
Kendaraan roda empat itu melajut dengan kecepatan rata-rata menuju perusahaan Milik⁹ keluarga Mugel. Beberapa menit saja mereka sudah berada di gedung bertingkat itu. Supir menurunkan Emily dan Leon di depan pintu utama baru kemudian berputar memarkirkan mobil.
Emily dan Leon masuk secara bersamaan, itu mengundang perbincangan di antara para pegawai perusaahan. Mereka saling menatap bertanya-tanya siapa wanita yang berjalan di samping bos mereka. Gadis sederhana yang terlihat anggun itu memang tidak di kenal orang, mereka bahkan tidak tahu jika Bos mereka sudah menikah.
Tak ambil pusing dengan orang-orang yang melirik sinis padanya, Emily tetap mengangkat wajahnya tanpa ada rasa risih sama sekali. Ia yakin, jika mereka tahu siapa dia mulut mereka akan bungkam dan tidak berani menatap seperti itu lagi padanya.
"Selamat pagin Tuan." Sapa seorang satpam sambil melirik ke arah Emily. Ia sangat penasaran dengan wanita itu. Namun tidak berani bertanya kepada bosnya.
"Selamat pagi." Leon setelah itu tidak lagi mengatakan apa-apa dan langsung naik ke ruangannya.
Meskipun hanya ucapan selamat pagi yang pria itu katakan, Emily bisa merasakan jika karisma dan aura seorang atasan terpancar jelas pada diri seorang Leon. Dunia seolah-olah berada di bawah genggaman pria berwajah dingin itu.
__ADS_1
Emily menyadari tatapan penasaran satpam tersebut membalasnya dengan sedikit menunduk sambil tersenyum tipis. Setelahnya, ia buru-buru mengikuti Leon. Lelaki tinggi semampai itu bahkan tidak peduli dengan dirinya yang kerepotan mengejar langkahnya. Ia akhirnya hanya bisa berlari kecil untuk menyamai langkah Leon.
Napas Emily benar-benar tidak teratur karena Leon. Hari pertama dan pria itu sudah mulai menunjukkan keangkuhannya.
"Bisakah lain kali kau berjalan dengan pelan. Kaki panjangmu itu membuatku hampir mari karena kehabisan napas," ujarnya dengan mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
"Ini tempat bekerja Nona Burman, semua orang melakukan hal apapun dengan cepat."
"Dan lagi, aku benci pada orang yang tidak biss berbuat apa-apa tapi selalu mengeluh. Jika kau datang untuk bekerja maka lakukan sesuai yang aku inginkan. Namun, jika kau tidak menyukainya kau boleh berhenti dan kembali saja ke rumah."
Emily mendengar nada dingin pria itu dan terpancing dengan kata-katanya. Saat ini ia langsunv bertekad, bahwa ia harus melakukan yang terbaik agar kesombongan pria di depannya ini bisa ia patahkan.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti."
"Sebentar lagi aku aku harus mengahadiri rapat, Robbin akan menemanimu dan memberikan penjelasan tentang tugas-tugasmu. Dan ingat, jangan membantah apapun yang dia katakan."
Emily yang mendengar itu langsung mengeritkan wajah, ia menatap Robbin dengan hati-hati. Entah apa yang membuat Pria di depannya ini istimewah hingga seorang istri dari Leon Mugel tidak boleh membantah kata-kata darinya.
"Hallo Nona Emily. Perkenalkan aku sekretaris utama Tuan Leon, dan aku yang akan memberi perintah apa saja yang harus kau kerjakan sebagai seorang sisisten pribadi."
"Si, Tuan Robbin. Silahkan, katakan apa saja yang harus aku kerjakan hari ini."
"Kau bisa mulai dengan membersihkan ruangan ini, lalu rapikan berkas-berkas yang menumpuk di sana. Tuan Leon tidak suka jika ruangannya berantakan, jadi kerjakanlah sebelum ia kebali dari rapat," ujar Robbin.
__ADS_1
Emily menadang pria berjepala plontos itu dengan mulut terbuka. Ia tidak mengira jika tugas yang Robbin berikan padanya adalah tugas tidak penting yang seharusnya di lakukan oleh petugas kebersihan di kantor ini. Ia memandang tumpukan berkas itu dengan kesal, menggerutu dalam batin. Bahkan keluhan hatinya saat ini lebih banyak dari tumpukan kertas-kertas di hadapannya.