
Wajah Leon tampak muram, padahal sebentar lagi acara akan segera di mulai. Meskipun ia sudah memohon pada ibunya agar Emily bisa ikut serta di dalam acara, Saina sama sekali tidak menggubrisnya. Bahkan wanita tua dengan dandanan galamour itu mengancam akan menyiksa Emily dan memperkenalkan dia sebagai pembantu di depan para tamu undangan jika suaminya juga ikut protes.
"Perhatikan wajahmu Leon, meskipun kau marah pada ku, kau tetap harus terlihat baik. Pesta ini kami adakan untuk mu."
"Tapi aku butuh istriku untuk berada di samping ku."
"Jangan membantah."
"Mom!"
"No Leon. Mau taru di mana muka keluarga Mugel jika kau keluar dengan menggandeng anak yatim piatu itu. Lagi pula, apa yang Mommy dan Daddy lakukan ini semua demi kebaikanmu."
Leon membalikkan badan menatap dengan tatapan memohon pada ayah Romario.
__ADS_1
"Dad!"
Romario hanya terdiam. Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kelurga Mugel adalah terpandang di kota madrid, dan Leon adalah seorang ahli waris. Banyak sekali keluarga dengan latar belakang terbaik mengincarnya untuk di jadikan menantu. Dan tentu saja itu tidak sekedar hubungan keluarga, banyak dari mereka yang berlomba-lomba menanamkan saham pada perusahaan Mugel dengan tujua akan merenekomendasikan anaknya sebagai calon menantu keluarga Mugel.
Jika tiba-tiba ia mengumumkan putra tunggalnya itu sudah memiliki istri, tentu saja akan membuat pondasi perusahaan sedikit goyah. Jadi, jalan satu-satunya ia hanya bisa menyetujui tindakan Saina.
...----------------...
Acara mulai berlangsung dan Leon tentu harus tampil baik. Namun jangan berharap jika pria dingin itu akan tersenyum, itu sangat mustahil baginya. Apalagi dengan suasana hati yang sedang kacau seperti sekarang ini.
Itu karena malam ini, Leon mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih sebagai **********. Ia membiarkan jas hitamnya tidak terkancing juga kemeja yang bagian lehernya sengaja di buat sedikit terbuka membiarkan tato singa kecil di atas dadanya terlihat jelas.
Itu adalah paduan yang sempurnah untuk seorang ahli waris. Penampilannya seperti itu membuat sosok yang memiliki postur tubuh tinggi itu semakin terlihat tampan.
__ADS_1
Hati Emily bergetar cemburu, dari tempat ia berdiri, yaitu dari lantai dua melalui balkon kamarnya yang mengarah tepat ke taman di mana acara di langsungkan. Ia memperhatikan para tamu yang saling mengobrol dengan santai. Mata Emily kini fokus pada seorang wanita paruh baya yang menarik putri kecilnya untuk mendekati Leon.
"Mau apa dia?" gumam Emily di dalam hati.
"Selamat ulang tahun Tuan Leon." Seorang wanita paruh baya dan gadis remaja mendekati Leon. Perkenalkan ini putriku. Ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di amerika. Dia sengaja kembali lebih awal dari yang di jadwalkan untuk menghadiri ulang tahun mu."
Belom ssmpat Leon menjawab, sudah ada lagi yang lain.
"Hallo Leon. Selamat ulang tahun. ini adik ku, dia aku ajak karena terus-terusan meminta untuk bertemu dengan mu."
"Tuan Mugel..."
"Hallo Leon..."
__ADS_1
Bla bla bla...
Emily menatap pemandangan itu dengan tarapan kosong. Seperti ada ribuan pisau yang menghujam hatinya, Sungguh ia sangat cemburu, ingin sekali ia memiliki kesempatan untuk menikmati memakai gaun mewah, berdandan cantik lalu bergandeng dengan pasangannnya sambil menyapa para tamu yang hadir. Sayangnya, keadaannya saat ini sama persis dengan yang di katakan Leon semalam. Ia akan menikmati acara dengan menggunakan pajama tidurnya.