
Setelah mengantarkan Emily kembali ke Mansion, Robbin kembali ke kantor dan langsung menghadap Leon sesuai instruksi sebelum ia berangkat tadi. Ia sedikit merasa tegang karena pasti Leon akan membahas tentang kenapa pakaian Emily basah saat dia kembali tadi.
Tok tok tok...
"Masuklah."
Robbin masuk setelah di persilahkan oleh Leon.
"Apa ada yang bisa aku kerjakan Tuan," ujar Robbin, pura-pura bertanya untuk mengalihkan hawa dalam ruangan yang terasa panas.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi."
"Maksud Tuan?"
"Apa aku harus mengulanginya lagi?"
Tatapan dingin Leon membuat Robbin bergetar. Pria gemulai itu memang sudah mengikuti Leon cukup lama, terhitung dari awal Leon menjabat sebagai direktur. Namun dulu, Leon tidak sedingin ini. Dia adalah sosok panutan semua pria di kantor termasuk Robbin. Pembawaan yang santai dan cuek tapi perhatian, selera humor Leon juga tinggi hingga banyak karyawan kantor yang sering bercanda dengannya. Kadang, para karyawan wanita sering menggodanya meskipun mereka tahu jika sang direktur memiliki kekasih seorang model yang sangat cantik juga seksi
Sampai pada akhirnya dia mendapati kekasihnya Cessy yang bermain di belakangnya dengan sutradara dari film yang akan dia perankan. Semenjak saat itu Leon menjadi sangat tertutup, dingin dan tidak pernah lagi bercanda dengan semua orang di kantor. Ia hanya bicara seperlunya saja, itupun hanya boleh jika itu adalah urusan pekerjaan. Di luar dari pada itu, dia tidak akan meresponnya.
Bahkan tidak ada yang tahu jika Leon sudah menikah dan memiliki istri yang sekarang menjadi asisten pribadinya di kantor. Robbin bahkan sangat kaget mendengar jika atasannya sudah memiliki wanita lain. Meskipun Emily terlihat sederhana. Namun, aura cantik dan anggunnya tetap terpancar. Siapapun yang dekat dengannya akan merasa nyaman karena kepribadiannya yang tenang.
"Itu karena Jane..."
"Jane?"
"Si"
__ADS_1
"Apa yang di lakukan wanita gila itu, bukankah seharusnya dia sudah tidak lagi bekerja?"
"Aku tidak tahu Tuan. Tadi di kantin, dia tiba-tiba muncul dan mengatakan beberapa kata kepada Nona Emily lalu..." Robbin menjedah ucapannya, takut Leon akan marah besar jika tahu istrinya di permalukan di depan karyawan lain.
"Lalu apa? Katakan dengan benar."
"Jane, dia menyirami wajahnya dengan segalas air."
"Maksudmu Jane menyirami wajah Emily dengan air dari gelasnya?"
"Si."
"Lalu apa yang Emily lakukan? Apa dia membalasnya?"
"Nona hanya tersenyum, dia bahkan menahanku untuk tidak membalsnya."
Raut wajah Leon terlihat begitu kesal, di rumah Emily bagaikan singa yang kapan saja di sentuh akan menerkam. Lalu kenapa di kantor dia bagaikan putri salju yang dingin, menerima apa saja yang orang lakukan padanya dengan tersenyum
"Anda tahu bukan siapa yang ada di belakang Jane, Nona Emily juga tahu akan hal itu. Makanya dia hanya diam dan sama sekali tidak membalas."
"Jane, Jane..." Leon memanggil nama wanita yang dulu sempat di jodohkan dengannya. " Wanita itu, entah sampai kapan dia harus terus memprovokasi ibuku."
"Kau butuh bantuanku Tuan?"
Leon melirik Robbin dengan wajah penasaran. "Apa yang bisa kau lakukan, menyuruhmu memberikan Emily tugas saja tidak becus."
"Itu hanya soal miss komunikasi Tuan, kau juga tidak memberikan istruksi dengan benar. Hanya menyuruhku memberikan dia pekerjaan yang membuat dia bosan agar berhenti bekerja."
__ADS_1
"Ku pikir kau cukup pintar untuk memahami maksudku, ternyata bodoh!"
"Astaga Tuan, jika aku bodoh mana mungkin menjadi sekertaris pribadimu."
"Sudahlah, lebih baik kau cari cara agar jane bisa di singkirkan. Aku muak dengan wanita itu. Dia terus saja berkeliaran di sekitar ku."
"Si aku mengerti tuan."
"tunggu!"
"Ada lagi"
"Aku ingin meminta agar kau melakukan saru hal lagi padaku."
"Katakanlah, jika itu berhubungn dengan Nona Emily, aku bersedia membantu anda Tuan."
"Jadi kalian sekarang adalah teman."
"Tentu saja."
"Baijlah, kalau begitu. Bantu aku cari tahu di mana Cessy. Kau kenal dia bukan. Super model yang dulu pernah dekat dengnku."
...----------------...
Gays kasi dukungan kalian terus yah. Like juga koment sebanyak-banyaknya vote dan kasih hadia juga yah. biar karyaku makin berkembang agar poinku tidak terus turun 🥺.
Sedih bangt liat poin yang tiap haru turun. Bikin jadi malas update. Hanya karena kalian aku rajin up, meski hanya 1 bab. Lah kan jadi curhat aku..
__ADS_1