
"Maaf Nona, tapi sebaiknya kau mengganti pakaianmu. kau terlihat kurang nyaman dengan pakaian basah ini. Lihatlah." Karena terlalu gemas dengan sikap cueknya, Robbin menarik tubuh istri atasannya itu untuk berdiri di depan kaca besar yang ada di ruangan itu.
"Lihat dirimu, bagaimana Jane si nenek sihir itu tidak merasa menang jika penampilan istri seorang bos seperti ini. Sangat sederhana, di tambah lagi gaya rambutmu ini? Oh Tuhan, apa kau tidak merasa lehermu sakit? kau mengikatnya terlalu tinggi."
Emily hanya diam tak menyahut, bibir tipisnya hanya menyunggingkan senyum untuk semua yang Robbin katakan.
"Berhenti tersenyum seperti itu. Mulai sekarang kau harus mengubah gayamu. Mulai dari penampilan hingga cara bicara mu agar orang lain tidak lagi meremehkan mu," ucap Robbin tegas.
Dalam hatinya ia bertekad untuk membantu Emily menjadi Nyonya sesungguhnya. Itu karena dia sangat membenci Jane dan ingin membalas kesombongannya juga karena ia ingin menembus kesalahannya karena sempat meremehkan Emily dan membuat sedikit gosip tentangnya hingga memancing perbincangan beberapa pegawai wanita di dalam kantor.
"Aku di sini berperan sebagai seorang sekretaris Robbin bukan Nyonya direktur."
"Bukankah memang kenyataannya seperti itu?"
"Status itu hanya berlaku jika aku berada di rumah keluarga Mugel. Di sini tidak."
__ADS_1
"Bagaimana jika Tuan Leon mengatakan ke semua orang jika kau adalah istrinya, apa kau akan merubah penampilanmu?"
"Itu mustahil," jawab Emily dengan begitu datar dan tidak bernada. Ia menolak keras apa yang di katakan
Lelaki setengah wanita itu. Ia berbicara dengan ringan seolah tidak menyadari ada yang salah dengan kata-katanya.
Dengan raut wajah pasra Robbin akhirnya menyerah dengan wanita di depannya itu. Dia hanya bisa pasrah dan berdiri diam menemani Emily menunggu Bos Leon kembali. Meskipun dalam benaknya sedang menggebu-gebu ingin tahu sebenarnya apa yang di lakukan Leon hingga Emily begitu dingin dengan bos-nya itu. Karena yang ia lihat dan rasakan, jika Tuan Leon menyukai Emily.
"Apa Leon masih lama kembali?" tanya Emily.
Hari semakin sore dan keduanya sudah semakin bosan untuk menunggu, tiba-tiba terdengar derap langkah berat yang mendekat. Keduanya berbalik seketika untuk melihat siapa orang tersebut. Dan ternyata, orang yang muncul adalah Leon. Robbin melihat dan tersenyum legah. Akhirnya si penyebab kekacauan ini kembali.
"Anda sudah kembali tuan?"
Fokus mata Leon melewati Robbin dan beralih pada wanita yang sedang menatap dingin padanya. Ia merasa sepertinya Emily merasa tidak senang. Dan saat ini ia tidak sengaja melihat pakaiannya yang basah dan ujung matanya terlihat sembab.
__ADS_1
"Apa sesuatu terjadi saat aku pergi tadi?"
"Tidak... Iya ... Uhhm itu..." Tiba-tiba saja lidah Robbin terasa seperti terlilit sesuatu karena tatapan tajam Leon padanya. Sampai-sampai susah untuk sekedar menjawab iya atau tidak kepada pria itu.
"Ada apa dengan pakaianmu?" Leon mengerutkan kening melihat penampilan istrinya.
"Tidak apa-apa, hanya tersiram air saat di kamar mandi tadi." Emily bangkit dari duduknya. "Karena anda sudah kembali dan pekerjaanku sudah selesai. Bolehlah aku pulang? Aku sedikit merasa risih dengan pakaianku."
Leon menarik tangan Emely membawanya mendekat. "Kau yakin tidak apa-apa?"
Emily menggelengkan kepalanya hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.
"Baiklah kalau begitu."
Leon menatap Sekretaris pribadinya Robbin. "Antarkan dia kembali ke mansion, setelah itu kau kembali dan langsung ke ruanganku."
__ADS_1