
Emily keluar setelah Leon dan Romario berangkat ke kantor, dia tidak ingin membuang-buang waktu karena tidak ingin rumahnya benar-benar di ambil. Kali ini dia tidak keluar sendiri melainkan bersama sopir pribadi yang sudah di siapkan untuk selalu menemaninya.
Saat mobilnya berhenti di depan rumahnya, pria yang membelinya kebetulan ingin keluar. Dengan Cepat, Emily bergegas keluar dari mobil dan Menghadangnya. "Maaf Tuan! Apa kau bisa memberi waktu untuk ku sebentar?"
Pria pembeli itu menghentikan langkah tepat di depan Emily. "Nona Emily?" pekik pria itu dengan wajah kaget. "Maaf, tapi kenapa anda datang sepagi ini. Apa Bibimu mengutusmu untuk mengambil bukti pembayaran ini? Kebetulan sekali aku berencana akan mengantarnya."
Emily menerima kertas bukti pembayaran itu dan membuka satu persatu. Lembar pertama berisi persetujuan penyerahan sertifikat tanah antara pihak ke satu yaitu Bibi Catalina dan pihak kedua adalah Beck, nama dari si pembeli yang sedang berdiri di depannya. Lembar kedua, berisi perjanjian antara Bibinya dan pria muda itu, yang membuat Emily tercengang adalah namanya juga ada di sana. Tertulis jelas jika dia sudah memberi hak atas rumahnya kepada Bibi Catalina karena kondisinya yang sedang berada di penjara. Di situ juga tertulis jika pihak kedua tiba-tiba membatalkan pembelian maka akan di denda 3 kali lipat dari harga rumah yang ia beli.
"Apa-apaan ini! Kenapa namaku juga ada di sini?" Emily menggeleng kasar. "Aku tidak pernah memberi kuasa ataupun menandatanganinya."
Beck menaikkan satu alisnya. "Tapi, namamu jelas ada di sana Nona Emily. Jangan katakan jika isi surat ini palsu."
__ADS_1
Emily merobek 2 lembar kertas yang ada di tangannya. "Jelas saja palsu, aku sama sekali tidak pernah menyetujui jika rumahku di ambil alih oleh bibiku. Batalkan, atau kalian akan aku tuntut," teriak Emily dengan wajah serius. Bahkan kedua tangannya ikut mengepal saking emosinya.
"Siapa yang ini kau tuntut?" Suara lembut penuh ejekkan itu muncul dari arah belakang Emily. Tidak di sangka jika yang muncul adalah wanita yang sangat menyebalkan. Penelope dengan langkah yang begitu angkuh berjalan mendekati saudara sepupunya.
Emily memutar kedua bola matanya malas. Dia sangat tidak ingin melayani gadis angkuh ini sekarang.
"Sedang apa kau di sini?"
"Apakah kamu masih mengira jika rumah ini masih milikmu? Jangan mimpi untuk bisa mengambilnya lagi, rumah kumuh ini sudah terjual." Penelope dengan gaya angkuhnya menatap tajam ke arah Emily. Gadis itu terlihat begitu tenang dan arogan meski sudah tidak memiliki apa-apa. Entah apa yang terjadi antara dirinya dengan keluarga Mugel hingga dia bebas dan hidup dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Emily berdecak dengan tawa kecil. "Jangan bermimpi?" Tawa Emily semakin besar. "Seharusnya itu adalah ucapan yang tepat untuk kalian. Jangan terus bermimpi, ini belum selesai. Aku datang ingin membatalkan pembelian rumah ini. Kau dan ibumu memanipulasi seakan-akan aku sudah menyerahkan rumah ini kepada kalian. Sungguh tidak tahu malu."
__ADS_1
Emily berbalik menoleh pada Beck. "Maaf, tapi bisakah kau mengatakan jika kau ingin membatalkan pembelian rumah ini. Aku tidak pernah menandatangani surat alih waris ataupun surat yang lain, jadi pembelian ini tidak sah."
"Tapi Nona Emily, semua urusan pembelian sudah selesai. Surat itu, meskipun kau merobeknya aku sudah mengirimkan file-nya kepada Nyonya Catalina melalui email. Nona Penelope hanya datang untuk mengambil aslinya."
"Apa?"
Penolepe tersenyum menang melihat ekspresi kaget Emily, wajah saudaranya sungguh terlihat menyedihkan. "Sudahlah Emily. Kau sudah kalah, untuk apa kau terus bersikeras. Kau hanya akan lebih terlihat menyedihkan."
"Maaf Nona Emily. Tapi waktuku sudah habis. Aku harus berangkat. Nona Penelope, maaf. suratnya akan aku buat yang baru dan langsung menyerahkannya kepadamu."
Beck pergi setelah menjelaskan keadaan sebenarnya kepada Penelope. Setelahnya Penelope pun ikut pergi meninggalkan saudaranya tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Emily, dia masih berdiri di tempatnya menyaksikan dengan tatapan dingin dua orang yang pergi meninggalkannya. Dalam hatinya mencibir, jika ia akan membalas semua yang sudah mereka lakukan padanya. Apa yang mereka ambil akan dia rampas kembali, itu adalah sumpahnya.
__ADS_1