
Emily terjaga dari tidurnya saat merasakan sentuhan lembut itu menyentuh wajahnya. Ia sedikit menikmati sebelum mata itu terbuka dan memandang siapa orang dari tangan yang baru saja ia rasakan. Saat matanya terbuka dan kesadarannya kembali sempurnah, tanpa sadar tangannya terangkat menepis keras hingga mebuat Leon sedikit terhempas jatuh.
"Apa ini. Kenapa kau duduk di hadapanku?"
Laki-laki yang sudah terduduk di lantai itu mengerutkan kening, lalu mengangkat kepalanya dengan pelan sambil mengerutu di dalam hati, apa yang baru saja ia lakukan.
"Bangunlah tuan putri ini di kantor? Dan lihat, ini caramu menjadi asistenku. Kau tertidur saat bekerja dan baru saja mendorongku hingga terjatuh, dan itu tindakan yang sangat tidak sopan bagi seorang karyawan baru."
Emily memutar kedua bola matanya, jelas-jelas dia baru saja melakukan hal tidak senonoh saat wanita itu tertidur, lalu sekarang dia berlaga seakan Emily yang sedang menindas atasannya.
"Aku tidak sengaja melakukannya. Lagi pula ini semua gara-gara kau. Aku lelah karena terus membereskan tumpukan kertas-kertas itu. Apa ini pekerjaan seorang asisten? Menyebalkan!"
Jawaban Emily begitu datar dan tak bernada. Gadis itu tersulut emosi hingga mengeluarkan beberapa kata-kata kasar. Padahal seharusnya ia menahannya karena bagaimanapun sekarang ia sedang berada di kantor dan menjadi asisten pribadi Leon, bukan di rumah dan menjadi Nyonya muda.
__ADS_1
Leon menyunggingkan senyum tipis melihat ekspresi polos Emily. Entah kenapa sekarang ia sangat menyukai melihat istrinya mengoceh tidak jelas seperti ini. Namun, tentu saja ia tidak boleh menampakan jika ia mulai menyukai wanita di depannya itu.
"Jika kau tidak tahan kau bisa berhenti."
"Kau sengaja melakukannya bukan?"
"Aku?"
"Yah Kau! Kau sengaja melakukan ini agar aku merasa tersiksa lalu pergi dengan sendirinya bukan."
Emily tidak berdaya dengan kalimat barusan. Ia terdiam sejenak menunduk menahan kesal. Benar yang Leon katakan, dia sendiri yang ingin mencobanya lalu kenapa dia harus marah-marah. Karena kemarin ia sendiri yang menyetujuinya maka sekarang ia harus melakukannya sesuai yang ia sepakati.
"Maafkan aku."
__ADS_1
"Jika kau sudah menyesali perbuatanmu itu, sekarang bawa keluar tumpukan berkas-berkas yang sudah kau rapikan itu dan simpan semuanya di dalam gudang."
"Apa? Membereskannya lagi?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak mau. Ingin membantah perintah atasanmu lagi?"
"Tidak."
"Kalau begitu lakukanlah segerah."
"Baik aku mengerti." Emily menahan rasa kesalnya dan melangkah pelan sambil menatap tumpukan berkas yang menjadi biang kerok kelelahannya di hari pertamanya ini.
Sedangkan Robbin yang sedari tadi melihat drama antara suami istri ini hanya mengeryitkan dahinya karena merasa bingung dengan tingkah bos juga asisten barunya itu. Tadi dia baru saja memarahi Robbin karena membuat Emily bekerja keras, lalu menyuruhnya membuang berkas-berkas itu. sekarang ia malah berdebat dan menyalahkan kembali wanita itu karena tertidur saat bekerja, dan kembali menyuruhnya membawa rumpukan berkas itu ke gudang.
__ADS_1
"Entah apa yang sedang terjadi di sini, ini sangat membingungkan," gumam pria setengah wanita itu dengan pelan. Ia bergegas mendekati Emily dan menyarankan untuk mengisi berkas-berkas itu di dalam kotak karton sebelum mengangkutnya ke gudang.