
Saina yang juga sedang memperhatikan Leon tiba-tiba mendongak, jalur matanya mengarah pada balkon kamar milik putranya. Tepat sasaran, di sana Emily terlihat dengan wajah cemburunya melihat bagaimana Leon di kelilingi oleh gadis-gadis cantik. Mereka berasal dari keluarga kaya dan mampu mengangkat derajat keluarga Mugel.
Saina menunjukkan wajah sombongnya, ini kesempatan langkah baginya untuk membuat menantunya tau diri. Karena akhir-akhir ini, ia tidak bisa leluasa menindas menantu kampungannya itu. Entah apa yang di perbuat gadis itu pada putranya hingga ia sudah tidak ingin lagi mendengar ucapannya.
Dan Emily menyadari tatapan sombong dan ekspresi puas Saina saat menatapnya dari bawah. Sangat naif jika ia mengira Leon bakal setia padanya hanya karena sedikit rasa bersalahnya itu. Melihat bagaimana penampilan wanita-wanita di sekitar suaminya di bandingkan dengan penampilannya, jelas sangatlah berbeda.
Emiy mendesah dengan raut wajah yang begitu sedih. Pria kalangan atas seperti Leon, melakukan pernikahan hanya untuk sebuah perjanjian, kesepakatan dan keuntungan. Untuk itu Emily tidak ingin berharap lebih dari hubungannya saat ini.
"Di banding harus di sini dan menyaksikan orang-orang angkuh ini bertingkah, lebih baik aku segera bergegas dan pergi."
Emily melangkah masuk ke kamar lalu menuju walk in closed. Di kamar ganti yang cukup luas itu, ia sengaja mengeluarkan semua gaun miliknya dan mencobanya satu persatu. Cukup puas melakukan itu, akhirnya pilihannya jatuh pada gaun hitam polos selutut yang cocok dengan warna kulitnya yang cerah.
__ADS_1
Emily memadu padankan penampilannya dengan hils hitam yang di hadiakan Romario padanya saat hari pertama ia bekerja. Ia lengkapi dengan kalung peninggalan ibunya.
"Kau sangat cantik Emily Burman." Gadis itu tertawa setelah memuja dirinya sendiri. "Tidak masalah bukan memuji diri sendiri, ah.. Semoga tidak ada yang menyadari harga dari barang yang ku pakai ini," ujarnya sambil berputar kiri dan kanan. Memastikan penampilannya sudah sempurna.
Ceklek.
Pintu terbuka dan seseorang masuk, membuat Emily yang sedang bersiap kaget luar biasa. Entah harus lari bersembunyi di mana. Padahal, ia sangat berharap jika Leon tidak sampai melihat penampilannya malam ini.
"Ah... Jika tadi aku tidak terlalu lama mencoba gaun-gaun itu, mungkin sekarang tidak akan di tangkap basah seperti ini," gumam Emily di dalam hati. Di sana pasti Robbin dan yang lain sudah menunggunya.
"Apa ini artinya?"
__ADS_1
"No!" potong Emily dengan cepat. "Malam ini ada acara penyambutan pegawai baru untuk ku, kami menggunakan dress kode berwarna hitam. Jadi aku mengenakan gaun ini." Emily melangkah meninggalkan Leon menuju pintu. "Maaf aku harus segera pergi, Robbin dan lainnya pasti sudah menunggu ku."
Raut wajah pria bertato singa itu berubah total. Wajah bahagianya mengira Emily secara paksa akan menghadiri acara ulang tahunnya menjadi sirna.
"Emily, hari ini adalah ulang tahun ku, jangan membuat ku patah hati."
Terlihat wajah Leon terdiam, raut wajah kesedihan terpancar dari wajah tampannya itu.
Sebenarnya ia juga tidak setega ini merayakan hari pertama masuk kerja padahal di rumah suaminya sedang merayakan pesta ulang tahun. Tapi, rasa tersiksa melihat gadis-gadis bergelantungan pada Leon dan juga sikap arogan Ibu mertuanya membuat ia harus tega melakukan ini.
Emily melangkah pelan mendekati suaminya. Tanpa aba-aba, Ia langsung mencium lembut pipi Leon. Lalu mengucapkan kata yang mungkin sebenarnya sedang di tunggu-tunggu oleh Leon.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Suamiku..."