Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 18


__ADS_3

Emily terbangun di pagi hari saat seorang pelayan mengetuk dari luar. Ketukan itu cukup keras, hingga terdengar sangat bising. "Siapa itu, bisakah dia mengetuk dengan lebih pelan."


"Señoerita, bagaimana bisa anda terlambat bangun. Semua orang sudah menunggumu di bawa."


Mata Emily membulat, sangat tidak sopannya pelayan ini tiba-tiba datang dan membentaknya. "Apa kau pelayan baru? Aku sudah cukup lama di sini. Namun, baru kali ini aku melihat seorang pelayan yang tidak sopan sepertimu."


Pelayan itu menaikan sudut bibirnya. "Aku adalah pelayan Nyonya besar, tentu saja kau tidak pernah melihatku. Cepatlah, Nyonya Saina sudah marah-marah karena harus menunggumu untuk sarapan."


Emily menatap datar kepada pelayan Saina. "Si, aku segera turun."


Setelah bersiap, Emily turun dan di sambut senyum kecut dari ibu Leon. Saina dari dulu memang tidak menyukai Emily. Meski sudah lama berpisah dengan Daddy Romario. Namun, hubungan kedua orang tuan Leon masih sangat baik. Keduanya sepakat untuk merawat Leon bersama-sama.


"Buenos días," Sapa Emily dengan sopan.


"Buenos días, Nona Emily. Apa kau sudah lupa jam sarapan pagi di rumah ini?"

__ADS_1


"Si, aku minta maaf sudah membuat kalian menunggu."


"Sudahlah! Ayo duduk," potong Romario. Jika tidak Saina akan terus memojokan Emily dengan kata-katanya yang tajam. "Bagaimana tidurmu, apa nyenyak?"


"Si, Daddy."


Saat sendok pertama hendak ia masukan, suara pelayan yang tidak sopan itu mengejutkan semua orang. "Nyonya! Tuan! Kemarilah, Lengan Tuan muda terluka!"


Orang pertama yang meninggalkan ruang makan adalah Saian, di ikuti oleh Romario dan dan beberapa pelayan yang terlihat panik.


"Sepertinya, tuan muda di cakar."


Emily berlari menaiki tangga dengan cepat dan sampai di kamar Leon. Namun sebelum sempat melihat bagaimana luka cakaran itu, satu tamparan sudah mendarat di pipinya. Suara tamparan itu begitu keras hingga Romario yang sedang berada di sisi ranjang kaget dan langsung menahan Saina.


"Apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa merawatnya dengan baik. Bagaimana bisa ada luka gores di tangan putraku," teriak Saina dengan keras. Wanita tua itu menatap Emily seperti menatap musuhnya. Tatapan mata yang dalam dan penuh dengan kebencian.


"Saina!" Romario berteriak tidak kalah keras dari suara Saina. "Berhenti menyalahkannya, seharian kemarain dia sangat menjaga Leon, apa yang kau lakukan dengan menamparnya."


"Menjaga?" Saina membalikkan pandangan menatap ke arah Romario. "Ini yang kau bilang menjaga!" Ia mengangkat lengan Leon yang terdapat luka gores itu memperlihatkannya kepada Romario.


Emily ikut menoleh pada luka gores itu. Karena terkejut, ia langsung melangkah ke depan mendekati Leon. "Tidak mungkin, aku benar-benar bersumpah jika sejak kemarin lengan Leon baik-baik saja, tidak ada goresan apapun. Kenapa sekarang tiba-tiba ada."


"Lalu kau pikir, aku yang menggoresnya? Huh!"


"Bukan itu maksudku tante Saina. Tapi .... Ini sangat aneh."


"Kau memiliki tanggung jawab untuk merawat Leon, dan sekarang kau malah sama sekali tidak tahu jika dia terluka. Baru satu hari saja sudah seperti ini, lalu bagaimana bisa aku mempercayakan anak ku seumur hidup padamu."


"Saina, sudahlah. Kita juga tidak tahu kenapa Leon terluka, tanyakan dengan pelan. Kau membuatnya takut," ujar Romario menenangkan mantan istrinya yang terus saja berteriak dari tadi.

__ADS_1


"Bukan aku, aku tidak mungkin melukainya. Daddy, percayalah! Aku benar-benar tidak tahu dengan goresan itu." Emily terus berfikir, bagaimana bisa luka itu ada sedangkan pria ini terus tidur. Apa dia bangun dan mencakarnya sendiri? Atau .... Emily kembali mengingat kejadian semalam.


"Ini tidak mungkin!"


__ADS_2