
Emily kembali ke kamar setelah mengobrol panjang bersama Melisa dan Joya. Saat memasuki kamar, ruangan besar itu terlihat sangat gelap. Rasa takut menyelumuti Emily, tiba-tiba dia mengingat mata dingin yang selalu mendatanginya di dalam gelap. Emily gemetar, ia menutup pintu dengan cepat dan berlari mendekati Leon yang sudah terlelap. Namun, sagang. Sebelum ia mendekat tangan kekar yang entah sudah berapa lama dia mengendap di dalam kamarnya itu menariknya dengan kasar.
"Agh ...." Emily merigis saat cakaran itu menekan kulit tangannya.
"Kenapa? Apa karena suami cacatmu itu sudah kembali sadar lalu kau jadi melupakan aku?"
"Tolong, jangan seperti ini. Aku sama sekali tidak mengenalmu, bahkan wajahmu saja aku tidak tahu. Lalu untuk apa aku memikirkanmu."
"Benarkah?" Pria bermata dingin itu menyeringai.
"Benar atau tidak itu tidaklah penting bagiku. Lepaskan tanganku dan pergilah dari sini, Leon ada di sini apa kau tidak takut jika dia bangun dan menghajar mu? Kau pria aneh, entah dari mana kau tiba-tiba datang dan terus mengangguku."
"Kau pria aneh ini datang untuk menyelamatanku Emily, aku tidak menggangguku tapi keluarga Mugel yang terus memanfaatkanmu."
"Cukup!" Emily bergeliat, meronta agar pria itu melepaskan genggaman tangannya. Leon ada di sini, bagaimana kalau tiba-tiba dia bangun dan melihat ini. "Lepaskan aku dan enyahlah, kalau tidak aku akan berteriak dan seisi Mansion akan tahu siapa kau. Setelah mereka tahu, kau tidak akan keluar hidup-hidup dari sini."
__ADS_1
"Lakukanlah, berteriaklah sesuka hatimu. Jika ada yang datang, maka aku akan katakan jika aku adalah kekasihmu yang setiap malamnya datang untuk menidurimu."
Bibir Emily seakan di kunci oleh kalimat itu, hingga ia tidak bisa untuk mengatakan sepatah katapun. Ia di kelilingi oleh perasaan cemas dan juga takut. Siapa yang bisa menyelamatkannya jika itu benar-benar terjadi, Romario akan mengusirnya dan Saina ada menyeretnya masuk ke dalam penjara. Dan yang lebih menyakitkannya lagi Leo, tidak akan peduli dengan semua yang terjadi padanya. Pria itu justru akan senang karena tidak ada lagi istri menyedihkan seperti dirinya.
"Kenapa kau diam, apa kau takut nona Emily."
"Hentikan! sudah cukup." Emily pura-pura menarik tangannya agar langkahnya bisa mundur. Jarak antara Ranjang hanya menempuh 2 langkah, jika dia bisa menggapai Leon mungkin pria itu akan bangun dan pria bermata dingin ini akan menghilang. Lain halnya jika ia berteriak, malah se isi Mansion akan datang dan dia akan di hina habis-habisan karena ada seorang pria bersamanya.
"Kau tidak akan terlepas semudah itu Nona Emily." Pria itu meraih pinggang Emily mendekatkannya ke dalam dekapannya. Tangan yang hampir daja meraih tubuh Leon sekarang semakin jauh.
"Aku mohon, hentikan sandiwara ini dan pergilah!" teriak Emily yang tidak sadar sudah membangunkan Leon. Emily merasakan Pria itu bergerak. Namun, tidak bersuara. Padahal Emily berharap jika Leon akan bersuara dan mengomelinya seperti biasa.
"Jaga bicaramu, aku tidak mengenalmu untuk apa menggatakan kata menjijikan seperti itu padaku."
Terlihat senyum di ujung bibir pria itu. "Jadi bagaimana, apa kau ingin membuat kesepakatan denganku? Kebebasan akan menjadi milikmu jika kau mau berbagi ranjang denganku."
__ADS_1
Mata Emily membulat, kalimat berbagi ranjang membuat tubuh itu bergetar hebat. Dia bahkan belum melakukannya dengan Leon, dan sekarang pria asing yang sama sekali tidak dia kenal meminta untuk melakukannya. Entah pilihan apa yang harus dia pilih, tetap bersama Leon dengan penderitaan yang nyata ataukah bersama pria asing dan mendapatkan kebebasan. Saat rasa pasrah di dalam dirinya bergejolak, tiba-tiba saja suara ketukan pintu mengagetkannya.
"Leon! Emily! Apa kalian baik-baik saja?"
"Daddy!" Ternyata suara teriakan Emily di dengar oleh Romario. Ada sedikit keraguan, bagaimana bisa Romario yang berada di lantai bawah bisa datang sedangkan Leon yang tertidur di sampingnya hanya sedikit bergerak.
Suara ketukan itu kembali terdengar, dan pria asing itu akhirnya melepaskan Emily "Aku akan kembali lagi, ingat! Saat hari itu tiba, kau harus memutuskan pilihan mana yang akan kau pilih. Karena jika kau menundanya lagi, maka aku tidak akan menjamin keselamatanmu jika keluarga Mugel mengetahui keberadaanku."
Begitu pria asing itu menghilang di balik kegelapan, tubuh gemetar Emily tidak bisa menahan untuk menapak. Ia tersungkur ke lantai dengan air mata. "Keadaan apa ini, kenapa aku terus mengalami hal menyedihkan seperti ini."
Kesunyian tercipta, Romario tidak lagi mengetuk dan tidak ada lagi hawa dari tatapan dingin itu. Emily beringsut dari lantai menuju sofa di mana ia sering mendengar kicauan burung dari sana. Meringkuk dalam kegelapan dan dinginnya udara musim dingin yang membuatnya hampir membeku. Gadis itu menutup mata mencoba terlelap meski bulir bening terus keluar dari sana.
*
*
__ADS_1
Hay gays aku pengen ngasih tahu, kalau karya ku dengan judul ini, bakal aku up kembali dari awal yah. Nggak sengaja ketekan hapus jadinya akan up baru. Jangan lupa mampir di sana lagi yah. 🙏