
Emily bangun ketika suara cicit burung bergemuruh ramai beterbangan dari satu dahan ke dahan yang lain. Sejak malam udara cukup dingin hingga Emily sedikit beringsut memeluk Leon. Segera, ia menjauh dari tubuh kaku itu dan melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap dengan kegiatan paginya. Seperti biasa, ia akan sarapan lalu mulai membersihkan tubuh Leon, lalu memberikan sedikit pijatan pada tubuh pria itu.
Emily turun untuk sarapan setelah selesai bersiap. Hari ini tidak ada Saina, entah di mana wanita itu. Emily bersyukur, sarapan paginya ia nikmati dengan baik tanpa ocehan panjang Saina untuknya.
"Bagaimana keadaan Leon?"
"Baik Daddy, lukanya sudah membaik dan keadaannya masih seperti biasa."
Romario memandangi wajah kuyu dan lesuhnya Emily. Ada sedikit rasa tidak tega di hatinya, harusnya dengan umurnya yang sekarang dia sedang menikmati masa-masa bebas dengan kegiatan yang dia sukai. Tetapi, dia malah terkurung di sini dan harus merawat suami yang belum tentu dia inginkan.
"Aku sudah menjelaskan kepada Saina bahwa kau sudah menyesali kesalahanmu dan tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1
Emily menundukkan wajah sejenak. "Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Leon akan aku rawat dengan baik."
Romario mengangguk tanda mengerti. "Maafkan Saina, dia hanya terlalu menyayangi Leon hingga berbuat kasar padamu. Kau tahu bukan, Leon adalah penerus satu-satunya keluarga Mugel. Kejadian ini sangat membuat orang ingin sekali menjatuhkan kita. Daddy Harap, dengan perawatan mu Leon bisa kembali lagi."
"Aku mengerti Daddy. Selanjutnya aku akan lebih hati-hati." Emily menelan ludah dengan sangat susah. Beginikah rasanya di peralat, bahkan dia harus melakukan sesuatu agar tidak menimbulkan masalah.
"Baiklah, hari ini kau boleh melakukan yang kau inginkan, mungkin kau ingin berkunjung ke rumah bibi mu atau mengunjungi makam kedua orang tuamu."
"Emily mengangkat kepalanya dengan tegak. "Benarkah? Aku boleh keluar hari ini?"
"No, Daddy. Aku bisa sendiri. Terima kasih sudah memberi ijin untuk keluar. Aku akan segera sebelum matahari terbenam," ujarnya menundukkan kepala mengucap terima kasih dengan wajah berbinar dan pendar mata yang berkilau.
__ADS_1
"Tidak Sayang, kau sudah seperti putriku. Berhenti mengatakan seperti itu. Dan lagi ...." Romario sedikit menjedah ucapannya menoleh pada supir pribadinya. "Temani Nona, antarkan kemana dia akan pergi hari ini."
"Baik Tuan."
Gadis itu pun melangkah pergi dengan cepat, seperti tidak ingin melewatkan seditkpun kebebasan ini. Sebelum pergi, Emily menitipkan Leon kepada Joya agar sementara waktu dia yang berjaga, kalau-kalau saja Leon sadar dan dia tidak ada.
Emily menghirup udara luar dengan sangat lama, beberapa bulan ini dia hanya menikmati itu lewat balkon kamarnya. Rasanya sungguh berbeda. "Ini yang di namakan kebebasan yang hakiki. Wuaaaa ...." Emily berseru gembira sebelum masuk ke dalam mobil yang di siapkan Romario untuknya hari ini.
"Antarkan aku ke pemakaman, Paman. Aku ingin mengunjungi kedua orang tuaku terlebih dahulu."
"Baik Nona."
__ADS_1
Emily tersenyum sepanjang perjalanan, merasa seperti terbebas dari semua beban. Hari ini dia tidak akan memikirkan pria kaku itu bahkan pria dingin yang selalu menakutinya saat malam. Hari ini adalah miliknya, hanya miliknya.
"Nikmatilah, Emily. Sebelumnya kau adalah gadis periang yang tidak takut dengan apapun. Percayalah, kebebasanmu akan tiba sebentar lagi ketika pria menyebalkan itu membuka mata."