
Emily terbatuk, wajah putihnya itu berubah merah merasakan minuman yang baru saja ia teguk masuk salah jalan. Hidungnya terasa panas hingga membuat ia susah untuk mengambil napas.
"Tuan muda?"
"Si." Wanita muda itu berkata dengan senyuman, seakan mengisyaratkan jika dia sangat menyukai sepasang suami istri ini.
"Itu tidak mungkin," gumamnya menaruh kembali cangkir yang masih ia pegangi. Dia sangat mengenal Leon. Pria itu sangat tidak menyukainya, untuk apa dia melakukan hal-hal sekonyol ini. Mereka bahkan bukan sepasang suami istri yang nyata.
"Aku berkata benar Nona. Senor Leon yang memberi perinta untuk membawakan camilan ini padamu. Katanya kau butuh ketenangan, jadi dia memintaku untuk membawakan sesuatu agar kau bisa rileks. Untuk itu aku membuatkan teh mawar ini."
Emily menatap kosong ke arah Joya. "Kau masih terlalu muda untuk berfikir itu cinta. Kau lihat dia bahkan ridak menyukai ku sejak awal aku datang di Mansion ini. Berhentilah menghayal. Itu tidak akan terjadi."
"Ah. Dasar wanita kaku, kau menghancurkan imajinasiku tentang kalian."
Emily mengusap lembut pipi mulus itu sambil tertawa kecil. "Pergilah, lanjutkan pekerjaanmu. Melisa akan mengamuk jika tahu kau bergosip lagi di sini."
__ADS_1
"Tidak, aku akan pergi setelah kau menghabiskan minumanmu. Jangan biarkan aku di marahi Ruan muda Leon. Aku mohon."
Mendengar itu Emily tidak bisa berbuat apa-apa. Ia meluluh saat melihat tatapan mata memelas Joya Dia juga tidak ingin Leon memarahi Joya hanya karrna dirinya. Karena itu dia akhirnya mengangguk
"Baiklah."
Setelah Emily meneguk habis Teh mawar buatannya.
Pelayan pribadinya itu baru pergi dengan puas. Tak lupa ia memberikan senyum dan gerakan semngt untuk Emily. Entah apa maksud Joya, ia hanya menggelengkan kepala melihat kelakukan gadis itu.
Setelah Joya pergi, Emily menjatuhkan dirinya kembali di atas tempat tidur. Memikirkan apa yang di katakan Joya. Rasanya sangat mustahil Leon bersikap seperti itu padanya. Mungkin saja itu adalah trik untuk membuat Emily memafkannya. Saat dirinya sedang larut dengn pikirannya tentang sikap Leon yang tiba-tiba berubah. Ketukan pintu terdengar lagi.
"Pierda, maafkan aku. Aku sudah berusaha menahannya. Namun, dia memaksa untuk masuk. Dia mengatakan jika dia adalah sepupumu, " ujar Joya dengan sedikit menunduk. Ia takut jika Emily akan memarahinya karena membiarkan orang asing masuk ke kamarnya.
"Tidak apa-apa. Biarkan saja, kau boleh pergi," ucap Emily sengan tenang meski sebenarnya dia sedikit terkejut.
__ADS_1
"Apa kabar saudaraku. Wow, kamarmu begitu mewah dan indah." Dengn tanpa permisi ia melangkah mengitari seluruh sudut ruangan.
"Sedang apa kau di sini. Keluarlah."
Penelope mengabaikan ucapan Emily dan twrus berputar-putar sambil bergumam mengagumi tiap-tiap barang mewah yang ada di dalam kamar saudarnya itu.
"Apa kau tahu, sangat tidak sopan menerobos masuk ke dalam kamar orang lain apalagi orang itu tidak mengundangmu untuk bertamu."
"Apa kau dan Tuan muda lumpuh itu tidur di sini?"
"Penelope, hentikan ocehanmu dan keluarlah. Kita bisa bicara di ruang tamu atau di taman." Emily menarik paksa saudara perempuannya itu untuk keluar dari kamar sebelum Leon mengetahui. Karena jika dia tahu ada yang berani masuk dan menyentuh barang-barangnya, itu tidak akan baik untuk dirinya maupun Penelope.
Namun, wanita dengan pakaian serba minim itu menepis cepat tangan Emily. "Tidak! Aku ingin kita bicara di sini. Tempat ini Sangat cocok dengan ku." Mata penelope berputar melihat sekeliling lalu bergumam tidak jelas. Entah apa yang sedang dia lakukan di sini.
Emily sedikit khawatir dengan tingkah saudaranya saat ini. Pasti ada rencana licik yang di pikirkan Penelope hingga tiba-tiba dia muncul tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apalagi saat ini hubungannya dengan saudaranya itu cukup di katakan tidak baik.
__ADS_1
"Mau apa kau menemuiku?"
Wanita dengan dres mini selutut dengan belahan dada yang cukup meresahkan itu berbalik dan menatap Emily dengan Senyum licik. "Ternyata kau benar-benar menjadi tuan putri di sini."