Rine And Shine

Rine And Shine
Bab 71


__ADS_3

Emily melihat senyum di bibir pria itu. Sempat tadi ia merasa sedikit khawatir, takut jika Leon akan marah dan membuang pembatas kertas yang ia buat tadi.


"Apa ada pertemuan penting hari ini?"


"Astaga Bos!"


Robbin kaget, karena tiba-tiba Leon berdiri di hadapannya. Namun, ia menjadi bingung. Entah sekarang Leon sedang bertanya padanya atau bukan, sebab atasannya itu bertanya padanya. Namun, fokus matanya ke arah Emily yang sedang membersihkan sisa-sisa kertas di atas meja kerjanya. "Maaf, kau bertanya padaku Tuan Leon?"


Leon menoleh ke arah Robbin dengan tanpa ekspresi. "Apa aku harus bertanya kepada wanita yang sedang sibuk membersihkan kertas-kertas itu? Sorot matanya beralih dari Robbin.


"Emily...!"


"Si?" Ia mengangkat wajah polosnya seketika saat mendengar suara berat milik Leon.


"Apa jadwal ku selanjutnya? Jika tidak ada ikutlah, temani aku makan siang,"ujarnya dengan nada datar. Itu karena dia malu untuk mengatakannya, bahkan ia merasa jika apa yang baru saja ia katakan itu harusnya tidak ia katakan. Untuk apa dia mengajak Emily makan siang di depan Robbin. Pria gemulai itu pasti akan berfikir aneh-aneh.


"A-aku tidak tahu Tuan Leon. Bukan aku yang bertugas menyusun jadwal kerjamu?"

__ADS_1


"Maaf, aku lupa. Ku pikir sudah menyerahkannya ke Nona Emily."


Mendengar penjelasan kedua orang di depannya ini membuat Leon kehabisan kata-kata. Dia seperti sedang membuang-buang waktu bicara dengan dua manusia yang suka menggosipkannya ini.


"Dasar payah! Mengurus itu saja tidak bisa."


"Maafkan aku Bos. Akan segera aku lihat jadwal mu hari ini." Robbin hendak meraih tabletnya. Namun, di hentikan oleh suara tegas Leon.


"Tidak perlu!" Ia melirik ke arah wanita yang menjadi istrinya itu. "Kau! Ikut denganku."


Setelah mengatakan itu, Leon langsung melangkah pergi. Dan Emily, ia mengekor di belakang suaminya itu dengan sangat patuh.


Gadis itu hanya membalas dengan mengedipkan mata, memberi tahu bahwa ia tidak apa-apa.


"Apa yang ingin kau makan?" tanya Leon ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Tidak ada?"

__ADS_1


Leon menatap wanita yang menolak duduk di sampingnya itu dari spion di depannya. "Apa kau tidak lapar?"


"Tidak!"


"Jawaban mu hanya tidak Emily, apa kau tidak senang makan siang denganku?"


"Ti-"


"Jangan terus menjawab tidak," potong Leon dengan cepat. "Lagian kenapa kau harus duduk di belakang bukan di samping ku. Memangnya kau pikir aku ini supir pribadimu?"


"Tentu saja tidak seperti itu." Emily menekan bagian hidungnya merasa sedikit stres. Kenapa Leon selalu berfikir aneh tentangnya. Perkara jawaban tidak saja bisa sampai membuat moodnya menjadi buruk.


"Aku hanya ingin menyenangkanmu, bisakah kau bersikap baik dan menerima ku saja."


"Tidak seperti itu. Aku hanya tidak ingin orang-orang di kantor mengatakan hal yang tidak-tidak tentang mu karena keberadaanku yang tiba-tiba di sekitar mu," ujar Emily dengan nada sedikit kesal. Baginya berbicara dengan Leon butuh kesabaran ekstra karena terlalu banyak maunya.


"Kenapa harus memikirkan penilaian orang lain. Kita adalah suami istri sah-sah saja jika kau berada di samping ku, apanya yang salah."

__ADS_1


"Kau tidak keberatan jika semua orang di perusahaan tahu kau sudah menikah? Tidak apa jika mereka tahu istrimu adalah aku?" jawan Emily memberanikan diri bertanya kepada pria yang duduk di depannya. Sorot matanya terlihat tajam menatap dari kaca.


"Jika kau mau memafkan ku, jangankan memberitahu semua orang di kantor seluruh dunia pun akan ku beritahu. Bahkan jika kau menginginkan bayi kembar yang lucu, akan aku kabulkan."


__ADS_2