
Chapter 49. Fried Chicken
Hari berganti, Saga kembali bekerja di Chamber dan disana, Saga melaporkan segala kejadian di hari weekend.
Saga pun mendapatkan koreksi dibeberapa aspek dari Aritoteles dan Date Masamune. Saga pun mengerti tentang beberapa kesalahannya.
Setelah itu, Saga pergi menuju kota untuk memeriksakan keadaan panti asuhan disana dan setibanya disana, Saga disuguhi oleh suara gemuruh anak-anak yang sedang berebut makanan dan lari kesana-kemari yang membuat para pelayan putri Agitta kewalahan untuk mengurus anak-anak.
Saga yang melihat itu, dia tersenyum dan mengingat saat dirinya masih kecil di panti asuhan.
Kesadaran Saga pun pudar oleh beberapa anak yang menghampiri Saga dengan gembira.
"Tuan Saga ..."
Saga pun menyambut mereka serta menyamakan ketinggian dengan jongkok. Sedang, para pelayan yang mengejar anak-anak menghentikan langkahnya dan membungkukkan badan. Saga pun hanya memberikan senyuman dan anggukan kepala kepada para pelayan.
Lalu, pandangan kembali kepada anak-anak dan mengelus kepala salah satu anak disana.
"Halo semua, bagaimana kabar kalian?" tanya Saga.
"Sangat baikk."
"Tuan Saga kapan kita main lagi?"
"Tuan Saga, aku ingin makan kue."
....
Berbagai pertanyaan terus dilontarkan oleh anak-anak namun, Saga hanya menjawab seadanya dan memberikan senyuman selain itu, Saga juga memberikan coklat yang membuat anak-anak menjadi senang dan meninggalkan Saga.
Sesudah itu, Saga berdiri dan mencari sosok Agitta yang dimana, dia sedang membujuk seorang anak disana yang tidak mau makan.
__ADS_1
"Ayo, sayang makan! Aaa ..." bujuk Agitta sambil menyuapkan sesendok makanan namun, anak itu tidak mau membuka mulutnya. "Nanti kamu sakit!" sambung bujuk Agitta. Anak itu tetap bersikukuh untuk membuka mulutnya dan mengelengkan kepalanya.
Melihat Agitta, Saga terpikir sesuatu yang mungkin bisa membantunya. Lalu, Saga pun menghampiri Agitta.
"Hei, selamat pagi, Putri Agitta!" sapa Saga.
Agitta yang mendengar itu, dia menghentikan aktifitasnya dan beranjak dari kursi untuk memberikan salam kepada Saga dengan membungkukkan sedikit badan dan menarik sedikit gaunnya.
"Selamat pagi, Tuan Saga. Senang bertemu dengan anda kembali!" sambut Agitta.
Melihat sambutan yang begitu formal, Saga pun membangunnya dengan memegang kedua bahunya, "Putri Agitta, anda tidak harus bersikap formal seperti ini."
Agitta yang dibangun oleh Saga membuatnya terdiam kaku dengan tatapan Saga yang begitu dekat dengan wajahnya. Sampai-sampai, wajah Agitta yang begitu putih glowing menjadi merah muda.
Saga hanya tersenyum melihat nya dan Agitta sendiri masih terdiam meski badannya sudah tegak kembali.
"Putri Agitta, ada apa? kamu sakit?" tanya Saga.
Setelah menyapa Agitta, Saga beralih pandang ke anak yang tidak mau makan.
"Hei, nak. Kenapa kamu tidak mau makan?" tanya Saga.
Anak itu masih terdiam dan mengelengkan kepalanya.
"Bagaimana kakak masakan fried chicken?" tanya Saga.
"Fried chicken? apa itu?" tanya heran Saga.
Saga pun melihat Agitta, "Aku akan tunjukan kepadamu," ucap Saga.
Agitta pun menjadi penasaran dengan makanan yang dimaksud oleh Saga. Maka dari itu, dia mengikuti Saga ke dapur.
__ADS_1
Di dunia lain nama makanan berbeda dibandingkan bumi seperti ayam di dunia lain bernama Otori sedangkan, tepung bernama Teo serta beberapa bahan lainnya.
Meski mengunakan bahasa dunia lain, Saga pun mengerti dan memulai memasak ayam tepung.
Agitta yang melihat itu, dia terkagum-kagum. Mungkin, memang ayam tepung tidak ada di dunia lain.
Sambil menunggu ayam garing, Saga membuat saus sendiri serta beberapa lalapan.
Kemampuan Saga dalam memasak sudah tidak perlu dipertanyakan yang dimana Saga sudah bisa memasak diumur 11 tahun. Bahkan, Saga memasak bukan untuk dirinya sendiri melainkan semua penghuni panti Asuhan.
Seusai membuat saus dan lalap, Saga memeriksa kembali ayam yang terendam minyak panas yang ternyata ayam sudah garing bahkan sudah mengeluarkan aroma sedap yang membuat beberapa anak mengintip Saga dan Agitta yang sedang masak.
Saga dan Agitta pun menyadari tatapan anak-anak dan menatap kembali mereka. Anak-anak itu pun langsung berlari karena malu.
Tingkah mereka membuat Saga dan Agitta tertawa kecil dan saling bertukar senyum.
Selang tidak lama, ayam pun matang. Saga mempersiapkan ayamnya diatas piring beserta saus dan lalapan.
"Wuaahhh, sepertinya enak!" ucap Agitta sambil melihat ayam tepung yang sudah ada di piring.
"Ayo kita bawa ke ruang makan dan makan bersama!" seru Saga.
Agitta pun begitu semangat menganggukan kepala nya seperti anak kecil. Hal itu membuat saga tersenyum.
Lalu, Saga dan Agitta membawa ayam goreng tepung dan disajikan kepada anak-anak. Seperti yang diduga Saga, anak-anak sangat menyukai nya bahkan anak yang sebelumnya tidak mau makan menjadi sangat lahap memakan nya.
Begitu Agitta, dia mengambil sepotong dan menyantapnya dengan berlahan.
"Hmmm ... enak sekali! Tuan Saga, Anda memang pintar masak," ucap Agitta sambil mengunyah ayam goreng.
"Terima kasih," jawab Saga seraya senyuman kepada Agitta.
__ADS_1
Saga pun senang melihat Agitta dan anak-anak panti menyukai masakannya.