
Tidur Emily tidak nyaman malam ini, padahal ia kembali ke kamarnya. Kamar yang sama, tempat tidur yang sama, suasana yang sama, lalu kenapa dia tidak bisa tidur. Emily bahkan memimpikan bagaimana Leon menyentuhnya di malam pertama mereka nanti. "Uaaaaahhh! Apa yang terjadi padaku, kenapa aku terus memikirkan pria kaku itu."
Dada Emily tiba-tiba menjadi sesak. Ia mengingat kembali saat Oliver mengatakan juka dia harus tetap bersama Leon karena pria kecil itu adalah tunangannya, dan sekarang benar, jika mereka akan menikah. "Ah, sudahlah. lagi pula dia tunanganku, untuk apa merasa canggung. Seharusnya aku bersyukur karena tidak harus menderita melihat dia bersama wanita lain."
Emily berusaha bangun dari mimpinya, menekan ke dalam hatinya bahwa ini adalah takdir. Saat hendak menutup mata, terdengar ketukan di pintu dan seorang pelan masuk memberi salam. Emily mengerutkan kening menatap pelayan itu dengan bingung.
"Ini masih tengah malam, untuk apa dia datang ke kamarku dan memberi salam," gadis lugu itu membatin di dalam hati.
"Maaf Señorita, anda harus bersiap-siap. Tuan besar menyuruhku membantu anda untuk bersiap."
"Tunggu!" Emily menyipitkan matanya menatap pelayan wanita itu. "Bukankah ini masih tengah malam? Lalu untuk apa aku harus bersiap. Aku baru saja akan tidur."
"Maaf Señorita, tapi ini sudah pukul 6 pagi," ujar pelayan itu menaikan alis meminta Emily untuk melihat jam dinding di kamarnya.
"Oh Dios! Apa aku tidak salah melihat, padahal aku baru saja mau tidur." Wajah Emily sangat muram, dia tidak sadar jika mimpi buruknya terlalu panjang hingga pagi yang datang pun tidak ia sadari. "Baiklah, aku akan segera mandi. Tunggulah di luar aku akan memanggilmu."
"Si, Señorita."
__ADS_1
Dengan cepat Emily menyelesaikan mandi dan memanggil pelayan itu untuk mulai bersiap. Pagi ini, mereka akan melangsungkan pernikahan sederhana dan Emily harus siap dengan baju pengantinnya.
"Maaf, Joya. Namamu Joya bukan?"
"Si, Señorita. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"
Emily menggeleng dengan tersenyum tipis. "Aku hanya ingin bertanya, bukankah pernikahannya hanya sederhana? Lalu kenapa aku harus memakai baju mahal dan se-mewah ini." Emily berdiri di depan kaca, menatap lekuk tubuh yang sangat sempurna di balik gaun mewah yang ia kenakan.
"Saya tidak tahu Señorita, Tuan besar hanya memerintahkanku untuk membantumu mengenakan gaun ini. Dan lihatlah kau tampak sangat cantik."
"Omong-omong, di mana Melisa, aku sama sekali tidak melihatnya saat datang kemarin."
"Apa?" Mata cokelat Emily membulat sempurna karena kaget dengan yang di jelaskan Joya. Mansion Selatan berdekatan dengan Mansion milik Saina, jika mereka pindah ke sana artinya setiap hari dia harus melihat wanita rubah itu. "Siapa yang mengatakan jika kita akan pindah ke sana?"
Joya sedikit menunduk. "Mansion selatan adalah milik Tuan muda Leon, bukankah seharusnya Nona dan Tuan mudah pindah ke sana."
"Aku tidak pernah tahu jika Mansion itu milik Leon, dia dan Daddy juga tidak pernah mengatakan tentang Mansion selatan."
__ADS_1
"Tentu saja Señorita, itu adalah pemberian Nyonya besar sebelum beliau meninggalkan Mansion utama saat berpisah dulu."
Emily mengangkat satu alisnya, menatap fokus kepada Joya. "Kau cukup tahu banyak tentang keluarga Mugel."
Joya tersenyum malu. "Ibuku adalah pelayan Nyonya besar, dia selalu menemani Nyonya Saina selama berada di Mansion utama, tentu saja aku akan tahu dari ceritanya. Beliau banyak bercerita sebelum mengirimku masuk ke Mansion ini."
"Ibumu sudah tidak bekerja lagi?"
"Si, Señorita."
Emily mengangguk tanda mengerti. Sedetik setelahnya pintu kamarnya di ketuk. Melisa masuk dengan senyum mengembang di bibirnya. Begitupun dengan Emily, kaget dengan kehadiran Melisa, gadis 20 tahun itu berlari kecil menyambut Melisa dengan pelukan singkat.
"Señorita, sudah waktunya anda turun. Semua sudah menunggumu di bawah."
"Melisa, aku sangat gugup."
"Tenanglah, ini adalah takdirmu. Hadapi dengan lapang hati dan juga." Melisa mengelus lembut jemari Emily yang sedikit gemetar. "Ini adalah jalan terbaik untukmu, kau bebas tanpa harus menghabiskan 6 tahun masa kurunganmu. Berterima kasihlah kepada Tuan Romario karena beliau sudah sangat berusaha untuk membuatmu bebas. Dan kau tahu cara untuk membalas kebaikan Tuan besar."
__ADS_1
"Tapi Melisa, mereka hanya ingin memanfaatkan ketidak berdayaanku saja."
Kepala pelayan itu menggeleng pelan. "Percayalah, Tuan melakukan semua ini untuk kebaikanmu dan juga Tuan muda Leon."