Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 41


__ADS_3

Dengan langkah lurus Leon kembali ke kamar, dia berfikir untuk lebih berlaku lembut kepada Emily setelah ini. Namun, ketika sampai di kamar, matanya berputar mengelilingi setiap sudut kamar. Ternyata Emily tidak kembali ke kamar.


"Kemana dia? Bukankah tadi dia ingin istirahat." Dengan wajah gusar, Leon melangkah mendekat ke kamar mandi, mungkin saja Emily sedang mandi karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 6 dini hari. "Emily! Apa kau di dalam?" Pria bertubuh tinggi kekar itu berteriak dengan lembut ke dalam kamar mandi untuk memastikan keberadaan istrinya. Namun, lagi-lagi yang ia dapatkan hanya keheningan.


Wajah Leon nampak stres. Ia menundukkan kepala dengan menyapu kasar wajahnya. Dalam kegelisahannya ia pun keluar dan memanggil pelayan kecil yang selalu setia menemani istrinya itu.


"Joya! Joya!"


Dengan berlari kecil, pelayan wanita itu menaiki tangga menghampiri majikannya.


"Si Tuan Muda."


"Apa kau melihat Emily? Dia tidak ada di kamar ketika aku bangun," ujar Leon memberi alasan agar pelayannya tidak curiga jika sesuatu telah terjadi.


"Tidak Tuan. Biasanya Nona selalu berada di kamarnya hingga jam sarapan tiba, barulah ia turun. Oh atau mungkin Senorita sedang di taman kecil?" ujar Joya seraya sedikit mencuri untuk melihat isi kamar majikannya.

__ADS_1


Senyum terpaksa terukir dari bibir Leon. "Mungkin saja. Baiklah, kau pergilah," jawab Leon dengan nada suara dingin.


"Tuan muda," ujar Joya dengan cepat.


Leon yang hendak menutup pintu berbalik dengan wajah datar. "Ada apa."


"Maaf jika aku lancang. Tapi apa kalian bertengkar lagi?" tanya Joya dengan nada tanpa khawatir kalau-kalau majikannya akan marah. Iya justru sangat menggebu-gebu menanyakan itu kepada Leon.


"What?" pekik Leon dengan mata membulat sempurnah di ikuti ekspresi yang tidak biasa.


"Kenapa kau sangt ingin tahu urusan orang lain," tanya Leon sedikit membusungkan dadanya me dekat ke arah wajah Joya. "Kau hanya pelayan, jangan suka ikut campur urusan majikanmu."


Setelah mengatakan itu, Leon dengan kasar membanting pintu kamarnya hingga membuat Joya yang begitu polos berdiri kaku.


"Huf ..." Hebusan napas Joya terdengar begitu panjang. "Padahal aku hanya bertanya. Bukankah dia tidak seharusnya marah-marah?" ujar Joya dengan bibir yang di manyunkan. "Huu ... dasar! Pantasan Senorita selalu murung. Dia memiliki suami yang galak dan tidak peka dengan perasaan seseorang."

__ADS_1


Joya tahu benar, jika sepagi ini Emily sudah tidak ada artinya memang ada yang tidak beres. Namun, dari pada di marahi majikannya karena terus ikut campur, pelayan kecil itu lebih memilih kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dan Leon, dia mulai sibuk membuka laptopnya dan membaca beberapa dokument yang di kirimkan sekretarisnya untuk di lihat. Hari ini dia akan bekerja dari rumah, mengingat masalah ini tidak boleh sampai ke telinga Ayahnya.


Maka dari itu dia harus tetap berada di rumah dan mengontrol Emily agar tidak mengatakan apa-apa. Namun, bekerja dengan keadan seperti ini memang tidak bisa berkonsentrasi. Wajah Emily menutupi segala kewarasannya pagi ini, ia seakan sedang mabuk karena terus-terus memikirkan wanita yang baru saja menangkap basah dirinya.


Leon menarik tubuhnya bersandar pada sofa menaru satu lengannya menutup setengah dari wajahnya. "Sudah seperti ini namun kau masih saja belum kembali. Sebanarnya apa yang kau inginkan."


.


.


.


hay semua jangn lupa dukung karya ku dengan cara komentar like dan vote jua kirim hadia sebanyak-banyak yah. 💙💙🥰

__ADS_1


__ADS_2