
Romario menuju ruang kerjanya, Saina mantan istrinya sudah menunggu di sana. Ia harus mengatakan jika Emily dan Leon akan tetap melanjutkan perjodohan masa kecil mereka dan akan segera menikah besok.
"Apa kau serius, bagaimana bisa kau menikahkan Leon dengan wanita miskin seperti itu." Saina terlihat panik.
Romario mengangguk dengan pelan. " Si, semua sudah di atur, besok mereka akan segera menikah."
"¿Qué? Esto no es posible. (Apa? Ini tidak mungkin.)"
"Sudahlah Saina, ini adalah keputusanku. Memangnya kau pikir wanita mana yang mau dengan anak kita."
"Tapi, bagaimana bisa Leon menikah dengan dia. Sekalipun dia sedang koma, bukan berarti harus Emily. Ada banyak wanita cantik, baik dan dari keluarga terhormat dan bukan mantan narapidana. Tidak sulit bagi Leon untuk mendapatkan wanita seperti itu. Emily adalah penyebab bagaimana anak kita menjadi seperti ini, bagaimana bisa dia pantas untuk Leon."
__ADS_1
"Mereka sudah berjodoh sejak kecil, jadi apa salahnya jika menikah."
"Berjodoh? Itu adalah kata-kata yang tidak sengaja kau ucapkan saat sedang bersama sahabatmu, tidak ada yang menganggap itu serius."
"Semua sudah di atur, mungkin ini adalah takdir Leon agar menikah dengan Emily. Lagi pula Emily juga menyukainya, tidak akan susah jika mereka beradaptasi."
"¡No! ¡No! Jamás aprobaré que esa mujer se case con mi hijo. (Tidak! Tidak! Aku tidak akan pernah menyetujui wanita itu menikah dengan anak ku." Saina berteriak keras menolak.
"Berhenti menjodohkan Leon dengan wanita-wanita tidak berguna seperti mereka, aku tahu di pikiranmu pasti ada Cessy, kau tidak tahu selicik apa wanita itu."
Setelah mengatakan itu Romario memerintahkan Saina untuk keluar dari ruang kerjanya. Sekilas dia menatap Figura yang terdapat foto anak semata wayangnya itu. Romario membuang napas panjang, sudah 2 tahun berlalu tapi Leon belum juga sadar. Dokter mengatakan jika tubuhnya sudah membaik. Namun, ia masih tenggelam di dalam komanya. Romario bahkan tidak tahu sudah berapa banyak Dokter yang datang dari segala penjuru untuk mengobati anaknya. Namun, hasilnya tetap saja nihil.
__ADS_1
Dengan kewarasannya, Romario bahkan mendatangi peramal untuk melihat bagaimana jalan hidup anaknya. Salah satu peramal yang ia datangi mengatakan jika Leon akan kembali saat mendapatkan seseorang yang tulus padanya. Dan dari ramalan itu, hanya kepribadian Emily yang cocok.
"Semoga pilihanku tidak salah, aku berharap Leon memiliki takdir bersama Emily. Ini adalah harapan terakhir Oliver padaku, Emily harus bahagia, dan mendapatkan hidup yang baik, begitupun dengan Leon."
****
Emily masih tetap menatap Leon, waktu sudah semakin larut, ia seharusnya kembali ke kamarnya dan membersihkan tubuh. Sejak pagi, dari kembali Emily belum kembali ke kamar, dia sibuk menatap Leon bahkan lupa untuk makan. Pikirannya larut dengan rencana pernikahan dan kondisi Leon sekarang ini.
"Huh ...." Emily membuang napas panjang. "Bagaimana kalau setelah dia sadar dia tidak menyukaiku, dari sikap kasarnya padaku apakah dia akan membuat ku menjadi pelayan seumur hidupnya?"
Emily menjerit di samping tubuh kaku Leon. "Awas saja jika setelah sadar kau menindasku, aku akan membuatmu koma untuk selamanya."
__ADS_1
Emily mendengus dan melangkah keluar ke kamarnya, dia harus istirahat. Besok adalah hari pernikahannya dengan Leon, butuh tenaga dan kekuatan batin untuk menahan segala rasa yang tertohok di dalam batinnya, bahkan ia harus pura-pura tersenyum kepada Saina, wanita rubah itu dalang dari semua penderitaannya.