
Waktu menunjukan Pukul 11:30 tepat dan perut gadis berambut hitam panjang tebal itu mulai bergerindil. Ia sendirian menunggu pria bersorot mata tajam itu di dalam ruangan tanpa camilan atau segelas air membuatnya lapar. Robbin, pria gemulai itu tidak peka dengan keadaannya yang tidak bisa menahan lapar. Dan sekarang, entah kemana dia. Sudah 1 jam ia duduk dan memainkan ponselnya sambil bersandar di sofa menunggu dia kembali.
"Oh Tuhan dimana pria itu, aku sudah sangat lapar."
Emily beranjak pergi dari ruangan Leon menuju kantin perusahaan karena sudah tidak tahan lagi ingin segera mengisi perutnya. Yang terpenting ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Beruntung Leon belom kembali dari pertemuannya dengan Neil, jadi ia punya banyak waktu untuk menikmati makan siangnya.
Di hari pertamanya kerja, sudah cukup menguras tenaga dan emosinya. Leon dengan gaya arogannya dan Robbin dengan rasa penasarannya. Kombinasi yang luar biasa. Bahkan sekarang saja ia merasa risih karena entah berapa banyak orang di kantin ini yang terus meliriknya semenjak ia masuk.
Mungkin karena dia seorang pegawai baru, atau karena penampilannya yang tidak sesuai standar seorang asisten pribadi. Emily memang hanya mengenakan kemaja putih polos dan rok hitam selutut di padukan dengan hils hitam hadiah dari ayah mertuanya tadi pagi. Namun, jangan salah. Harga dari outfit Emily hari ini bisa membeli sebuah motor keluaran terbaru di madrid. Pakaian dan sepatu yang ia kenakan adalah dari merek ternama dan cukup sering di gunakan oleh orang-orang terpandang di madrid.
__ADS_1
Mungkin itulah yang membuat mereka terus menatapnya sambil berbisik-bisik kecil. Atau barangkali mereka mengira ia adalah simpanan petinggi karena memakai barang mahal. Apalagi ia tiba-tiba muncul sebagai asisten pribadi ditektur dengan asal usul dan pendidikan yang tidak jelas.
Terus memikirkan itu semua membuat kepala Emily berdenyut, apalagi ia yang sedang lapar sekarang.
"Biarlah, lebih baik aku segera mengisi perutku."
"Kau di sini ternyata." Tiba-tiba saja Robbin mengejutkan.
"Kau menjadi bahan perbincangan pagi ini di kantor. Apa kau tahu itu?" ujar Robbin menarik satu kursi yang ada di depan Emily untuk ia duduki.
__ADS_1
"Hmm. Tentu saja aku melihatnya," ujar Emily melihat ke arah sekitarnya. Ia juga tahu arah perbincangan Robbin, dia bukan sekedar ingin mengatakan jika dirinya sedang menjdi topik hangat di kalangan pegawai, melainkan ia sendiripun sedang mencari informasi itu. Nyatanya, dia baru kembali setelah 1 jam meninggalkannya sendirian.
"Semua orang di kantor menjadi penasaran dengan siapa asisten pribadi Tuan Leon yang baru."
"Termasuk kau?"
Mendengar kalimat itu, Robbin langsung merasa tidak enak. Sepertinya Emily menyadari kemana perginya tadi.
"Oh iya. Bagaimana, apa kau sudah terbiasa? Jika kau memiliki kesulitan, kau bisa mengatakannya padaku, aku bersedia membantu kapan saja," ucap Robbin membuka topik baru. Ia sangat tidak berani lagi menyinggung lagi. Takut jika wanita ini melaporkan kepada suaminya maka habislah sudah.
__ADS_1
Emily menggelengkan kepalanya. "Lumayan tidak ada kesulitan. Lagi pula, bukankah hari ini pekerjaanku hanya membereskan kertas-kertas itu."
Robbin tertawa geli, dia lupa jika setengah hari ia habiskan bersama istri tidak jelas bosnya ini membereskan berkas-berkas dan membawanya ke gudang.