
"Tunggu!" Emily menarik cepat jemari yang di genggam Leon. "Kau baru saja mengatakan apa?" Raut wajah wanita itu benar-benar kaget bercampur bingung dengan apa yang baru saja ia dengar. Leon adalah tipe pria cuek dan dingin, mengatakan itu langsung sangatlah mustahil. Apalagi orang itu adalah dirinya.
"Jangan membuatku malu dengan harus mengulangnya Emily."
Emily sebenarnya sudah jelas mendengar apa yang Leon katakan tadi. Ia hanya berpura-pura karena masih belum yakin jika kalimat itu di tujukan untuk dirinya.
"Aku tidak mendengarnya dengan baik, cepat katakan lagi," pinta Emily.
Leon memutar mata malas. "Aku mencintaimu Emily Burman. Kau puas!"
Wanita berambut panjang itu hampir saja tertawa. Namun, dengan cepat ia membalikkan ekspresi menjadi datar. "Kau serius? Maksudku, ini bukan pura-pura kan?"
"Ada apa denganmu? Kenapa semua yang ku katakan, seakan hanya bohong."
"Bukan begitu Leon, aku hanya sedang memastikan jika pernyataan cinta ini benar-benar untuk ku. Atau jangan sampai kau hanya sedang berlatih untuk mengatakan kalimat tadi untuk Cessy?"
"Wa-what?"
"Kau sudah bertemu Cessy?"
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba membahas wanita itu." Leon memekik menatap tegas ke arah istrinya.
"Jadi ini serius?"
"Kau pikir aku sedang membaca naskah flm?"
"Maaf, aku pikir..."
Wajah Leon menjadi sangat kesal karena pernyataan tentang perasaannya seperti di sepelehkan oleh Emily. Tanpa basa basi lagi ia menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan kencang. Emily yang tidak mengencangkan sabuk pengamannya hampir saja terangkat dari tempat duduknya.
"Leon!"
Leon tidak peduli, ia semakin menambah kecepatan tanpa peduli dengan Emily yang sudah hampir gila meneriakinya di belakang kemudi.
"Dasar pria Gila!"
Dengan raut wajah kesal Emily dengan cepat mengencangkan sabuk pengamannya. Karena kalau tidak, bisa-bisa ia terlempar keluar menembus kaca mobil bagian depan.
"Leon, aku mohon pelankan laju mobil mu! Aku tidak mau mati sia-sia bersamamu."
__ADS_1
Suara teriakan Emily semakin di abaikan Leon, pria itu hanya sedikit mencuri pandang lewat kaca di depannya.
"Aku bilang hentikan mobilnya. Dasar pria gila, ada apa denganmu? Kenapa kenapa kau malah menjadi diam? Bicaralah atau aku akan benar-benar melompat."
Leon tiba-tiba menurunkan laju mobilnya. Pria tampan dengan senyuman seperti es itu menghentikan mobil seketika lalu berkata.
"Turunlah," pinta Leon dengan suara yang dingin.
"Aku?"
"Memangnya ada siapa lagi di situ?"
Raut wajah gadis polos itu berubah kaget. "Kau serius menyuruh ku turun?"
"Yah, harus."
Emily yang mendengar ada kemarahan di dalam kata-kata pria itu langsung berubah menjadi mode wanita lembut. "Leon, ayolah jangan seperti ini. A-ku tadi hanya panik dan berteriak stop kalau tidak akan melompat. Tapi itu hanya karena panik buka serius akan melompat."
Leon dengan perlahan keluar dadi mobil, berputar ke arah pintu belakang dan membukakan pintu. "Turunlah."
__ADS_1
Kembali ia memasang wajah polosnya. Berharap pria di depannya tidak lagi memaksanya turun. Bagaimanpun gengsinya, ia juga takut jika di tingglkan di pinggir jalan sendirian. Apalagi ini sudah sangat sore, bagaimana kalau ada orang yang menjahatinya. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk wanita itu berdiri, apalagi benar-benar mengalaminya. Maka darinya ia harus berpura-pura menjadi wanita manis di sini.