Rine And Shine

Rine And Shine
Bab 58


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?"


Emily berbalik melihat Robbin yang sedang meletakan kotak kartun untuknya. Sebelum ia menjawab matanya mencari keberadaan pria sombong itu. " Kemana dia?"


Menebak apa yang di cari Emily Robbin dengan cepat menjawab. "Bos Leon sedang ada pertemuan dengan sahabatnya."


"Neil?"


"Kau mengenal Tuan Neil?"


"Yah, tentu saja. Dia sering datang ke Mansion."


Robbin menaikan alisa tanda mengerti. Namun, rasa penasaran akan wanita di depannya semakin membesar. Ia harus bisa mencari cela untuk mengetahui semua tentang Emily dan Bosnya ini.

__ADS_1


"Apa dia sering marah-marah seperti tadi?"


"Tidak. Dia hanya akan marah pada wanita biasa sepertimu."


Emily membulatkan mata menatap tajam ke arah Robbin. "Apa maksudmu?"


"Hahaha." Pria gemulai itu tergelak seketika melihat ekspresi Emily. "Aku hanya bercanda."


Robbin mulai melancarkan aksinya untuk mencari informasih sebanyak-banyaknya tentang hubungan Leon dan Emily. Namun, mengingat ancaman Leon padanya ia juva harus hati-hati agar Bos galaknya itu tidak curiga jika ia sedang memanfaatkan kepolosan Emily untuk mencari informasi. Dengan cekatan ia meletakan berkas-berkas itu ke dalam kotak kardus, sambil berfikir sejenak tentang kejadian beberapa menit yang lalu. Sejak pertama kali Leon menyuruhnya untuk mengerjai Emily dia sudah menyadari jika ada sesuatu antara bos nya dengn wanita ini.


Lagi pula Perusahaan Mugel hanya menerima pegawai dengan lulusan terbaik, bukan hanya dengan penampilan melainkan dia harus pintar dalam segala hal. Lalu, bagaimana bisa Emily yang hanya lulusan SMA bisa bekerja di sana dan menjadi asisten pribadi ditektur.


"Kapan kau dan Bos Leon menikah?"

__ADS_1


Seketika pertanyaan Robbin mengehentikan gerakan Emily hingga berkas yang hendak ia masukan terjatuh dari tangannya. Ini baru beberapa menit mereka bertemu dan pria ini sudah berani bertanya hal pribadi seperti itu kepada istri tuannya.


"Apa kau sudah bosan bekerja di perusahaan Mugel Tuan Robbin?" Emily menatap dalam-dalam wajah Robbin tanpa berkedip.


"Hahaha... Kamu, apakah karena terlau banyak tekanan sehingga mengajukan pertanyaan konyol seperti ini padaku." Karena sedikit gugup dengan tatapan tajam Emily Robbin sampai salah tingkah dan malah berbalas dengan kalimat konyol.


"Sepertinya kau yang banyak tekanan, rasa penasaranmu itu membuatmu menjadi tidak sopan," ujar Emily dengan tegas. Ia untuk pertama kalinya merasa bersemangat di depan orang lain, meskipun kepercayaan diri ini sedikit salah. Namun, ia merasa lebih baik dengan seperti ini.


"A-apa maksudmu Nona Emily."


Emily berdiri, merapikan pakaiannya lagi menepuk-nepuk kedua tangannya menghilangkan sedikit debu yang menempel di sana.


"Ini sudah selesai. Boleh aku istirahat sebentar?"

__ADS_1


"Yah, tentu saja," ujar Robbin yang ikut berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia sedikit merasa tidak enak dan canggung karena pertanyaannya di abaikan oleh Emily. Melihat tingkah Emily membuat Robbin ragu-ragu untuk kembali bertanya. Ia berfikir, apakah ia harus minta maaf kepada wanita berambut hitam panjng itu atau tidak


__ADS_2