
Emily melakukan tugasnya dengan wajah kecut. Padahal ia pikir akan mendapatkan banyak pengalaman. Ternyata ini yang membuat pria menyebalkan itu menyetujui agar Emily mencoba bekerja. Dia hanya ingin menyiksanya dengan alasan pekerjaan.
Sambil membereskan berkas-berkas yang begitu banyak, bola mata Emily berputar meliht bagaimana ruangan ini di tata. Cukup rapi dan sangat mewah. Heran jika berkas-berkas ini menjdi tidak karuan seperti ini, seakan dia sengaja membuat ini untuk mengerjainya.
"Maaf, tapi apa berkas-berkas ini selalu tidak rapi seperti ini?" Emily bertanya karena rasa penasarannya yang terlalu tinggi.
"Yah, memangnya kenapa?"
"Tidak. Hanya saja ini sedikit aneh."
Robbin menatap wanita dengan rambut seperti ekor kuda itu dengan sorot mata tajam. "Aneh kenapa?"
"Di ruangan semewah ini, masih ada yang berantakan seperti ini. Padahal, setiap pagi bukankah tukang bersih-bersih selalu ada. Lagi pula sangat tidak masuk akal berkas-berkas ini di biarkan berantakan sementara ada begitu banyak rak buku yang terlihat begitu rapih. Bahkan ini terlihat seperti sebuah kesengajaan."
Robbin yang tadinya sibuk dengan laptopnya kini bersandar pada kursi dan melipat kedua tangannya di dada sambil menatap kembali Emily dengan dingin.
__ADS_1
"Apa kau sedang mengatakan jika Tuan Leon sedang mengerjaimu Nona Burman."
Gadis itu pura-pura merasa canggung. "Tentu saja tidak Tuan Robbin. Mana berani aku berfikir seperti itu pada atasanku," ujarnya dengan sedikit tertawa hambar.
"Kalau begitu berhenti mengatakan hal aneh dan selesaikan tugasnya sebelum Tuan Leon kembali."
Emily mengangguk. "Si. Akan ku selesaikan segera," jawab Emily. Wajahnya tidak menunjukkan keseriusan sedikit pun, melainkan nampak menantang dan sedikit mengesalkan. Dia sungguh sudah bosan sedari tadi hanya menyusun tumpukan map dan kertas-kertas ini.
Robbin tersenyum tipis melihat Emily yang sepertinya mulai membenci dia. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat gadis itu, bagaimana ia hanya duduk di lantai dan merapikan kertas. Bahkan kedua sepatunya ia lepaskan karena kakinya terasa kesemutan dengan hils tinggi itu. Namun, mau bagimana lagi. Ini adalah perintah Leon.
"Ehem..."
Emily berdehem karena terlihat Robbin sedari tadi sedang menatapnya.
Sadar dengan itu, Robbin segera mengalihkan pandangan dengan pura-pura mengetik pada laptopnya.
__ADS_1
"Apa ada yang aneh pada wajahku?"
Robbin terkekeh sambil menutup kembali laptopnya. "Aku hanya sedikit penasaran."
"Tentang?"
"Dirimu?"
Emily tersenyum miring "Ada apa dengan diriku?"
"Kau dan Tuan Leon, apa kalian ada hubungan spesial?"
"Kenapa tidak ku tanyakan saja pada bos mu itu."
"Apa kau wanita siampanannya? Maaf itu karena yang aku tahu dia memiliki tunangan seorang model terkenal."
__ADS_1
Emily memecah tawanya saat mendengar itu. Ingin sekali ia mengatakan jika dirinya adalah Nyonya muda Keluarga Mugel, istri dari pria yang menjadi atasannya itu. Apa? Simpanan? Memikirkan kata itu membuat dia tersadar jika pernikahannya dengan Leon memang di rahasiakan. Tidak banyak yang tahu tentang dirinya juga perjodohan itu. Jdi jels sj jika Robbin mengira dirinya ada simpanan Leon, karena yang dunia tahu kalau pria yang baru sadar dari koma itu memiliki kekasih seorang model terkenal yang bernama Cessy.