
Hari masih siang dan Emily memutuskan untuk keluar Mansion di banding harus melihat wajah Leon. Sejak Leon sadar, Romario sudah tidak lagi menahan Emily. Gadis itu bisa bebas melakukan apapun sejak pagi tadi termasuk siang ini, dengan mudahnya dia mendapatkan ijin untuk keluar mansion tanpa pengawalan ataupun sopir pribadi.
Sebenarnya bisa saja Emily keluar dengan sopir pribadi keluarga Mugel. Namun, ia memilih tidak karena siang ini Emily berniat untuk kembali ke rumah lamanya dan melihat apakah pria yang membeli rumahnya itu masih di sana atau sudah pergi. Dia harus memastikan orang seperti apa yang membeli rumahnya sebelum balik menyerang bibi Catalina dan merebut rumahnya kembali.
Emily sampai dan langsung membunyikan bel. Namun, sepertinya si pemilik baru itu tidak ada. Sedikit gelisah, Emily malah mengira-ngira jangan-jangan pria itu sudah membatalkan pembelian rumahnya hingga tidak ada yang membuka pintu padanya. Atau pilihan yang tidak di inginkan adalah, mungkin saja pria itu sedang beraktivitas di luar. Akan tetapi sudah hampir dua jam gadis itu menunggu, tidak ada sama sekali tanda-tanda jika pria pembeli itu akan kembali.
__ADS_1
"Dimana pria itu, aku sudah sangat lapar dan hari sudah mulai sore, aku harus kembali ke Mansion sebelum pria menyebalkan itu mengira jika aku melarikan diri."
Dengan langkah ragu-ragu, gadis itu meninggalkan pekarangan rumah dan masuk ke dalam taksi yang ia pesan. Sebelum benar-benar meninggalkan rumahnya Emily sempat memanjatkan dia semoga ia bisa mendapatkan kembali rumah peninggalan kedua orang tuanya itu. Jika saja dia memiliki banyak uang, mungkin tidak butuh waktu lama untuk mengambilnya kembali. Dia bisa saja meminta pertolongan kepada Romario, tetapi takutnya akan ada yang mengira jika dia ingin meninggalkan keluarga Mugel. Jadi, mau tidak mau dia harus berusaha sendiri. Sejenak, dia berfikir pria asing bermata dingin itu bisa membantunya. Namun, saat Leon sadar, semua pikiran tentang pria itu menghilang. Dan berharap malam-malamnya nanti tidak akan di ganggu oleh pria asing itu lagi.
"Dari mana saja kau?" Suara berat itu tiba-tiba terdengar saat Emily baru saja akan melangkah masuk.
__ADS_1
Kening Leon terangkat, menatap pada gadia yang baru saja membuang dirinya di atas sofa empuk yang ada di dekat jendela balkon. "Kau adalah istriku, aku berhak bertanya ke mana kau pergi."
Emily menoleh dengan tatapan datar, sedatar nada suaranya. "Ku pikir kau tidak menginginkannya," ucapnya menatap lekat manik di depannya.
"Itu karena--" Leon menjedah ucapannya karena tidak punya jawaban yang pas saat ini. Rasa canggung jika dia tiba-tiba mengatakan merasa terganggu jika Emily keluar tanpa memberitahunya. "Sudahlah, Daddy menunggu kita untuk makan malam bersama. Bersihkan dirimu dan ikutlah ke ruang makan."
__ADS_1
"Si," jawab Emily pasrah. Ia beringsut dari sofa menuju kamar mandi setelah Leon keluar dari kamar untuk lebih dulu menuju ruang makan.
"Apa yang terjadi padaku barusan. Kenapa aku terlihat seperti seorang suami yang merisaukan istrinya. Oh God!" Leon menggelengkan kepala tidak ingin membayangkan kemungkinan itu. Dia dan Emily hanya akan pura-pura menjadi suami istri selama dia belum mendapatkan cara, bagaimana agar pernikahan itu di batalkan. Tidak akan ada kemungkinan sekecil apapun untuk keduanya saling menyukai. Apalagi saling mengkhawatirkan.