
"Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di dalam kamarku?"
Sesak di rasakan Emily di bagian tenggorokannya. Ia sangat terkejut saat Leon muncul hingga merasakan hampir saja napasnya terhenti. Tatapan Leon padanya seolah-olah pria itu sedang mencekiknya. Membayangkan itu membuat dia terbatuk seketika.
"Apa kau sedang tidak enak badan?"
"Ti--tidak."
"Kau baru saja terbantuk."
"Ya ... Aku ... Aku ... Merasa sedikit tidak enak di tenggorokanku."
Melihat itu Penelope tersenyum sinis. Ternyata hubungan Leon dan Emily tidak seburuk yang dia kira. Kenyataannya Pria itu seperti sangat mencintai saudaranya. Terbukti dari bagaimana dia begitu perhatian padahal wanita yang sering ia sebut miskin itu hnya berpura-pura terbatuk.
"Joya!"
"Si Nona."
"Bisakah ku mengantarkannya keluar. Kita akan bersapa lagi lain waktu." Emily memincingkan mata mengisyaratkan kepada Penelope agar mengikuti idenya. Ini agar wanita itu bisa pergi dengan cepat.
"Tunggu!"
__ADS_1
Dengan cepat pria bertato itu memotong gerakan Joya dan melirik tajam ke arah Emily.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tentang siapa wanita ini. Dan kenapa dia bisa ada di dalam kamarku."
Emily menelan kasar ludahnya. Tentu saja Ia tidak berani memperkenalkan siapa Penelope. Ia takut jika Leon tahu siapa wanita ini dan apa hubungannya dengan Emily, apalagi jika dia tahu Penelope adalah anak dari bibinya Catalina. Dalang dari hilangnya hak kuasa atas rumah peninggalan orang tuanya. ketakutannya sangat beralasan karena memang Leon sangat tidak menyukai kedua wanita serakah itu. Ia pernah mengtakan untuk tidak lagi berhubungan dengan mereka.
"Penelope. Itu namaku." Gadis dengan belahan dada cukup rendah itu merentangkan tangan ke arah Leon. Jemari lentik dengn hiasan kutek berwarna pink soft itu tidak sungkan untuk berkenalan dengan suami saudaranya.
"Yah dia saudaraku," potong Emily dengan cepat menggagalkan jemari Penelope menyentuh paksa tangan Leon.
"Owh jadi kau adalah saudara sepupu Emily yang sangat tidak tahu malu itu?"
Seakan ada sesuatu yang menghantam dada, Penelope sedikit merasa kesal dengan pertemuan pertamanya dengan Leon. Pria itu ternyata mengenalnya, bahkan sepertinya tidak menyukainya karena dia mengatakan kalimat terakhirnya dengan sangat dingin.
Namun, berbeda dengan Emily, tubuhnya menegang, matanya tidak bisa menyembunyikan jika ia sangat tidak menyangka Leon bisa mengatakan itu kepada saudaranya. Padahal, ia berfikir jika pria ber otot itu akan mempermalukannya di depan Penelope.
"Kau tahu? Sangat tidak sopan berada di kamar pribadi orang lain."
"Kau mengatakan itu padaku?"
"Apa ada lagi orang lain yang sangat tidak tahu malu sepertimu di sini Nona Penelope?"
__ADS_1
Penelope mendesah, memegang dadanya dengan degup jantung yang sangat cepat. Ini sangat memalukan, ia di hina tepat di depan Emily dan seorang pembantu. Dia benar-benar sudah di luar akal. Menaklukan pria dingin di hadapannya ini sepertinya harus dengan usaha yang keras.
"Perhatikan ucapanmu Tuan Muda Leon, kau sedang berbicara dengan salah satu kerabat dekat istrimu. Seharusnya kau bisa menyapaku dengan lebih sopan," gerutunya dengan gerakan bermanja sambil menatap seksual dengan mata birunya.
Leon terkekeh sejenak. Pria dengan manik mata hitam itu melangkah mendekati Penelope lalu berbisik dengan pelan di sana.
"Berhenti melakukan hal seperti tadi Nona, aku sama sekali tidak tertwrik dengn wanita seperti anda. Baiknya anda pergi sejauh mungkin dari kehidupan istriku. Jangan mengira aku tidak tau tujuanmu datang ke mansionku untuk bertemu Emily. Menjauhlah darinya, karena jika tidak, ku pastikan kau dan ibumu tidak akan hidup dengan tenang."
Wajah penuh riasan itu seketika membeku. "Ti-tidak aku tidak akan melakukan apa-apa padanya."
"Ya, kau harus mengingatnya. Katakan itu juga pada ibumu."
"Tentu saja."
"Apa kau akan pergi sekarang?" Leon secara gamblang menawar Penelope untuk meninggalkan kamarnya.
"Ah... Yah. Aku harus pergi karena ada pemotretan sampul majalaku hari ini," ujar Penelope dengan terbata. Ia cukup gugup saat ini.
Dan seperti perintah Leon, Penelope akhirnya meninggalkan kamar tanpa berdebat. Ia keluar di antar oleh Joya hingga ia masuk ke mobilnya. Niat awal kedatangannya untuk mengambil kembali sertifikat tanah serta mempermalukan Emily di depan suaminya hilang dari benaknya begitu saja. Ancaman Leon membuatnya sungguh merasa ketakutan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1