Ruang Kekayaan Milik Saga

Ruang Kekayaan Milik Saga
Chapter 103. Pernikahan Merah part II


__ADS_3

...Chapter 103. Pernikahan Merah part II...


Saat Saga dan semua teman-temannya sedang berada didalam kondisi yang mendesak yang dimana Andreas mengunci seluruh tamu dan menodongkan senjata kepada semua tamu termasuk Raya dan Rizal mereka pun tertangkap.


Semua kejadian itu berdasarkan permainan poker yang dijalan kan Saga, Andreas dan ketiga pemain lainnya. Didalam permainan itu, Saga seorang diri dan dia menduga ada permainan curang di permainan itu meski begitu, Saga harus menang permainan kalau tidak akan banyak orang yang akan menjadi korbannya.


Bahkan Saga tidak menyangka bahwa Andreas mampu menyakiti putri dan istrinya sendiri.


"Cihh ... sungguh tidak aku duga. Sosok Andreas Prima yang sayang dengan keluarga ternyata hanya cover belaka."


Andreas mengelengkan kepala disertai jari telunjuk yang mengkodekan tidak, "Mereka adalah bidak kesayangan. Tidak mungkin, aku akan menyakitinya tapi, jika mereka berkhianat maka ya aku harus musnahkan. Salah satunya dirimu! Aku pikir kamu pria yang polos ternyata dengan dinginnya kamu membunuh iparku dan mengambil percobaan ku yang berharga."


"Apa?!"


Sesaat kemudian, bandar memotong untuk melanjutkan permainan. Lalu, mereka pun bermain kembali.


Di Menara Imperium sedang terjadi kerusuhan yang dimana para pria bermasker menebas asal semua orang disana bahkan penjaga keamanan sudah menjadi korban mereka. Dina yang melihat itu bergegas merapihkan barang-barang yang penting kedalam ransel lalu, dia mengenakan jaket dan topi juga pisau cater untuk membela diri.


Sebelum Dina keluar, dia beberapa kali menghela nafas untuk menenangkan pikirannya lalu, dia pun mulai melangkah keluar.


Ketika Dina keluar pintu, dirinya langsung disambut oleh para preman dan mendorong Dina hingga dirinya terjatuh.


Preman itu memutarkan golok yang dipegang lalu, dia tidak segan-segan untuk mengayunkan goloknya kearah Dina.


"Ashh ... sialan!" Gumam Dina seraya menahan serangan dengan tas nya. Lalu, Dina menendang kaki preman dan memukulnya karena tas itu berisikan laptop hingga mampu membuat preman itu pingsan.


Krekkk!


Suara gesekan besi terdengar oleh Dina dan saat menoleh. Dia pun melihat preman yang sedang menodongkan senjata.


Dina pun menjadi terdiam tapi tiba-tiba, Boim menyerang secara brutal kepada preman.


"Jangan sakiti pacarku!" teriak Boim yang menyerang asal.


Satu preman berhasil jatuh tapi satu preman lagi menembakan melesatkan peluru nya.


Dor!


Sebuah peluruh melesat ke tubuh Boim yang membuat dirinya terjatuh dan bergeram kesakitan.


"Boimm!" teriak Dina sambil menitihkan air matanya.


Melihat keberanian Boim dan kesakitan nya, Dina pun memutuskan untuk berdiri dan menyerang preman. Preman itu pun juga langsung menodongkan pistol nya dan saat ingin melesatkan pelurunya. Preman itu terkejut oleh sebuah asap hitam aneh bersamaan dengan badai didalam asap itu.


Dina yang ingin menyerang pun jadi terhenti dikarenakan adanya hawa aneh dibelakang nya maka, dia juga melihat kebelakang dan terkejut juga.


"Apa ini?"

__ADS_1


Tidak lama kemudian, sosok makhluk hijau setinggi 2 meter dengan berbadan tegap dan berotot keluar dari asap itu dan langkahnya membuat getaran yang dashyat.


"Gwuaaaa!" teriak monster itu dan monster itu pun berlari menyerang preman dan mencabik-cabik nya.


Dina yang melihat monster itu sontak ketakutan dan menundukan kepalanya dalam pikiran dirinya juga akan diserang namun, itu tidak terjadi suara langkah monster menjauh maka dari itu, Dina memberanikan menegapkan kepalanya dan melihat sekitarnya yang dimana monster sudah tidak ada didekatnya.


Dina pun tidak mempedulikan itu dan langsung menghampiri Boim.


"Boimm, sadarlah!" seru Dina sambil menitihkan air matanya dan memegang tangan Boim.


Boim yang sudah berlumuran darah mengumpulkan tenaga nya dan membuka mata.


"Din, ini sebe .. nar.. nya Ak .. u ... ci ...nta pada... mu. Mau.. kah ... men.. jadi ... pa ... car ... ku?!" ucap pelan Boim yang sudah terbata-bata dan muntah darah.


"Asal kamu selamat. Aku menerimanya."


"Teri ... ma ... ka... sih!"


Dina dan Boim pun saling bertukar senyum.


Tidak lama kemudian, dari asap hitam keluar sosok berarmor penuh hitam bersama dengan beberapa robot keluar juga.


"Permisi, Nona. Saya akan memeriksa nya."


Dua robot pun menarik Dina yang membuat nya kesal.


"Lepaskan gua! Siapa kalian?! Lepas kan!"


"Dia masih bisa tertolong!"


Pria armor hitam itu mengeluarkan potion dan meminumkannya kepada Boim.


Dina yang melihat itu, dia pun menjadi tambah kesal. "Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan Dia!"


Sesaat potion itu di minumkan nya, luka yang ada didalam tubuh Boim pulih serta peluru yang tertanam ditubuh Boim juga keluar dengan sendirinya.


Pria hitam pun berdiri dan memegang telinganya.


"Disini Avicenna, para goblin. Bagaimana disana?"


Salah satu Makhluk hijau atau goblin yang mengunakan earphone menjawab. "Musuh semua telah dikalahkan."


"Kembali ke Chamber!"


"Baik!"


Beberapa saat kemudian, para goblin membuka gerbang hitam dan masuk kedalam nya.

__ADS_1


"Kita juga kembali! dan Aktifkan Memory Boom!"


"Baik!" jawab Robot.


Setelah itu, kedua robot melepaskan Dina dan melangkah kembali ke gerbang lalu, menaruh sebuah tabung kecil di lantai dan mereka pun pergi.


Sesaat kemudian, bom itu meledakan sinar putih yang membuat Dina pingsan.



Ditempat Chamber, orang-orang yang dikirim oleh Andreas sudah terkapar ditanah dan berlumuran darah yang dimana ada Date Masamune yang sedang berdiri tegak dengan katana yang sudah meneteskan darah.


"Hahahaha ... begini kah kekuatan bumi?!" sindir Date kepada salah satu pasukan Andreas yang masih selamat.


"Dasar Monster!" seru pasukan selamat. Lalu, dia pun melesatkan tembakan beruntun dengan senjata MP nya.


Dor!Dor! Dor!


Setelah melesatkan peluru sampai habis pria itu melemparkan Bom.


Boom!


Ledakan pun tepat mengenai Date yang membuat pria itu tersenyum.


"Rasakan itu Monster!"


"Yare, Yare. Segitu saja bangga!" suara Date dari balik asap tebal.


"Apa?! bagaimana bisa!" gumam pasukan Andreas yang mundur beberapa langkah.


"Sekarang, matilah!" seru Date yang langsung melesatkan serangan dan membuat leher pria padukan Andreas tertebas. Sesudah itu, Andreas melihat keatas, "Operator, penyusup telah dihabisi."


"Dimengerti! Good Job!" jawab Operator.


Kabar itu sampai kepada Aritoteles yang saat itu bersama dengan Tanya dan Agitta.


"Nona Tanya, Nona Agitta. Semua musuh telah di lumpuhkan," ucap Aritoteles.


"Syukurlah," ucap serempak Agitta dan Tanya yang saling menatap dan tersenyum.


"Bagaimana dengan menara Imperium?" ucap khawatir Tanya.


"Semua telah di obati oleh Avicenna dan tim nya. Mereka telah selamat."


Tanya pun menghela nafas lega dan tersenyum.


"Ini semua berkat kemampuan dari Nona Tanya. Terimakasih," ucap Aritoteles yang menunduk kepalanya.

__ADS_1


"Bukan, ini karena Mas Saga. Aku hanya membantu," ucap Tanya sambil mengelus-elus cincin yang dikenakannya.


Ditempat yang berbeda juga, Saga mendapatkan pesan dari Operator di ponselnya bahwa semua penyusup telah dilumpuhkan. Saga pun tersenyum dan melanjutkan permainan nya.


__ADS_2