
Pemijatan sudah selesai, setelah mengantarkan tukang pijat keluar, Emily menuju ruang makan karena Romario sudah menunggunya di sana. Saat makan makan, Romario bertanya padanya apakah sulit untuk mempelajari semua itu atau tidak, dan Emily hanya menjawab, jika sudah terbiasa maka tidak akan terasa sulit.
"Mulai malam ini, kau harus tidur dengar Leon."
Sendok di tangan Emily hampir saja terjatuh karena takut. "Secepat itu?"
"Tentu saja Sayang, kalian berdua sudah menikah. Bagaimana bisa kamar kalian berbeda."
Emily menghela napas kasar, dengan tatapan menunduk gadis itu mengangguk. Bagaimanapun Leon adalah suaminya, bukankah sudah seharusnya mereka tidur bersama. Lagipula dia hanya pria koma, tidak bisa bergerak atau berbicara. Tentu saja itu lebih baik dari pada dia harus tidur pada ruang gelap yang dingin itu kembali. Sudah cukup 2 tahun dia mendekap di tempat itu, sekarang tidak mau lagi. Jadi apapun yang di katakan Romario dengan berat hati harus ia setujui.
__ADS_1
****
Emily sudah berada di kamar Leon saat ini, antara takjub, geli dan bingung. Wanita yang sebentar lagi akan berumur 21 tahun itu menatap dengan bola mata dan mulut yang menganga. Demi menyambut pengantin baru ini, kamar Leon di sulap menjadi seperti taman. Bunga-bunga di mana-mana, bahkan seprei kasur pun mereka ganti dengan warna putih bersih. Ingin sekali ia tergelak, Leon menyukai warna hitam lalu untuk apa mereka menggantinya dengan putih dan lagi, kenapa harus ada bunga-bunga sebanyak ini.
"Jika saja pria kejam itu sadar, mungkin dia akan membakar diriku bersama bunga-bunga ini."
Emily mematikan lampu utama dan membiarkan lampu redupnya menyala. Joya mengatakan jika cahaya yang terlalu terang akan memancing Nyonya Saina untuk datang. Wanita rubah itu selalu mengecek setiap jam apa yang Emily lakukan. Dan itu membuatnya kesal. Dia merasa jika dirinya adalah tahanan yang harus terus di pantau.
"Dengar, mulai sekarang dan seterusnya hingga selamanya, kau adalah suamiku. Maka suka atau tidak kau harus memperlakukan-ku dengan baik nanti setelah kau sadar. Jika kau merasa ini konyol maka sama denganku, ini juga konyol. Sebelumnya bahkan kau pernah mengatakan jika tidak menyukai ku, tapi sekarang kau adalah suamiku. Cepatlah bangun, dan katakan pada mereka jika aku tidak bersalah. Selama 2 tahun ini aku sudah cukup menderita karenamu, Aku tidak membencimu, tetapi jika kau terus tidur seperti ini maka aku akan benar-benar membencimu."
__ADS_1
Emily mendekati Leon, lalu mempraktekan bagaimana cara memijat sesuai yang ia pelajari tadi. Sambil memijat, ia mulai dengan cerita, mungkin saja Leon bisa bangun mendengar cerita sedih yang ia alami. Sedikit ia menambahi bumbu, untuk memancing reaksi Leon.
"Apa kau tidak merindukan kekasihmu? Bukankah kau mengatakan jika kau berhasil mendapatkan hatinya lagi, perjodohan kita akan di batalkan. Karena aku di sini untuk mendapatkan kebebasanku maka kau juga harus bangun dan dapatkan kembali cintamu." Emily mengeraskan pijatannya, ini bukan lagi memijat melainkan wanita itu seperti mencubitnya.
"Leon!! Bangunlah .... Kau harus mengatakan kebenarannya pada ibumu."
Emily terus berteriak, sesekali ia kembali mencubit tubuh pria itu. Namun, sama sekali tidak ada respon dari Leon. 1 jam berlalu dan Emily semakin merasa kantuk. Tangannya jiga semakin lelah karena ia terus memijat dari tadi. Dia bergeser di ujung tempat tidur yang begitu luas, meringkuk dan mulai menutup mata.
Di tengah malam, Emily mulai merasakan dingin, selimut tebal yanga da di kamar ini hanya menutupi bagian tubuh Leon, jika ia mau memakainya maka harus berbagai bersama pria itu. Dan itu artinya ia harus sedikit mendekat agar selimut bisa menutupi keduanya. Ini adalah malam di musim dingin, tulang-tulangnya kembali menggigil, penyakit ini datang sama seperti saat ia di penjara dulu, selama 2 tahun di penjara ia hanya tidur beralaskan kasur tipis jelas saja jika tulang-tulangnya akan remuk.
__ADS_1
"Oh Tuhan, dingin sekali." Emily sudah tidak bisa menahan lagi, ia berguling ke bagian tengah, menarik sedikit selimut dan menutupi tubuhnya hingga kebagian leher.
Tanpa sengaja saat berbalik, Emily bersentuhan dengan tubuh Leon, dan sangat mengejutkan. Tubuh Leon terasa hangat dan nyaman. "Uhhmm," desah Emily pelan. Tanpa sadar ia menyandarkan tubuhnya semakin dekat dengan Leon. "Kau sangat hangat." Perlahan, mata Emily mulai redup di iringi dengan menghilangnya rasa dingin yang menjalar pada tulang-tulangnya. Gadis itu pun terlelap dan tidak menyadari jika tidak ada lagi jarak antara dia dan Leon.