yang sedang mendekapnya saat ini. Ruangan terlalu gelap karena Emily baru saja mematikan semua lampu saat ia sudah tidur tadi. Hanya terlihat samar-samar jika yang di atasnya saat ini adalah seorang pria.
"Siapa kau! Apa yang kau inginkan dariku? Bagaimana kau bisa masuk ke kamar orang lain tanpa ijin." Emily masih terus berusaha lepas, karena jika seseorang datang dan melihat keadaan seperti ini, mereka akan mengira jika dia sengaja memasukan pria ini, apalagi jika Saina tahu. Jelas dia akan membuat Emily semakin menderita.
"Jangan terus melawanku, atau kau akan terkena masalah." Suara laki-laki asing di depannya ini membuat jantung Emily berdegup semakin kencang, itu adalah suara Leon. Dia ingat dengan jelas nada suara pria itu. Tetapi bagaimana bisa, bukankah Leon sedang berbaring di sampingnya. Atau mungkin ini mimpi.
"Si--siapa kau?"
"Aku?" Dari kegelapan pria itu menyunggingkan senyum. "Aku adalah pria yang mengagumi mu," bisik pria itu pelan. Ia kembali membuat Emily merasa seperti sedang di goda, pria itu berhasil membuat hasrat di dalam hatinya bergelora.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan. Aku adalah istri dari pria yang terbaring di samping, apa kau tidak tahu jika aku adalah salah satu menantu dari keluarga Mugel. Jika mereka tahu kau kedapatan menerobos masuk ke dalam kamar tuan muda dan berani melecehkanku seperti ini, ku, aku yakin kau tidak akan keluar hidup-hidup."
Emily berusaha membuat pria itu takut, agar segera melepaskannya. Entah apa yang akan terjadi jika Saina tahu akan hal ini.
"Lepaskan aku, kalau tidak aku akan berteriak dan orang-orang di Manison akan datang dan menangkapmu."
"Hahahah!" Pria itu terkekeh. Ia sama sekali tidak bergeming dengan ancaman Emily padanya. "Berteriaklah jika kau mau, jangan berfikir jika aku takut dengan ancaman kecilmu itu."
"Aaughhh!" Emily menjerit saat lengan kekar itu lebih mengeratkan dekapannya. "Apa yang kau lakhkan, lepaskan aku!"
"Berteriaklah Nona Emily. Kita akan lihat, siapa yang akan muncul untuk menyelamatkanmu. Aku ingin tahu, bagaimana reaksi pria tua itu saat melihat menantu satu-satunya berada di bawa seorang pria dengan penampilan seperti ini."
"Hentikan! Hentikan! Aku mohon hentikan." Emily mulai terisak, mana mungkin pria asing ini bisa begitu berani melecehkannya di samping suaminya sendiri. "Apa yang salah dengan diriku, kenapa kau melakukan semua ini padaku."
"Aku yakin, ibu dari pria yang menjadi suami mu ini akan membunuhmu secara diam-diam karena kau sudah mencoreng nama baik keluarga Mugel."
__ADS_1
Tubuh Emily seketika menjadi kaku dan beku. Mendengar nama penjara membuat sekujur tubuhnya terasa mati. Dia tidak ingin kembali lagi ke tempat itu. Jika harus mati, kenapa harus dengan cara seperti ini.
Melihat Emily yang tidak lagi melawan membuat pria itu tersenyum licik kembali melakukan aksinya. Ia semakin kurang ajar, meraba ke seluruh tubuh Emily. Bahkan merampas ciumannya dengan sangat kasar. Saat ciuman itu semakin dalam, Emily menggunakan sisa tenaga yang ia miliki untuk menggigit bibir pria itu. Seketika bau darah tercium.
"Arggh! kenapa kau mengigitku?"
"Menjauh dariku pria tidak tahu malu. Aku mungkin tidak bisa berteriak, tetapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu padaku."
"Kau!"
Saat pria itu hendak kembali mendekatinya. Suara ketukan pintu menghentikannya.
"Señorita, ini aku Joya. Apa sesuatu terjadi? Aku mendengar teriakanmu."
Emily menatap pintu, ingin sekali ia berteriak meminta tolong kepada Joya, tetapi tatapan dingin pria di depannya membuat Emily ketakutan. Kegelapan malam membuat ia hanya bisa melihat sepasang mata dingin itu. "Tidak Joya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit mimpi buruk tadi."
__ADS_1
Saat bayangan di bawah pintu itu menghilang, pria dengab sepasang mata dingin itu, melangkah panjang dan melompat dari balkon dan menghilang di bawah kelamnya malam di musim dingin ini.
Emily membuang napas legah. Ia buru-buru menyalakan lampu, melihat kembali apakah benar jika pria yang terbaring di sampingnya adalah Leon. "Oh God!"