
Robbin mengantarkan Emily kembali ke ruangan Leon dengan panik, ia takut jika kejadian ini sampai ke telinga Leon. Jangankan disiram oleh Jane seperti tadi, hanya menyuruhnya menyusun berkas sampai ketiduran saja ia di marahi habis-habisan oleh Bos nya itu.
"Kenapa kau biarkan wanita gila menyiram mu?"
Robbin bergegas mengambil tisu dan memberikannya kepada Emily untuk mengeringkan wajahnya.
"Aku takut akan di pecat?"
"Memangnya dia siapa bisa memecat mu."
Emily tersenyum kecil menanggapi ocehan Robbin. Ternyata pria ini masih memperdulikan-nya.
"Kau bisa ke ruang pribadi Tuan Leon, di sana kau bisa membersihkan wajahmu juga pakaianmu. Aku akan menyuruh seseorang untuk membeli pakaian baru untukmu." Robbin melirik pakaian Emily yang sedikit basah karena percikan air yang mengenai wajahnya tadi, jika di biarkan Emily bisa masuk angin.
__ADS_1
Emily menggeleng pelan. "Tidak perlu, ini hanya sedikit basah. Lagipula aku tidak ingin Leon marah karena masuk ke ruang pribadinya tanpa ijin"
"Tapi pakaianmu basah Nona."
Emily kembali menggeleng. "Aku akan menggantinya nanti setelah Leon kembali." Wanita itu sibuk dengan pakaiannya yang basah namun suaranya tidak bisa membohongi jika ia sedang tidak baik-baik saja. Terdengar bergetar dan seperti ada yang ia tahan.
Melihat Emily yang terus menolak membuat Robbin merasa tidak berani untuk memaksanya lagi.
"Baiklah."
Jane memang sedikit arogan. Wanita yang selalu tampil seksi itu mungkin berfikir tidak ada yang bisa menyentuhnya karena memiliki hubungan spesial dengan Nyonya besar Mugel. Ia bahkan pernah mengaku jika dia sudah di jodohkan dengan Tuan Leon.
"Kau baik-baik saja?" ujar Robbin memecah sunyi karena sedari tadi Emily hanya terdiam sambil menatap bajunya yang terlihat basah.
__ADS_1
"Apa jika penampilanku sedikit lebih baik mereka akan menghargai ku?"
"Tidak semua orang harus terlihat berkelas untuk menjadi pujaan."
Emily menerima tisu yang di berikan Robbin dan menyeka air matanya yang menetes. "Aku hanya ingin menjalani semua ini dengan tenang, tanpa harus menyakiti atau di sakiti."
Suaranya tercegat, membayangkan hari-harinya tersiksa di penjara. Kemudian berakhir di dalam rumah megah penuh kemewahan namun tidak ada rasa kenyamanan di sana. Dan ketika ia sudah punya kekuatan dan ingin memulai sesuatu yang baru, kini rasa sial kembali menghantuinya. Kehidupan seolah tidak menginginkannya untuk hidup tenang dan bahagia.
"Nona..."
"Kau tahu Robbin, aku bahkan tidak memiliki hak atas diriku sendiri. Kehidupanku di atur oleh mereka." Emily menjedah ucapannya menatap sayup ke arah jendela yang menampilkan daun-daun yang bergoyang karena tiupan angin. Wanita itu meremas rok yang dipakainya, sesaat napasnya tertahan melawan isakkan. "Mereka yang katanya adalah keluarga. Namun, menyakiti tanpa henti."
Seketika Emily menangis setelah mengatakan beberapa kalimat menyedihka itu. Robbin yang kaget langsung melebur memeluk Emily. Mengelus bahunya dengan lembut menepuk-nepuk pelan di sana untuk menangkannya.
__ADS_1
"Ternyata, kau tidak seceriah yang ku lihat. Banyak beban dan kesedihan yang kau pendam di hatimu."